Notification

×

Pengembang Pasar Smep Bandar Lampung akan Dialihkan, Alay Pasrah

24 July 2016 | 22:56 WIB Last Updated 2016-07-24T16:25:09Z
Pembangunan Pasar Smep Bandar Lampung (foto: tribunlampung)

BANDAR LAMPUNG - Pengembang Pasar Smep Bandar Lampung, Direktur PT Prabu Artha Depelover Ferry Soelisthio alias Alay, mengaku tidak mempermasalahkan siapapun yang akan membangun kelanjutan Pasar Smep, asalkan disetujui pemerintah.

Hal ini dikatakannya terkait rencana Komisi II DPRD Bandar Lampung yang akan merekomendasikan PT. Gunung Pesagi untuk melanjutkan pembangunan Pasar Smep tersebut.

Menurut Alay, pihaknya sampai saat masih memikirkan rencana kelanjutan pembangunan pasar. Namun dia belum memastikan kapan waktunya. 

"Ya sebentar lagi kita bangun, tapi kalau diambil pihak lain, terserah pemkot saja," ujarnya.

Sementara, anggota Komisi II DPRD Bandar Lampung Barlian Mansyur mengakui dirinya sudah berkomunikasi dengan Manajer PT Gunung Pesagi Anang Sukiman, menawarkan untuk melanjutkan pembangunan Pasar Smep.

"Kemarin saya sempat rapat dengan kadis pasar, habis itu saya telpon Pak Anang, tanya soal tunggakan royalti pengembangan BK (Bambu Kuning). Dia ngeluh tidak bisa bayar, alasannya karena pedagang BK banyak belum bayar sewa, dan HGB banyak belum terbit. Salah satunya akibat Pasar Smep yang belum terbangun, dan omzet pedagang BK turun," terangnya.

Wakil Ketua Komisi II DPRD Bandar Lampung Nu'man Abdi mengatakan, pihaknya mendukung keberlanjutan Pasar Smep, siapapun pengembang yang akan membangun. Apalagi pembangunan Pasar Smep itu sudah terkatung-katung hampir tiga tahun lebih.

"Sangat kita dukung kalau ada yang mau dan punya itikad baik bangun Pasar Smep. Karena kita ini kasihan dengan pedagangnya, mereka sudah hampir putus asa dan tidak busa berbuat apa-apa lagi," jelas dia, seperti dilansir Tribunlampung.

Sedangkan terkait PT Gunung Pesagi yang merencanakan akan mengambil alih proyek itu, Nu'man menyatakan kurang sependapat, karena belum mengetahui track record perusahaan itu. 

"Kalau itu kan pendapat pribadi Pak Barlian, kita belum tahu, dia (PT Gunung Pesagi) saja nunggak royalti, bagaimana mau bangun, tidak etis, bayar dulu tunggakan. Soal siapa yang bangun terserah, asal pedagang dan aktifitas ekonomi bisa segera jalan," jelas Nu'man. (*)