![]() |
| Ustadz Adi Hidayat (Foto: Istimewa) |
Lampungonline — Pawang hujan menjadi pembicaraan yang ramai di masyarakat, baik di media sosial maupun kehidupan nyata.
Hal ini karena aksi pawang hujan Rara Istiati Wulandari di pagelaran MotoGP Mandalika, Lombok, NTB, Minggu (20/3/2022).
Aksi pawang hujan ini memunculkan pro kontra. Ada yang tegas menyebut ini bagian dari praktik syirik.
Namun ada yang menganggap ini adalah bagian dari tradisi lokal.
Komentar minor tentang syirik ini lebih banyak terkait dengan persoalan adanya sesajen maupun bakar dupa dalam aksi pawang hujan.
Lalu apakah dalam Islam mengajarkan cara meminta memindahkan hujan? Bagaimana praktik pawang hujan dalam Islam?.
Dalam unggahan Video Kajian Ustadz Adi Hidayat di akun Adi Hidayat Official, dijelaskan tentang bagaimana cara meminta kepada Allah SWT, bila terjadi hujan deras saat melakukan aktivitas yang positif.
“Di sini diajarkan cara memohon pada Allah agar memalingkan hujannya ke tempat yang lain,” kata UAH, dilansir dari Republika pada Selasa (22/3/2022).
UAH membacakan Hadits Nabi tentang seseorang yang meminta pada Rasulullah, agar berdoa kepada Allah untuk memalingkan hujan ke tempat lain, sehingga di tempatnya berhenti hujan.
"Lalu Rasulullah berdoa, Allahuma hawalaina wala alaina, yang artinya, Ya Allah mohon alihkan hujan ini ke tempat lain sesuai kehendak-Mu. Doa ini dibaca tiga kali," jelas UAH.
Bagi orang Islam, ini adalah doanya. UAH meminta agar tidak menyimpang, menggunakan perangkat lain yang justru bertentangan dengan Al Qur'an maupun hadits.
Ustadz Abdul Somad dan Buya Yahya dengan tegas mengatakan, memindahkan hujan menggunakan jasa pawang hujan adalah haram hukumnya.(*)
