Notification

×

Indikator: Jika KPU Menangkan Prabowo, KPU Salah

11 July 2014 | 10:45 WIB Last Updated 2016-01-04T04:46:10Z
Burhanuddin Muhtadi

JAKARTA - Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi, yakin benar dengan hasil hitung cepat yang dilakukan lembaganya. Indikator menunjukkan kemenangan Joko Widodo-Jusuf Kalla dengan 52,95 persen, sementara Prabowo-Hatta hanya mendapat 47,05 persen.

Terlebih lagi, lanjut dia, banyak lembaga survei mainstream lain yang juga menunjukkan hasil serupa.

"Kalau hasil hitungan resmi KPU nanti terjadi perbedaan dengan lembaga survei yang ada di sini, saya percaya KPU yang salah dan hasil hitung cepat kami tidak salah," kata Burhan dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (10/7/2014) sore.

Hadir dalam kesempatan itu perwakilan survei lainnya yang memenangkan Jokowi-JK, yakni Populi Center, Lingkaran Survei Indonesia, Litbang Kompas, Radio Republik Indonesia, Saiful Mujani Research and Consulting, dan Cyrus yang bekerja sama dengan Center for Strategic and International Studies.

Panitia acara mengatakan, lembaga survei yang memenangkan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa juga diundang hadir, tetapi tidak ada yang datang. Lembaga tersebut ialah Puskaptis, Indonesia Research Center, Lembaga Survei Nasional, dan Jaringan Suara Indonesia.

"Kalau berbeda, hasil hitungan KPU pasti salah, dalam artian, ada proses kecurangan dari rekapitulasi, mulai dari tingkat TPS, kelurahan, kecamatan, kabupaten, provinsi, hingga pusat. Karena berjenjang seperti itu, saya lebih percaya apa yang dikerjakan teman-teman," ujarnya, seperti dilansir tribunnews.com.

Hal serupa disampaikan Direktur SMRC Djayadi Hanan. Menurut dia, kalaupun ada perbedaan, hanya akan terdapat selisih tidak lebih dari satu persen.

"Kami cukup confident ini tidak akan ada perbedaan dengan KPU. Asal perhitungannya properly done, tanpa ada intimidasi," ujarnya.

Dibiayai MetroTV

Ketua Indikator Politik Indonesia Burhanudin Muhtadi juga mengatakan, sumber pendanaannya dalam melakukan perhitungaan cepat dari stasiun televisi swasta Metro TV. Menurutnya hal itu sudah sesuai dengan kode atik persepsi.

"Jadi setiap survei yang dikonsumsi publik itu harus diumumkan darimana dananya. Kalau kami untuk konteks pilpres quick count 100 persen dibiayai Metro TV," ujarnya.

Keikutsertaanya lembaganya dalam pilpres 9 Juli itu diakuinya hanya untuk memeriahkan pemilu. Ia menyebutkan telah menyediakan link khusus untuk melihat hasil quick count kemarin, sebaran wilayah, beserta electoral mapnya di Indikator.web.id.

Burhan mengatakan, metodologi yang digunakannya dalam quick count telah disebarkan dan dijelaskan melalui rilis. Dalam perhitungan cepat, pihaknya memakai kombinasi sistem cluster dan stratified.

"Kami diambil data dari framenya dulu, yaitu jumlah TPS seluruh Indonesia. Diambil proses sampling sebanyak 2ribu TPS dengan selang kepercayaan 99 persen," kata Burhan.

Menurut Burhan, ilmu dasar statistik sosial, kalau populasinya banyak itu mudah. Diibaratkan seperti mau masak sayur asem dalam kuali besar.

Tak hanya itu, sementara dalam melakukan exit poll, dirinya juga menggunakan wawancara dari TPS terpilih dalam quick count. Wawancaranya dilakukan pukul 07.00-09.00 WIB pagi. "Per TPS ditentukan waktu yang berbeda dan gender yg berbeda," tuturnya.

Menurut Burhan, dalam konteks exit poll tadi, terdapat juga kelemahan seperti tidak. semua responden mau jawab siapa yang mereka coblos di bilik suara. Namun kata dia, semakin sedikit responden yang bisa merahasiakan jawabannya justru semakin baik.

"Kita temukan 17 persen gak mau sebut coblos siapa," usainya.