![]() |
| Watoni Noerdin (kanan). (dok.facebook) |
LAMPUNG - Politik transaksional atau lelang suara sebesar Rp250 ribu per suara mampu mengantarkan oknum calon legislatif (Caleg) ke parlemen, ujar anggota DPRD Provinsi Lampung Watoni Noerdin, di Bandar Lampung, Selasa (6/5/2014).
"Di salah satu daerah yang memiliki tiga blok A, B dan C, misalnya. Masing-masing ketua RT bermain, blok A menawarkan satu suara Rp50 ribu, lalu blok B Rp100 ribu dan blok C Rp150 ribu," kata Watoni.
Mantan aktivis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) itu menguraikan, saat di blok A yang harganya paling murah mau dibeli, maka oleh ketua RT-nya harganya dinaikkan seperti di blok C.
"Sehingga harga suara bisa naik, bahkan dihargai lebih Rp250 ribu per suara, ini contoh demokrasi materialistis dewasa ini dan mampu mendudukan pelaku politik uang ke parlemen," kata politisi PDI Perjuangan Lampung ini.
Ia menjelaskan, masyarakat sipil dan masyarakat madani saat sudah tak ada. Demokrasi saat ini carut marut dan banyak kecurangan sana-sini.
"Proses Pemilu 2014 harus dieavulasi sehingga Pemilu 2019 bisa tercipta sistem demokrasi lebih baik," tambah Watoni, seperti dilansir iyaa.com.
Sementara itu, Yayasan Satu Nama menggelar pelatihan Civic Education for Future Indonesia Leaders (CEFIL) 4-9 Mei 2014 di Griya Inayah Bandar Lampung membahas kehidupan demokrasi di Indonesia dan Lampung.
Kegiatan menghadirkan sejumlah narasumber seperti AE Priyono, peneliti di Public Virtue Institute dan Watoni Noerdin tersebut diharapkan memperkuat "civic movement" pada arena masyarakat sipil melalui civic education yang bertujuan meningkatkan kapasitas kepemimpinan sipil dan demokrasi itu.
Sebanyak 99 persen peserta dari lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan jurnalis di Lampung saat disodori pertanyaan mengenai kehidupan demokrasi setelah Suharto turun menjawab demokrasi saat ini adalah demokrasi negatif, seperti berbelit-belit, krisis, politik uang, kemorosotan moral bangsa, carut marut, korupsi merajalela, semrawut, auto pilot. Adapun satu persen menilai demokrasi cukup baik.
