Notification

×

Ikhlas ya Mi, Renggo Sayang Mami...

07 May 2014 | 04:12 WIB Last Updated 2014-05-06T21:12:12Z
Yessi Puspa Dewi (31), kakak tiri sekaligus pengasuh Renggo Khadafi (11), murid kelas V SD yang tewas setelah diduga dianiaya kakak kelasnya. (sumber: Istimewa)

JAKARTA - Raut kesedihan masih terlihat di wajah Yessi Puspa Dewi (31), kakak tiri sekaligus pengasuh Renggo Khadafi (11), murid kelas V SD yang tewas setelah diduga dianiaya kakak kelasnya.

Yessi masih tak menyangka bocah penurut yang diasuhnya selama sembilan tahun terakhir itu harus meregang nyawa di pelukannya pada Minggu (4/5/2014) dinihari lalu.

Masih teringat jelas dalam ingatan Yessi saat Renggo memanfaatkan waktu-waktu terakhirnya dalam perawatan di rumah kontrakannya berukuran 3 x 4 meter, di Gang Raban RT 05/05, Kelurahan Halim, Kecamatan Makasar, Jakarta Timur. Dengan sekujur tubuh yang lebam, Renggo meminta Yessi untuk ikhlas melepas kepergiannya.

"Ikhlas ya Mi...Renggo sayang Mami," kata Yessi menirukan kata-kata Renggo, saat ditemui di rumahnya Senin (5/5/2014).

Selain meminta Yessi untuk ikhlas, Renggo juga meminta agar kasus ini tidak berlanjut ke ranah hukum. Meski telah babak belur hingga kondisinya terus menurun, dengan hati yang tulus, Renggo justru tak tega jika S (12), kakak kelas yang memukulinya menjalani proses hukum. Renggo memikirkan masa depan S yang dalam waktu dekat akan mengikuti ujian kelulusan.

"Renggo juga berharap agar S tidak dipenjara, kasihan Mi," kata Yesy Puspadewi, sambil menitikan air mata.

Usai menyampaikan pesan terakhirnya, sekitar pukul 00.30 WIB, Renggo kejang-kejang. Tak hanya itu, dari mulutnya, Renggo menyemburkan darah segar. Yessi yang panik segera meminta keluarga dan warga untuk membawa Renggo ke Rumah Sakit Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur.

"Tapi nyawanya nggak tertolong. Renggo sudah tidak ada sekarang. Nggak ada lagi yang nememin saya di rumah. Nggak nyangka, kalau itu jadi kata-kata terakhirnya," kata Yessy sambil menyeka air matanya.

Yessi menuturkan, Renggo yang merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara pasangan Entin Sukartini dan Yurnalis (60). Saat berusia dua tahun, sang ibu meninggal dunia. Saat itu pula, Yessi dan sang suami, Eko Wahyudi (35) merawat dan mengasuh Renggo.

"Kami sudah sembilan tahun nggak punya anak, akhirnya Renggo kami yang asuh. Dia sudah seperti anak kami sendiri," tutur Yessi yang sehari-hari menjadi ibu rumah tangga itu.

Semasa hidupnya Renggo merupakan anak yang baik. Bahkan, di tempat tinggalnya ia sangat disukai dengan para tetangga. Kini, Yessi dan keluarga Renggo berharap keadilan ditegakkan. Dengan kematian Renggo yang dianggap tidak wajar, Yessi belum dapat menerima perlakuan S terhadap anak asuhnya.

"Anak saya memang mintanya dia (SY) tidak ditahan, tapi saya mau proses hukum terus berlanjut," tegasnya.

Yessi mengungkapkan, proses hukum ini ditempuh karena tindakan S sudah di luar batas seorang anak belasan tahun. Berdasar penuturan Renggo sebelum meninggal dunia, Yessi mengatakan, anak asuhnya itu dipukuli dan ditendang puluhan kali dengan kondisi kedua tangannya dipegangi teman pelaku berinisial A dan Ag.

"Nggak cuma itu. Muka anak saya juga disodok-sodok dengan kain pel dan mulut disumpal kain pel pula," ungkapnya.

Hati Yessi lebih merasa sakit karena tak sedikitpun terlontar permintaan maaf dari S dan keluarga. Saat melayat ke rumahnya, S dan orangtuanya hanya mengucapkan turut berduka.

"S datang sama bapak, ibunya, melayat, tanpa ada rasa penyesalan. Berani-beraninya, bilang, sabar ya bu, ke saya. Siapa yang nggak kesal, saya langsung maki-maki. Nggak peduli di depan orang-orang, maupun di depan jenazah anak saya," kata Yessi penuh kesal.

Kekesalan Yessi sudah terasa saat mencoba melaporkan kasus penganiayaan ini ke pihak sekolah pada Jumat (2/5/2014) setelah mendengar cerita anaknya tersebut. Namun, pihak sekolah justru tertutup dan meminta agar kasus ini diselesaikan secara kekeluargaan.

"Disitu dipanggil orangtua S dan S sendiri hadir juga. S mengaku telah memukul anak saya, tapi Kepala Sekolah malah justru minta damai. Saya bilang, sama pihak sekolah, kalau sampai ada apa-apa sama anak saya, saya akan laporkan ini ke pihak polisi. Feeling saya bener, ternyata karena pemukulan itu anak saya meninggal," tegasnya.

Pernyataan ini membantah pernyataan pihak sekolah yang menyebut tidak ada murid atau orangtua yang melaporkan kasus kekerasan ini. Pihak sekolah berdalih, pada Jumat (2/5), orangtua Renggo memang datang ke sekolah, namun hanya untuk menyampaikan izin jika korban belum dapat bersekolah.

"Tidak ada yang melapor. Info dari guru tidak ada yang melapor. Waktu orangtua hadir ke sini, mereka hanya izin anaknya tidak masuk," kilah Kepala SDN 09 Makasar, Sri Hartini saat ditemui di kantornya, Senin (5/5).

Tak hanya itu, Sri mengklaim pihaknya telah mengawasi anak didik dengan maksimal. Padahal, peristiwa itu terjadi di ruang kelas yang bersebelahan dengan Ruang Kepala Sekolah saat jam istirahat.

"Sudah. Pengawasan ke anak-anak sudah semaksimal mungkin," kata Sri Hartini, Kepala SDN 09 Makasar saat ditemui di ruangannya, Senin, seperti dilansir beritasatu.com.

Dikatakan Sri, setiap harinya ada guru piket yang selalu mengawasi anak murid saat jam istirahat. Namun, saat peristiwa itu terjadi, guru piket bernama Rosminta tidak melihat adanya penganiayaan.