Notification

×

Kulit Melepuh Usai Makan Obat Dokter RS Urip Bandar Lampung

20 August 2016 | 21:58 WIB Last Updated 2016-08-20T15:01:07Z
(foto: tribunlampung)

BANDAR LAMPUNG – Diduga kuat menjadi korban malapraktik, seluruh kulit tubuh Upik Roslina (57) melepuh seperti luka bakar, setelah mengonsumsi obat pentoin, pemberian salah satu dokter spesialis syaraf di Rumah Sakit (RS) Urip Sumoharjo, Bandar Lampung.

Kini, ibu enam anak tersebut hanya bisa terbaring lemah disertai rintihan kesakitan, di Ruang Keratun B1- 6, Rumah Sakit Urip Sumoharjo, Bandar Lampung.

Menurut keterangan anak korban, Adriansyah, ibunya tak sadarkan diri pada Minggu (24/7/2016) malam lalu. Upik lalu menjalani rawat inap di Rumah Sakit Urip hingga Rabu (3/8). 

Awalnya, Upik mendapat perawatan dokter spesialis penyakit dalam. Saat pemeriksaan awal, Upik didiagnosis mengalami masalah pada mata dan keluhan syaraf. Akhirnya, keluhan syarat tersebut dikonsultasikan dengan dokter spesialis syaraf.

“Pada Senin, 25 Juli pukul 14.00 WIB, kondisi ibu drop. Kata dokter, kritis. Dikasih alat pacu jantung, dokter syaraf menyuruh CT Scan. Katanya, ada penyumbatan di otak. Dari hasil CT scan juga ada stroke,” jelas Adriansyah, saat ditemui pada Jumat (19/8).

Setelah dilakukan CT scan, kata Adriansyah, kondisi Upik tak sadarkan diri. Menurut dokter, terjadi stroke sehingga perlu dilakukan tindakan EEG.

Setelah dilakukan EEG, Upik didiagnosis mengalami penyumbatan otak bagian kiri, yang memicu dirinya sering pingsan, seperti dilansir Tribunlampung.

“Tanggal 3 Agustus ibu disuruh pulang, dikasih obat-obatan oleh dokter, salah satunya obat pentoin. Tanggal 8 Agustus disuruh datang kontrol. Tapi, tanggal 7 Agustus, kulit badan ibu sudah keluar bintik-bintik merah. Baru tanggal 8 Agustus, kami datang ke Rumah Sakit Urip. Karena pakai BPJS, mereka bilang harus ke Rumah Sakit Tipe C dulu sebelum ke Urip, maka kami bawa ke Advent,” urai Adriansyah.

Namun, dokter di Rumah Sakit Advent tidak berani memberikan tindakan, karena sebelumnya pasien sudah pernah dirawat di Rumah Sakit Urip.

“Saat dibawa ke RS Advent, kondisi tubuh ibu sudah muncul bintik-bintik merah, bibir pecah-pecah, dan RS Advent tetap merujuk kembali ke RS Urip. Sampai di RS Urip, kondisi ibu pasca-diberi obat bukan membaik tapi makin parah. Sekujur tubuhnya menjadi melepuh. Kami keluarga sudah menanyakan ke dokter, dijawab karena alergi obat,” terang Adriansyah.

Ditemui di Rumah Sakit Urip, Upik tak banyak bicara. Ia hanya terbaring di atas tempat tidur. Sesekali, wanita itu merintih kesakitan saat lukanya diolesi obat.

Saat dikonfirmasi pada Jumat malam, Supervisor Rumah Sakit Urip, Adhi Mariski, enggan berkomentar. Dia hanya meminta para wartawan datang kembali esok hari. Sebab, menurut dia, jam kerja manajemen Rumah Sakit Urip telah berakhir sejak pukul 16.00 WIB.

“Maaf, ini bukan kapasitas saya. Saya tidak berwenang memberikan keterangan, kalau mau konfimasi datang besok,” ujarnya.

Tak lama setelah itu, dua orang satpam Rumah Sakit Urip datang menghampiri para wartawan. Mereka meminta para jurnalis meninggalkan Rumah Sakit Urip.

“Kalian tidak ada izin, harusnya izin dulu, ya sudah silakan keluar,” desak salah satu satpam. (*)