![]() |
| PLN Lampung (ist) |
LAMPUNG - Pemadaman arus listrik di Lampung masih terus berlangsung sehingga dikeluhkan masyarakat di daerah itu. Kendati intensitas pemadaman arus listrik sekarang mulai berkurang, tetapi tetap saja pemadaman aliran listrik terjadi.
"Pemadaman arus listrik terjadi setiap hari meski intensitasnya sekarang tidak seperti pada Sabtu (6/2) lalu, yang terjadi pemadaman hingga tiga kali dalam sehari," ujar warga Kemiling, Bandar Lampung, Tajudin, Rabu (9/2/2016).
Menurutnya, pemadaman listrik itu mengganggu aktivitas sehari-hari warga Lampung, sehingga mati lampu yang terjadi dalam sepekan ini sangat merugikan warga.
"Warga sangat membutuhkan listrik untuk kebutuhan penerangan, menyetrika, menonton televisi, mesin pendingin, mesin air, dan lain-lain," kata Tajudin.
Ia mengharapkan PT PLN memberikan pelayanan yang terbaik bagi pelanggan, salah satunya dengan meminimalkan pemadaman arus listrik yang hampir terjadi setiap hari.
Senada, warga Bandar Lampung lainnya, Saipul Bahri, mengatakan pemadaman arus listrik di Lampung khususnya Kota Bandar Lampung berlangsung sejak lama, meski intensitasnya tak separah pada sepekan lalu.
"Alasannya selalu klasik, PT PLN mengatakan pemadaman arus listrik karena kerusakan transmisi, pembangkit rusak atau masih dalam masa pemiliharaan dan lainnya," tukasnya.
Saipul menyebutkan, pemadamam arus listrik secara bergilir itu sangat merugikan warga karena mengganggu aktivitas sehari-hari, seperti dilansir Rimanews.
Sementara, Deputi Manager Pengendalian Operasi Distribusi PT PLN Distribusi Lampung, A Agus Alhasewi, menjelaskan, saat ini pemadaman sistem listrik di Lampung hanya sebesar 42,8 megawatt (MW) dari kondisi malam sebelumnya yang mencapai sebesar 102 MW.
"Pembangkit 4 PLTU Tarahan sudah masuk sistem karena berakhir masa pemeliharaan, jadi bisa membantu meminimalkan krisis energi listrik yang dialami Lampung," kata dia.
Agus menerangkan, aktifnya pembangkit 4 PLTU Tarahan dapat memasok energi listrik hingga 70 MW. Saat ini, transfer dari Sistem Interkoneksi Sumatera Bagian Selatan untuk pemenuhan listrik Lampung mencapai 340 MW atau dalam kondisi maksimal.
Dalam kondisi normal, Lampung membutuhkan energi listrik sebesar 854 MW, sedangkan pasokan ke PLN Distribusi Lampung adalah sebesar 865 MW. Jumlah daya tersebut dipasok dari sejumlah pembangkit di Lampung sebesar 540 MW, dan transfer dari Sistem Interkoneksi Sumatera Bagian Selatan sebesar 325 MW.
"Pada kondisi normal, Lampung hanya memiliki surplus daya listrik sebesar 11 MW, padahal menurut kondisi ideal harus sebesar 30 persen dari total beban puncak yaitu sebesar 246 MW," jelas Agus.
Akibat kerusakan peralatan pada transmisi Baturaja-Bukit Kemuning yang disebabkan oleh sambaran petir, Lampung mengalami blackout atau mati total, pada Sabtu (6/2) pukul 06.00 WIB. Pemadaman sebesar 310 MW tersebut menimbulkan protes dari masyarakat yang aktivitasnya terganggu akibat ketiadaan aliran listrik.
Akibat kondisi itu juga, sejumlah pembangkit tenaga uap dan pembangkit tenaga panas bumi di Lampung mengalami gangguan agak parah, sehingga tidak bisa optimal memberikan pasokan listrik. Pada Sabtu dan Minggu (6-7/2), pasokan listrik untuk Lampung adalah sebesar 510 MW, atau mengalami defisit hingga 344 MW lebih. (*)
