Notification

×
19 February 2017 | 16:32 WIB Last Updated 2017-05-25T06:41:14Z
Facebook Bakal Gunakan AI untuk Menangkal Terorisme
Facebook Bakal Gunakan AI untuk Menangkal Terorisme

(Foto: Incimages)
Lely Maulida
Jurnalis
0 Komentar

    Share on Facebook
    Share on Twitter
    Share on Google
    Share on linkedin
    Share on Path
    Toggle

A A A

    Share on Facebook
    Share on Twitter
    Share on Google
    Share on linkedin
    Share on Path
    Toggle

MENLO PARK – CEO Facebook Mark Zuckerberg beberapa kali menyampaikan rencana untuk mengatasi tindak terorisme dan berita bohong (hoax) dengan menggunakan AI serta algoritma. Ia juga melihat masalah yang timbul akibat dua isu tersebut sudah begitu kompleks. Oleh karena itu, Zuckerberg coba merancang sistem untuk mengatasi merebaknya berita terorisme.

"Kami sedang meneliti sistem yang dapat membaca teks dan melihat foto dan video untuk memahami jika sesuatu yang berbahaya kemungkinan terjadi," kata penggagas Facebook, mengutip dari Tech Radar, Minggu (19/2/2017).
BERITA REKOMENDASI

    Usaha Facebook untuk Perangi Berita Hoax
    Alasan Facebook Tetap Rilis Autoplay Video Bersuara meski Dikomplain
    Genjot Pendapatan, Facebook Geser Seorang Eksekutif ke WhatsApp

Namun, Zuckerberg mengakui bahwa sistem ini akan membutuhkan waktu untuk disempurnakan.

"Ini masih tahap pengembangan yang sangat awal, tapi kami sudah memulai melihat beberapa konten, dan itu sudah menghasilkan sekira sepertiga dari semua laporan ke tim yang meninjau konten," imbuhnya.

Ia juga menjelaskan bahwa perusahaannya tengah mengeksplorasi cara dengan menggunakan AI untuk membedakan antara berita tentang terorisme dan propaganda teroris.

Ini merupakan pendekatan yang bisa membantu menyortir sumber berita palsu. Meskipun, menurut Zuckerberg, pada awalnya AI akan kesulitan memahami konten terpercaya dan konten yang menyenangkan.

"Perlu dicatat bahwa kemajuan besar dalam AI yang dibutuhkan untuk memahami teks, foto, dan video untuk menilai apakah mereka mengandung kebencian, kekerasan grafis, konten seksual eksplisit, dan lainnya," kata Zuckerberg.

Ia juga mengungkapkan akan memulai penanganan kasus tersebut pada tahun ini.

"Pada kecepatan saat penelitian, kami berharap memulai penanganan beberapa kasus di 2017, tetapi yang lain tidak akan mungkin selama bertahun-tahun."
(kem)