| Foto: dok. Tribunlampung |
Lampungonline, Tulang Bawang Barat - Bentrokan berdarah antara warga dan petugas keamanan perkebunan PT Huma Indah Mekar (HIM) milik pengusaha nasional asal Lampung, Aburizal Bakrie, terjadi di Tiyuh Penumangan Kabupaten Tulangbawang Barat (Tubaba), Lampung, Rabu (02/03/2022) sore
Namun, petugas kepolisian dari Polres Tubaba dan unsur Brimob Polda Lampung dapat meredam konflik.
Kapolres Tubaba AKBP Sunhot P Silalahi, memastikan, saat ini kondisi di lokasi kericuhan kemarin sudah kondusif.
Kapolres mengatakan, pihaknya telah melakukan penyekatan di beberapa titik menuju areal PT HIM untuk mencegah terjadinya kericuhan susulan.
Sebanyak satu peleton petugas dari Polres Tubaba yang berjumlah 70 orang masih di turunkan untuk mengamankan situasi.
"Situasi kondusif. Selain pengamanan di lokasi, kita juga melakukan pendekatan persuasif kepada warga dan tokoh-tokoh masyarakat," ujar kapolres, Kamis (03/03/2022) pagi.
Menurutnya, kericuhan itu dipicu adanya laporan dari petugas keamanan PT HIM ke Polres Tubaba, yang melaporkan adanya aksi penebangan pohon karet di areal PT HIM.
"Salah satu warga kemudian kita panggil untuk dimintai keterangan terkait aksi penebangan itu. Warga lainnya keberatan, kemudian mendatangi pos Satpam PT HIM. Dari situlah kericuhan terjadi," jelas kapolres, dilansir Tribunlampung.
Dia meminta masyarakat untuk menahan emosi guna menghindari meluasnya kericuhan.
Kapolres berjanji akan memproses aksi pemukulan warga yang di duga dilakukan petugas keamanan PT HIM.
"Tadi malam warga sudah buat laporan atas aksi pemukulan kemarin. Nanti akan kita tindak lanjuti. Yang penting masyarakat tenang dulu," ungkap kapolres.
Dari informasi yang dihimpun, kericuhan kemarin terjadi di pintu masuk perkebunan PT HIM di Tiyuh Penumangan, sekitar pukul 15.30 WIB.
Seorang warga yang berasal dari masyarakat adat lima keturunan Bandar Dewa bernama Birin, mengalami luka di kepala usai bersitegang dengan petugas keamanan PT HIM.
Itu terjadi ketika Birin dan warga lainnya ingin mempertanyakan nasib rekannya, Amin, yang diamankan pihak kepolisian.
Sebelum terjadinya gesekan, aparat kepolisian menjemput Amin atas laporan pihak PT HIM.
Penjemputan ini terjadi lantaran ada laporan dari PT HIM atas aksi penebangan pohon karet milik perusahaan Bakrie Grup itu.
Warga lalu mendatangi pos Satpam PT HIM mempertanyakan keberadaan rekannya.
Dari informasi yang diperoleh, saat itulah terjadi aksi pemukulan terhadap salah satu warga bernama Birin, yang diduga dilakukan Satpam PT HIM.
"Ada yang memukul kepala warga hingga luka mengalir ke wajahnya. Saat itu warga langsung teriak "Siapa yang memukul," kata Juli, salah satu warga.
Melihat rekannya terluka pada bagian kepala, warga lainnya lantas tersulut emosi sehingga melempar kaca pos Satpam PT HIM dengan batu.
Untuk mencegah kericuhan meluas, petugas kepolisian dari Polres Tubaba dan Brimob Polda Lampung yang memang sudah bersiaga di lokasi, langsung melepaskan tembakan gas air mata.
Ini dilakukan untuk mengendalikan emosi warga yang sebagian sudah beringas sambil menenteng senjata tajam.
Seorang warga berusaha menenangkan warga lainnya dan minta pihak kepolisian netral, ada di tengah.
Beberapa menit kemudian suasana mereda, pihak keamanan perusahaan perkebunan dan kepolisian terlihat berusaha pula menahan diri, sehingga terhindar dari bentrokan lebih besar.
Seorang saksi kepada media mengatakan warga datang naik sepeda motor untuk mempertanyakan keberadaan temannya, setelah sebelumnya aparat kepolisian membawanya.
Menurut warga, pukul 14.15 WIB, mereka mengambil tenda dan akan bermalam di depan pintu masuk perkebunan karet milik Aburizal Bakrie, hingga kawannya dibebaskan.
Diketahui, masyarakat adat lima keturunan Bandar Dewa yang terlibat kericuhan ini telah berjuang selama 40 tahun, untuk menguasai kembali 1.100 hektare lahan marganya yang diduduki PT HIM.
Mereka meyakini, 1.100 hektare lahan itu merupakan lahan di luar HGU PT HIM, merujuk HGU yang dipegang PT HIM No 16 Tahun 1989. (*)