Notification

×

BMKG: Hujan Berhenti di Sirkuit Mandalika Bukan karena Pawang, tapi..

22 March 2022 | 19:31 WIB Last Updated 2022-03-22T12:31:48Z

Pawang hujan di Sirkuit Mandalika (Foto: Istimewa)


Lampungonline, Jakarta - Badan Meterologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memberikan penjelasan mengenai fenomena hujan yang berhenti ketika pawang hujan melakukan aksinya.


Seperti diketahui, aksi pawang hujan Rara Isti Wulandari alias Mbak Rara menjadi sorotan.


Rara si pawang hujan MotoGP Mandalika langsung viral lantaran aksinya yang mencoba menghentikan hujan.


Publik menyebut, aksi Rara merupakan sebuah kearifan lokal di ajang dunia.


Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto memberikan penjelasan mengenai fenomena tersebut.


Guswanto mengatakan, kearifan lokal tak bisa dicampuradukkan dengan sains.


Secara saintifik sulit dijelaskan bila hujan berhenti karena faktor pawang hujan.


"Ya sebenarnya kalau dilihat pawang hujan itu adalah suatu kearifan lokal yang dimiliki masyarakat. Secara saintifik itu sulit untuk dijelaskan," kata Guswanto, dilansir Suara.com, Selasa (22/3/2022).


Dijelaskan, BMKG sudah memberikan prakiraann cuaca saat race MotoGP Mandalika berlangsung.


Hal tersebut karena bibit sikontropis 93f yang dampaknya itu memberikan potensi pertumbuhan awan hujan di Mandalika.


Selain itu, Guswanto menambahkan, BMKG sudah memberikan informasi mengenai prakiraan cuaca di Mandalika dalam kurun 3 hari.


"Buktinya, dari awal pawang itu sudah bekerja, tapi (hujan) tidak berhenti juga. Jadi sebenarnya kemarin waktu berhentinya, itu bukan karena pawang hujan, (tapi) karena durasi waktunya sudah selesai," jelasnya.


"Kalau dilihat prakiraan lengkap di tanggal itu memang selesai di jam itu. Kira-kira jam 16.15 itu sudah selesai, tinggal rintik-rintik itu bisa dilakukan balapan kalau dilihat dari prakiraan nasional analisis dampak yang kita miliki BMKG," imbuhnya.


Menurutnya, kehadiran Rara si pawang hujan hanyalah sebuah kearifan lokal semata.


"Sebenarnya kalau cerita tentang pawang hujan itu adalah kearifan lokal yang mereka miliki, dan itu tidak bisa dicampuradukan dengan antara sains dan kearifan lokal," bebernya. (*)