LAMPUNG - Pemadaman bergilir masih saja menghantui sejumlah wilayah di Tanah Air. Salah satunya di Bandar Lampung. Mati lampu di kota tersebut dikeluhkan warga karena terlalu sering terjadi.
"Hampir setiap hari lampu mati di sini. Malah pernah dalam sehari mati lampu di sini bisa sehari tiga kali, kaya minum obat gitu," ujar Bimo Anggoro saat dihubungi, Senin (9/9/2013).
Terparah, lanjut Bimo, yaitu pada dua pekan lalu. Saat listrik di Bandar Lampung padam lebih dari 24 jam. Hal ini tentu saja sangat mengganggu aktivitas sehari-hari warga Bandar Lampung.
"Pas pulang kerja jam 7 malam mati, besok pagi masih mati. Sampai saya pulang kantor masih belum nyala. Seingat saya nyalanya baru lagi jam 11 malam," ungkap Pria berusia 28 tahun.
Bimo barharap PLN bisa meningkatkan kehandalan pasokan listrik di Lampung agar pemadaman listrik tak terus menerus membayangi kota itu.
"Terus kalau mau mati lampu, seharusnya PLN memberi pemberitahuan dari jauh-jauh hari dan disampaikan langsung ke setiap pelanggan, biar ada persiapan," terang Bimo.
Apa Kata PLN?
PT PLN (Persero) angkat bicara soal pemadaman bergilir yang terus menghantui Sumatera, khususnya Sumatera Utara (Sumur), Sumatera Barat (Sumbar), Riau dan Lampung.
Menurut Manajer Senior Komunikasi Korporat PLN Bambang Dwiyanto, pemadaman listrik di daerah disebabkan kurangnya pasokan listrik. Defisit tersebut terjadi akibat terlambatnya proyek percepatan 10 ribu megawatt (MW) tahap I seperti pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Pangkalan Susu di Sumut, PLTU Nagan Raya di Aceh, dan PLTU Teluk Sirih di Sumbar.
"Kondisi pasokan listriknya pas-pasan bahkan saat tertentu pasokan kurang sehingga terpaksa dilakukan pengurangan beban atau pemadaman bergilir," kata Bambang, seperti yang ditulis di Jakarta, Senin.
Bambang menjelaskan, banyak penyebab proyek 10 ribu MW tersebut mengalami keterlambatan, diantaranya adalah ketidakdisiplinan kontraktor proyek dalam target yang sudah ditetapkan.
"Penyebabnya komplikasi juga, seperti kontraktor yang tidak perform, kendala komunikasi (bahasa) dengan mereka, masalah pembebasan lahan, masalah sosial dan lain-lain," jelasnya.
Bambang menjelaskan, proyek 10 ribu MW tahap I adalah pengalaman pertama PLN bekerja sama dengan kontraktor dari China. Sebelumnya, untuk proyek-proyek pembangkit seperti itu PLN terbiasa bekerjasama dengan kontraktor dari Jepang, Jerman atau Amerika.
"Sebenarnya proyek-proyek tersebut dulu digunakan untuk mengantisipasi pertumbuhan beban listrik yang sangat tinggi akhir-akhir ini. Sebagai gambaran, tahun lalu pertumbuhan permintaan listrik mencapai 10%. Ini adalah angka pertumbuhan tertinggi selama 5 tahun terakhir. Biasanya pertumbuhan skitar 7-9 % per tahun," ungkapnya.
Selain itu, penyebab byarpet di daerah tersebut adalah musim kemarau yang berlangsung saat ini sehingga beberapa pembangkit listrik tenaga air (PLTA) tidak bisa beroperasi maksimal karena debit air yang tidak cukup.
"Ini adalah tipikal dasar dari sebuah PLTA, biaya operasi PLTA murah namun operasinya sangat tergantung vaiasi musim. Sebagai contoh Sistem Sumbagteng yang meliputi Sumbar dan Riau sangat mengandalkan PLTA. Di sistem ini setidaknya ada 4 PLTA yaitu Singkarak, Kotopanjang, Batang Agam dan Maninjau," papar Bambang.
