![]() |
| Kapal Mutiara Sentosa III sedang berlabuh di Pelabuhan Panjang, Senin (27/6/2016) pagi menanti jadwal keberangkatan pukul 15.00 WIB menuju Pelabuhan Tanjung Priok. (foto: tribunlampung) |
BANDAR LAMPUNG – Rute baru penyeberangan kapal roro yang melayani dari Pelabuhan Panjang, Bandar Lampung ke Tanjung Priok, Jakarta Utara dan sebaliknya, belum genap sepekan beroperasi. Namun, kapal yang dikelola oleh PT Atosim Lampung Pelayaran (ALP) ini sudah menuai banyak keluhan.
Keluhan yang disampaikan penumpang mulai dari molornya jadwal keberangkatan hingga tidak sesuainya fasilitas yang tersedia di kapal. Seperti yang dialami Syamsul Huda.
Bersama enam rekannya, warga Natar, Lampung Selatan ini mengalami pengalaman mengecewakan saat mencoba kapal roro tersebut dari Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Kamis (23/6/2016) malam lalu. Betapa tidak.
Mereka harus berada di dalam KM Mutiara Sentosa 3 selama 20 jam! Sepuluh jam pertama hanya untuk menunggu di dalam kapal dan 10 jam berikutnya waktu tempuh dari Tanjung Priok ke Panjang.
Syamsul menceritakan, ketika itu rombongannya yang berada dalam satu mobil berniat menyeberang ke Lampung sekaligus mencicipi tol laut dari Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta.
Firasat buruk sudah menghantui saat mereka mengalami kesulitan mencari Dermaga Bogasari, yakni dermaga yang menjadi tempat pemberangkatan kapal ke Lampung.
”Saya harus tanya 14 orang untuk cari dermaganya. Soalnya kan setiap dermaga di sini jauh-jauh jaraknya,” kata Syamsul, Senin (27/6).
Keluhan belum berhenti sampai di situ. Begitu tiba di dermaga, ia harus menunggu 20 menit untuk membeli tiket saja.
”Sistem ticketing-nya belum siap. Mereka nyiapin laptop dulu, terus nge-print tiketnya. Kira-kira 20 menitlah nunggunya,” keluh pengusaha konstruksi ini.
Singkat cerita, Syamsul dan para penumpang lainnya diperbolehkan memasuki kapal sekitar pukul 23.30 WIB. Ketika itu, hanya terdapat empat mobil pribadi dan lima truk yang berada di dalam kapal. Cukup sepi untuk ukuran kapal berkapasitas 800 penumpang dan 260 kendaraan itu.
Namun, petualangan Syamsul bersama KM Mutiara Sentosa 3 ternyata baru dimulai. Berjam-jam menunggu, kapal tidak juga berangkat. Para penumpang pun mulai gelisah. Bahkan, ada satu keluarga yang membawa mobil memutuskan untuk keluar dari kapal.
Setelah 10 jam tertunda, akhirnya kapal baru berangkat saat matahari sudah bersinar cukup terik, yakni sekitar pukul 10.30 WIB keesokan harinya, Jumat (24/6).
Selama perjalanan, penumpang disuguhi berbagai fasilitas yang tidak bisa digunakan. Sebut saja, kolam renang tanpa air, restoran yang tidak melayani pesanan alias tutup, dan toilet yang beberapa di antaranya dalam kondisi rusak.
”Selama dalam perjalanan, kami cuma makan mi instan. Ya terpaksa. Soalnya restonya nggak buka,” ujar Syamsul.
”Sistem ticketing-nya belum siap. Mereka nyiapin laptop dulu, terus nge-print tiketnya. Kira-kira 20 menitlah nunggunya,” keluh pengusaha konstruksi ini.
Singkat cerita, Syamsul dan para penumpang lainnya diperbolehkan memasuki kapal sekitar pukul 23.30 WIB. Ketika itu, hanya terdapat empat mobil pribadi dan lima truk yang berada di dalam kapal. Cukup sepi untuk ukuran kapal berkapasitas 800 penumpang dan 260 kendaraan itu.
Namun, petualangan Syamsul bersama KM Mutiara Sentosa 3 ternyata baru dimulai. Berjam-jam menunggu, kapal tidak juga berangkat. Para penumpang pun mulai gelisah. Bahkan, ada satu keluarga yang membawa mobil memutuskan untuk keluar dari kapal.
Setelah 10 jam tertunda, akhirnya kapal baru berangkat saat matahari sudah bersinar cukup terik, yakni sekitar pukul 10.30 WIB keesokan harinya, Jumat (24/6).
Selama perjalanan, penumpang disuguhi berbagai fasilitas yang tidak bisa digunakan. Sebut saja, kolam renang tanpa air, restoran yang tidak melayani pesanan alias tutup, dan toilet yang beberapa di antaranya dalam kondisi rusak.
”Selama dalam perjalanan, kami cuma makan mi instan. Ya terpaksa. Soalnya restonya nggak buka,” ujar Syamsul.
Sepuluh jam berlayar, penantian panjang para penumpang pun berakhir. KM Mutiara Sentosa 3 bersandar di Pelabuhan Panjang sekitar pukul 20.00 WIB.
Syamsul mengaku sangat kecewa atas pelayanan PT ALP. Dia berharap pihak perusahaan dapat segera membenahi pelayanan dan fasilitas yang berada di dalam kapal.
”Yang paling utama harus diperbaiki adalah jadwal kapalnya. Harus on time dong. Kalo molor terus, siapa yang mau naik kapal ini,” cetus pria 43 tahun ini, seperti dilansir Tribunlampung.
Tergoda Promosi
Penumpang yang mengeluhkan pelayanan kapal roro tersebut bukan hanya Syamsul. Pengalaman serupa dialami Sugiyanto, warga Campang Raya, Sukabumi, saat naik kapal roro dari Tanjung Priok tujuan Panjang, Jumat (24/6) malam.
“Bayangkan, saya naik jam 11 malam. Tapi, kapal baru berangkat jam sembilan pagi. Dibilang kapok, ya kapok bener. Jadwalnya nggak on time,” ujar Sugiyanto.
Sugiyanto menambahkan, ia bersama empat rekannya sengaja ingin mencoba jalur penyeberangkan baru. Ia tertarik dengan gencarnya promosi yang membanjiri media sosial.
“Kita dapat info dari media sosial dan broadcast. Makanya pengen coba juga. Jadwalnya ada tiga, yakni jam tujuh malam, jam sembilan malam, dan jam 11 malam. Tapi, nggak tahunya nggak on time. Kami sempat mau turun karena kesal. Tapi pas mau turun, nggak jadi karena kapal sudah mau berangkat,” jelas pria yang punya usaha di bidang kecantikan ini.
Syamsul mengaku sangat kecewa atas pelayanan PT ALP. Dia berharap pihak perusahaan dapat segera membenahi pelayanan dan fasilitas yang berada di dalam kapal.
”Yang paling utama harus diperbaiki adalah jadwal kapalnya. Harus on time dong. Kalo molor terus, siapa yang mau naik kapal ini,” cetus pria 43 tahun ini, seperti dilansir Tribunlampung.
Tergoda Promosi
Penumpang yang mengeluhkan pelayanan kapal roro tersebut bukan hanya Syamsul. Pengalaman serupa dialami Sugiyanto, warga Campang Raya, Sukabumi, saat naik kapal roro dari Tanjung Priok tujuan Panjang, Jumat (24/6) malam.
“Bayangkan, saya naik jam 11 malam. Tapi, kapal baru berangkat jam sembilan pagi. Dibilang kapok, ya kapok bener. Jadwalnya nggak on time,” ujar Sugiyanto.
Sugiyanto menambahkan, ia bersama empat rekannya sengaja ingin mencoba jalur penyeberangkan baru. Ia tertarik dengan gencarnya promosi yang membanjiri media sosial.
“Kita dapat info dari media sosial dan broadcast. Makanya pengen coba juga. Jadwalnya ada tiga, yakni jam tujuh malam, jam sembilan malam, dan jam 11 malam. Tapi, nggak tahunya nggak on time. Kami sempat mau turun karena kesal. Tapi pas mau turun, nggak jadi karena kapal sudah mau berangkat,” jelas pria yang punya usaha di bidang kecantikan ini.
Sugiyanto mengungkapkan, fasilitas yang berada di kapal tersebut tidak sepenuhnya serupa dengan yang disebutkan dipromosikan. Karena sejumlah ruangan di kapal tidak berfungsi.
“Saya lupa nama kapalnya. Tapi, ada tulisan Line. Ruang VIP-nya sempit. Cuma muat delapan orang. Kantin nggak lengkap. Tapi, semua AC nyala. Namanya kapal bekas, maklum aja. Kita nggak masalah soal fasilitas. Yang penting nggak delay sampai 10 jam gitu,” sesal Sugiyanto seraya mengaku tiba di Panjang hari Sabtu (25/6) sekitar pukul 18.30 WIB.
Sugiyanto berharap ada perbaikan layanan dari manajemen kapal. Karena saat mereka bertanya kepada kru kapal terkait keterlambatan, tidak ada satu pun yang bisa memberikan informasi jelas kepada penumpang.
“Ini juga yang kami sesalkan. Saat kami tanya kepada kru kapal, mereka nggak bisa jelasin. Hanya bilang, ’Tunggu aja.’ Bahkan, saat itu ada dua mobil pribadi yang akhirnya turun karena sudah nunggu lama,” ujar dia. (*)
“Saya lupa nama kapalnya. Tapi, ada tulisan Line. Ruang VIP-nya sempit. Cuma muat delapan orang. Kantin nggak lengkap. Tapi, semua AC nyala. Namanya kapal bekas, maklum aja. Kita nggak masalah soal fasilitas. Yang penting nggak delay sampai 10 jam gitu,” sesal Sugiyanto seraya mengaku tiba di Panjang hari Sabtu (25/6) sekitar pukul 18.30 WIB.
Sugiyanto berharap ada perbaikan layanan dari manajemen kapal. Karena saat mereka bertanya kepada kru kapal terkait keterlambatan, tidak ada satu pun yang bisa memberikan informasi jelas kepada penumpang.
“Ini juga yang kami sesalkan. Saat kami tanya kepada kru kapal, mereka nggak bisa jelasin. Hanya bilang, ’Tunggu aja.’ Bahkan, saat itu ada dua mobil pribadi yang akhirnya turun karena sudah nunggu lama,” ujar dia. (*)
