OLEH: HERMANSYAH
BAK turbulensi, Purwanti Lee, pengusaha mahatajir, begitu turun gunung mendampingi calon gubernur Lampung yang didukungnya, Arinal Djunaidi, langsung memviral dalam jagad media sosial.
Dalam hitungan jam, foto dan infonya menturbulensi berita lewat telepon genggam. Sesaat, ada yang speechless, bangga, senyum-senyum, ngakak, EGP, nyir-nyir, dan berbagai sikap lain.
Kehadiran bos pabrik gula terbesar Asean yang cuma hitungan jari dalam panggung kampanye Arinal sukses menarik perhatian di ujung-ujung kejenuhan mengikuti gaya kampanye stereotif, itu-itu saja.
Puluhan kali wayangan bertabur hadiah bersama dalang Ki Enthus Susmono, jalan sehat hadiah mobil dengan artis terkenal ibu kota hingga menghadirkan ustad kondang. Entah sudah berapa ratus miliar.
Namun, hanya dengan kehadiran dua kali saja Ny. Lee yang bak sosialita malah nyaris setara gemanya dengan mahalnya sosialisasi Arinal Djunaidi yang selalu bertabur janji hampir setahun ini.
Hanya foto dan berita kehadiran Ny. Lee saja sudah langsung menturbulensi jagad maya Pilgub Lampung 2018. Tanpa kata-kata, tanpa janji-janji, kehadiran Ny. Lee mendongkrak sosialisasi paslon nomor tiga.
Foto dan berita bos besar PT Sugar Group Companies yang menguasai sekiar 134 ribu hektare lahan tebu dan empat perusahaan pabrik gula saat kampanye Arinal Djunaidi membombardir jagad maya.
Siapa yang membombardir dengan informasi yang nyaris seragam itu? Apa mungkin dari kubu Arinal sebagai pukulan terakhir mendongkrak popularitas atau hanya euforia kemenangan di depan mata?
Atau, bisa jadi juga, ada lawan politik yang ingin menelanjangi yang selama ini samar-samar tentang desas-desus pengusaha besar yang mendukung mantan sekdaprov Lampung tersebut.
Selama ini, Ny. Lee seperti malu-malu tampil bersama Arinal Djunaidi. Setelah sosialisasi masif dan berdasarkan survey Rakata Institute hasilnya akhirnya melejit, Ny. Lee baru ikut sosialisasi Arinal.
Berbeda dengan Pilgub Lampung 2014. Ny. Lee langsung tampil sejak awal dalam panggung sosialisasi M. Ridho Ficardo. Bim salabim, Ridho yang kala itu masih berusia 33 tahun jadi gubernur.
Di Pilgub 2018, Ny. Lee tak sepanggung lagi dengan putra tangan kanan Ny. Lee di PT SGC itu lagi. Dia memilih sepanggung kampanye dengan Arinal Djunaidi, mantan kadis pertanian dan perkebunan.
Pasti ada apa-apanya dan hanya mereka yang tahu. Tak mungkin, Ny. Lee pindah ke lain hati jika tak ada sesuatu. Ny.Lee tak perlu lagi berkeringat naik panggung jika tetap bersama petahana.
Ridho masih ganteng dan senyumnya masih bisa menaklukan pemilih muda dan ibu-ibu. Sopan-santunnya masih menarik simpati para orangtua. Karya dan konsepnya masih memukau banyak orang.
Hasil survey SMRC dan Charta Politika, popularitas dan elektabilitas Ridho Ficardo masih moncer. Arinal Djunaidi hingga akhir tahun lalu masih butuh beberapa anak tangga bisa sejajar dengan petahana.
Tapi, Purwanti Lee kekeh pindah ke lain hati. Dia sudah terang-terangan mendukung Arinal. Dia kembali harus berkeringat turun gunung. Soal dukungan dana, kita tunggu suara Panwaslu saja.
Bisa jadi, Ridho Ficardo sudah dianggapnya "anak bandel", tak mau lagi diatur-atur sang juragan seperti nyuruh Ridho joget di panggung jalan sehat PKOR Wayhalim pada Pilgub Lampung 2014.
Bisa jadi juga, langkah Ny.Lee "ngokang", main lebih dari satu kaki. Siapapun calon gubernur yang menang kelak, dia dan usahanya "lancar jaya" mengeruk laba dari ratusan ha kebun tebu dengan cover lumbung gula nasional.
Semua yang dipertontonkan bukti untuk kita jangan terlalu tinggi berharap dari hasil Pilgub Lampung 27 Juni 2018. Pertarungan pilgub masih untuk mereka, belum milik rakyat Lampung.
Kita masih harus banyak berdoa, bisa jadi doa kita masih sedikit dan kurang ikhlas, masih banyak juga yang mungkin lidahnya masih panjang, pragmatis, sehingga belum akan lahir gubernur dari rahim rakyat.
Penulis: Pemimpin Redaksi RMOLLAMPUNG
![]() |
| Hermansyah/Dok |
BAK turbulensi, Purwanti Lee, pengusaha mahatajir, begitu turun gunung mendampingi calon gubernur Lampung yang didukungnya, Arinal Djunaidi, langsung memviral dalam jagad media sosial.
Dalam hitungan jam, foto dan infonya menturbulensi berita lewat telepon genggam. Sesaat, ada yang speechless, bangga, senyum-senyum, ngakak, EGP, nyir-nyir, dan berbagai sikap lain.
Kehadiran bos pabrik gula terbesar Asean yang cuma hitungan jari dalam panggung kampanye Arinal sukses menarik perhatian di ujung-ujung kejenuhan mengikuti gaya kampanye stereotif, itu-itu saja.
Puluhan kali wayangan bertabur hadiah bersama dalang Ki Enthus Susmono, jalan sehat hadiah mobil dengan artis terkenal ibu kota hingga menghadirkan ustad kondang. Entah sudah berapa ratus miliar.
Namun, hanya dengan kehadiran dua kali saja Ny. Lee yang bak sosialita malah nyaris setara gemanya dengan mahalnya sosialisasi Arinal Djunaidi yang selalu bertabur janji hampir setahun ini.
Hanya foto dan berita kehadiran Ny. Lee saja sudah langsung menturbulensi jagad maya Pilgub Lampung 2018. Tanpa kata-kata, tanpa janji-janji, kehadiran Ny. Lee mendongkrak sosialisasi paslon nomor tiga.
Foto dan berita bos besar PT Sugar Group Companies yang menguasai sekiar 134 ribu hektare lahan tebu dan empat perusahaan pabrik gula saat kampanye Arinal Djunaidi membombardir jagad maya.
Siapa yang membombardir dengan informasi yang nyaris seragam itu? Apa mungkin dari kubu Arinal sebagai pukulan terakhir mendongkrak popularitas atau hanya euforia kemenangan di depan mata?
Atau, bisa jadi juga, ada lawan politik yang ingin menelanjangi yang selama ini samar-samar tentang desas-desus pengusaha besar yang mendukung mantan sekdaprov Lampung tersebut.
Selama ini, Ny. Lee seperti malu-malu tampil bersama Arinal Djunaidi. Setelah sosialisasi masif dan berdasarkan survey Rakata Institute hasilnya akhirnya melejit, Ny. Lee baru ikut sosialisasi Arinal.
Berbeda dengan Pilgub Lampung 2014. Ny. Lee langsung tampil sejak awal dalam panggung sosialisasi M. Ridho Ficardo. Bim salabim, Ridho yang kala itu masih berusia 33 tahun jadi gubernur.
Di Pilgub 2018, Ny. Lee tak sepanggung lagi dengan putra tangan kanan Ny. Lee di PT SGC itu lagi. Dia memilih sepanggung kampanye dengan Arinal Djunaidi, mantan kadis pertanian dan perkebunan.
Pasti ada apa-apanya dan hanya mereka yang tahu. Tak mungkin, Ny. Lee pindah ke lain hati jika tak ada sesuatu. Ny.Lee tak perlu lagi berkeringat naik panggung jika tetap bersama petahana.
Ridho masih ganteng dan senyumnya masih bisa menaklukan pemilih muda dan ibu-ibu. Sopan-santunnya masih menarik simpati para orangtua. Karya dan konsepnya masih memukau banyak orang.
Hasil survey SMRC dan Charta Politika, popularitas dan elektabilitas Ridho Ficardo masih moncer. Arinal Djunaidi hingga akhir tahun lalu masih butuh beberapa anak tangga bisa sejajar dengan petahana.
Tapi, Purwanti Lee kekeh pindah ke lain hati. Dia sudah terang-terangan mendukung Arinal. Dia kembali harus berkeringat turun gunung. Soal dukungan dana, kita tunggu suara Panwaslu saja.
Bisa jadi, Ridho Ficardo sudah dianggapnya "anak bandel", tak mau lagi diatur-atur sang juragan seperti nyuruh Ridho joget di panggung jalan sehat PKOR Wayhalim pada Pilgub Lampung 2014.
Bisa jadi juga, langkah Ny.Lee "ngokang", main lebih dari satu kaki. Siapapun calon gubernur yang menang kelak, dia dan usahanya "lancar jaya" mengeruk laba dari ratusan ha kebun tebu dengan cover lumbung gula nasional.
Semua yang dipertontonkan bukti untuk kita jangan terlalu tinggi berharap dari hasil Pilgub Lampung 27 Juni 2018. Pertarungan pilgub masih untuk mereka, belum milik rakyat Lampung.
Kita masih harus banyak berdoa, bisa jadi doa kita masih sedikit dan kurang ikhlas, masih banyak juga yang mungkin lidahnya masih panjang, pragmatis, sehingga belum akan lahir gubernur dari rahim rakyat.
Penulis: Pemimpin Redaksi RMOLLAMPUNG
