Notification

×

Mencari yang Baru di Tahun Baru

28 December 2016 | 16:31 WIB Last Updated 2016-12-28T09:31:03Z
Oleh : Gunawan Handoko *)


HANYA dalam hitungan hari, kita akan meninggalkan tahun 2016 dan memasuki tahun baru 2017. Semua orang tentu berharap agar datangnya tahun baru akan membawa harapan baru bagi kehidupannya.

Namun harapan tersebut menjadi sirna ketika berbagai musibah datang jalin jemalin dan silih berganti seolah masih ingin mengakrabi kehidupan bangsa kita.

Dalam catatan BNPB, tahun 2016 terjadi 1.985 bencana seperti banjir, tanah longsor, gempa bumi dan lainnya.

Bahkan tahun 2016 disebut sebagai bencana. Menjelang peringatan 12 tahun bencana tsunami, gempa kembali mengguncang wilayah Nangroe Aceh Darussalam (NAD) dan memporakporandakan kawasan permukiman serta korban jiwa.

Belum selesai penanganan bencana di NAD, bencana lain menyusul. Wilayah Bima Nusa Tenggara Barat yang selama ini tenang, tiba-tiba saja di hantam banjir bandang yang memporakporandakan wilayah setempat.

Banjir bandang ini bukan hanya mengusik ketenangan warga disana, namun juga memakan korban jiwa dan harta dalam bilangan yang tidak sedikit. Sungguh tragedi yang memilukan, puluhan ribu warga masyarakat harus kehilangan tempat tinggal dan tinggal di tempat-tempat pengungsian.

Lantas apa yang baru? Saya kembali teringat saat berkunjung ke penampungan korban bencana tanah longsor di Kabupaten Banjarnegara, tepatnya di dusun Jemblung pada Desember 2014 lalu.

Saat ditanya tentang harapannya di tahun baru, seorang bapak tua dengan tatapan mata yang kosong menjawab, sama sekali ndak ada yang baru, semua tetap biasa-biasa saja. Matahari terbit dari Wetan (Timur) di pagi hari dan angslup di sebelah Kulon (Barat) pada sore hari.

Yang pasti baru cuman satu, yaitu penanggalan (kalender). Apa yang dikatakan bapak tua ini benar, meski penuh frustasi.

Hanya dalam legenda Sangkuriang dan Roro Jonggrang lah matahari terbit sebelum waktunya, karena berisik mendengar suara para wanita yang sedang menumbuk padi, sehingga sang matahari mengira bahwa hari sudah pagi.

Boleh jadi ungkapan tersebut mewakili sekian juta masyarakat di negeri ini yang nasibnya kurang beruntung. Untungnya, sebagian besar masyarakat tidak banyak menuntut pihak Pemerintah.

Mereka lebih memilih pasrah dan meyakini bahwa semua ini terjadi karena murkanya Tuhan atau peringatan Illahi kepada umat manusia. Hanya saja yang mereka sesalkan, mengapa pada hampir semua bencana alam atau bencana sosial, yang selalu menjadi korban adalah kaum yang lemah dan miskin.

Bukankah pada kenyataan sehari-hari mereka tergolong makhluk yang suci, sabar dan nrimo, tidak pernah korupsi serta perilaku curang lainnya. Teori apapun, termasuk teoritisasi sastra-sosial yang percaya kepada marxisme tidak akan mampu menjelaskan mengapa mereka yang harus secara terus menerus menjadi pelengkap penderita?

Untungnya, meski harta benda yang dimiliki menjadi luluh lantak di terjang bencana, namun mereka tetap tegar. Mereka sangat percaya pada filsafat Cakra Manggilingan yang mengibaratkan hidup ini seperti putaran roda, kadang berada dibawah dan kadang diatas.

Meski hanya sebagai aliran filsafat, namun terbukti sangat ampuh dan mampu memberi kekuatan batin, membangkitkan semangat dan harapan bahwa pada suatu saat roda akan berputar ke atas.

Pada titik inilah apa yang disebut baru sungguh terjadi dalam pengalaman mental yang dimiliki kaum lemah-miskin. Agar harapan baru itu benar-benar terjadi dalam pengalaman mental, kita pun perlu melakukan refleksi.

Maka seyogyanya kita melakukan sujud syukur ketika memasuki detik-detik pergantian tahun, duduk dalam keheningan untuk melihat dengan jernih seraya mengharap bimbingan Tuhan dalam memasuki pergantian tahun.

Semua pihak perlu berpikir ulang, masih pantaskah menggelar pesta pora yang penuh hingar bingar, menggelar panggung-panggung hiburan dan pesta kembang api untuk menambah gegap gempitanya malam tahun baru.

Bukankah peristiwa pergantian tahun merupakan fenomena sesaat yang hanya memberikan kenikmatan dalam hitungan menit?

Secara tidak sadar, kita telah menghamburkan sekian banyak uang yang sesungguhnya uang tersebut sangat dibutuhkan oleh saudara-saudara kita yang hari ini sedang dirundung duka.

Padahal sesungguhnya bukan tahun barunya yang penting, tetapi bagaimana setiap manusia mulai menata ulang sikap mentalnya untuk memasuki tahun baru.

Tahun baru berarti memiliki cara pandang yang baru dan suci dalam upaya dan usaha memperoleh sesuatu yang baru.

Tahun baru juga berarti mengasah kompetensi diri dengan metode yang baru untuk meraih jenjang karier yang baru.

Hari ini perlu pengakuan secara jujur bahwa kita telah banyak melakukan kesalahan di dalam mengelola alam ini.

Terkait dengan bencana, rasanya kita tidak perlu lagi memperdebatkan tentang tinjauan teologi, apakah bencana tersebut sebuah ujian, cobaan, peringatan, azab atau apapun namanya.

Tinjauan tentang teologi tersebut berpulang kepada diri pribadi atau individu masing-masing. Kita juga tidak perlu saling menyalahkan, karena sesungguhnya masing-masing dari kita memiliki andil dalam berbuat kesalahan.

Untuk menggali pendapatan asli daerah (PAD), para kepala daerah berlomba-lomba untuk melakukan eksploitasi potensi alam yang ada.

Pembangunan di wilayah perkotaan tidak lagi berwawasan lingkungan dengan menjamurnya bangunan hotel, mal dan bangunan beton lainnya.

Lebih miris lagi, dengan dalih untuk mengurai kemacetan lalu lintas, di bebeberapa ruas jalan kota di bangun Jalan Layang atau Fly Over  yang sesungguhnya tidak harus dilakukan, karena diyakini akan menghilangkan keindahan wajah kota.

Sebelum alam dan lingkungan ini benar-benar mengalami kehancuran, mari kita renungkan kembali pesan arif dari para pemerhati lingkungan sejak ratusan tahun lalu ; manakala sawah dan rawa tidak lagi berfungsi sebagai pengendali air, gunung dan bukit tidak lagi ditumbuhi pepohonan dan berubah dengan rumah-rumah beton dan kaca, maka sesungguhnya kita sedang menuju pada kehancuran lingkungan.

Selamat Tahun Baru 2017.

*) Gunawan Handoko, Pemerhati Masalah Sosial dan Permukiman, tinggal di Bandar Lampung.
- LSM PUSKAP (Pusat Pengkajian Etika Politik dan Pemerintahan) Wilayah Lampung ;