![]() |
| (foto: lampost) |
BANDAR LAMPUNG - Hingga kini, masih banyak warga Bandar Lampung yang mengeluhkan kemacetan di dua jalan protokol, Jalan Kartini dan Jalan Teuku Umar, akibat rekayasa lalu lintas yang dilakukan Pemerintah Kota (Pemkot) Bandar Lampung.
Dari pemantauan pada Minggu (24/7/2016) sejak pukul 17.00 hingga 18.00 WIB di Jalan Kartini, di jalur baru yang menuju Jalan Kotaraja dan Jalan Raden Intan, yang telah dibuat taman oleh Pemkot Bandar Lampung memang tidak terjadi kemacetan. Tapi kepadatan kendaraan tetap terlihat meski hari libur.
Kemudian dari Jalan Teuku Umar, kepadatan dan perlambatan kendaraan kerap terjadi di pertigaan lampu merah Rumah Sakit Umum Abdul Moeloek yang merupakan putaran (U-turn) terdekat dari Jalan Kartini.
Selain itu, banyak juga U-turn yang ditutup secara permanen oleh Pemkot Bandar Lampung, terutama di depan Korem 043 Garuda Hitam hingga menuju depan kantor PTPN VII, dan kerap terjadi kepadatan di jalan tersebut.
Selain itu, banyak juga U-turn yang ditutup secara permanen oleh Pemkot Bandar Lampung, terutama di depan Korem 043 Garuda Hitam hingga menuju depan kantor PTPN VII, dan kerap terjadi kepadatan di jalan tersebut.
Pada hari kerja, biasanya ada beberapa pegawai Dinas Perhubungan (Dishub) dan aparat Polresta Bandar Lampung yang mengamankan arus lalu lintas di sana, seperti dilansir Lampost.
Seorang warga Bandar Lampung, M. Taufik Ardiansyah, mengeluhkan rekayasa jalan yang dilakukan oleh Pemkot Bandar Lampung, dan justru mengakibatkan kemacetan yang kerap terjadi di Jalan Kartini, baik menuju arah jalan Radin Intan maupun menuju jalan Kotaraja yang merupakan rekayasa jalur baru.
Seorang warga Bandar Lampung, M. Taufik Ardiansyah, mengeluhkan rekayasa jalan yang dilakukan oleh Pemkot Bandar Lampung, dan justru mengakibatkan kemacetan yang kerap terjadi di Jalan Kartini, baik menuju arah jalan Radin Intan maupun menuju jalan Kotaraja yang merupakan rekayasa jalur baru.
Kemudian, dari arah Teluk Betung hendak menuju Kotaraja melewati stasiun Tanjung Karang, juga harus melalui jalan Teuku Umar dan berputar di U-turn lampu merah pertigaan RSUAM. Bahkan sebelumnya harus menempuh jarak lebih jauh hingga Tamam Makam Pahlawan.
"Dibuat dua jalur di Jalan Kartini malah bikin macet, apalagi kalau hari biasa (Senin-Jumat), terus mau ke Ramayana juga harus muter jauh kalau dari arah Teluk," ujar warga Kedaton itu.
Pengendara lainnya, Budiharto, mengeluhkan banyaknya U-turn yang ditutup permanen oleh Pemkot Bandar Lampung di Jalan Teuku Umar, sehingga membutuhkan jarak yang jauh untuk sekadar berputar.
"Dibuat dua jalur di Jalan Kartini malah bikin macet, apalagi kalau hari biasa (Senin-Jumat), terus mau ke Ramayana juga harus muter jauh kalau dari arah Teluk," ujar warga Kedaton itu.
Pengendara lainnya, Budiharto, mengeluhkan banyaknya U-turn yang ditutup permanen oleh Pemkot Bandar Lampung di Jalan Teuku Umar, sehingga membutuhkan jarak yang jauh untuk sekadar berputar.
Apalagi mulai dari lampu merah pertigaan RSUAM hingga lampu merah pertigaan kampus Teknokrat depan Mal Boemi Kedaton (MBK).
"Semakin hari makin macet, udah itu U-turn banyak yang ditutup, jadi jauh kalau mau muter lebih jauh lagi malah macet," kesalnya.
Ketika akan dikonfirmasi terkait kemacetan akibat rekayasa jalan yang dilakukan Pemkot Bandar Lampung dan dikeluhkan masyarakat, Sekretaris Kota Bandar Lampung, Badri Tamam, tidak dapat dihubungi. Ponselnya aktif tapi tidak ada jawaban, walau berkali-kali dihubungi. Begitu juga dengan Kadishub Kota Bandar Lampung I Kadek, yang nomornya tidak aktif. (*)
Ketika akan dikonfirmasi terkait kemacetan akibat rekayasa jalan yang dilakukan Pemkot Bandar Lampung dan dikeluhkan masyarakat, Sekretaris Kota Bandar Lampung, Badri Tamam, tidak dapat dihubungi. Ponselnya aktif tapi tidak ada jawaban, walau berkali-kali dihubungi. Begitu juga dengan Kadishub Kota Bandar Lampung I Kadek, yang nomornya tidak aktif. (*)
