Notification

×

Istri Terduga Teroris: Mereka Injak Nasi yang Saya Makan

10 May 2013 | 22:31 WIB Last Updated 2013-05-10T17:18:55Z
Tim Densus 88 Grebek Teroris Lampung
Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror melanjutkan pengejaran terduga teroris di Lampung, dua rumah kontrakan di Tanjung Seneng, Bandar Lampung, digerebek, Jumat (10/5/2013) pukul 14.30 WIB.Tujuh anggota Densus 88 bersenjata laras panjang dengan didampingi aparat Kepolisian Resor Bandar Lampung, menggerebek rumah kontrakan di Gang Damai dan Jalan Pulau Sari Perumahan Way Kandis Bandar Lampung, menurut pantauan dari lokasi penggerebekan tim Densus mengamankan satu buah kardus. (perdiansyah/tribunlampung)

LAMPUNG -
Selain menggerebek dua rumah di Kecamatan Tanjung Seneng, Bandar Lampung, Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror sebelumnya menangkap satu orang bernama Adin di rumahnya di Jalan Jetis Dusun 3A Karang Anyar, Lampung Selatan, Jumat (10/5/2013) pagi.

Adin diduga terlibat dalam aksi perampokan Bank Rakyat Indonesia (BRI) Pringsewu  bulan lalu. "Sekitar Rp400 juta dirampok, dan uang tersebut diduga digunakan untuk mendanai aksi jaringan terorisme kelompok Abu Roban," kata Kapolresta Bandar Lampung, Komisaris Besar Nurochman.

Menurut istri terduga, Rohayati, sekitar pukul 09.00 pagi tim Densus 88 bersenjata lengkap langsung masuk setelah mendobrak rumah. Dia mengatakan, Densus langsung menangkap Adin, juga melakukan penggeledahan dan membawa empat unit handphone dan beberapa buku.

Saat itu mereka sekeluarga sedang sarapan di ruang tengah. Tiba-tiba ada suara pintu didobrak. Ternyata beberapa orang dengan menenteng senjata laras panjang memakai penutup muka langsung masuk. "Mereka (anggota Densus 88) langsung menodongkan senjatanya ke suami saya. Nasi yang sedang saya makan bahkan diinjak oleh mereka. Saya bersama anak-anak disuruh ke luar rumah," kisah Rohayati kepada wartawan.

Rohayati mengaku ia tidak percaya suaminya merupakan terduga teroris, apalagi pelaku perampokan. Selama ini kehidupan mereka sehari-hari sederhana. "Kalau suami saya teroris atau perampok, buktinya kami makan masih pakai ikan asin. Ia (Adin) juga sehari-hari bekerja sebagai pedagang bakso ikan keliling," kata Rohayati.

Rohayati juga mengatakan Adin tidak pernah pergi dalam waktu lama. "Suami selalu bersama saya. Dia tidak pernah pergi ke mana-mana. Jadi tidak mungkin dia melakukan perampokan," ucapnya.

Gagal
Setelah gagal menangkap terduga teroris di Gang Damai No 19 Jalan Ratu Dibalau, Way Kandis, Bandar Lampung, tim Detasemen Khusus 88 Antiteror menuju sebuah rumah kontrakan yang diduga juga ditinggali para terduga teroris.

Lokasi kedua ini beralamat di Gang Pulau Sari, Jalan Pulau Raya, Kelurahan Perumnas Way Kandis, Tanjung Seneng, Bandar Lampung. Di lokasi kedua ini, tim Densus 88 yang bersenjata lengkap mendobrak sebuah rumah kontrakan dengan sebuah warung di depannya.

Rumah ini diduga ditempati terduga teroris bernama Solihin, yang juga merupakan jaringan teroris Lampung yang berafiliasi dengan teroris yang lebih dahulu ditangkap di Kendal, Kebumen, dan Bandung.

Tim Densus 88 bersama dengan Kapolres Bandar Lampung Komisaris Besar Nurochman mendobrak paksa pintu rumah, karena saat itu dalam kondisi terkunci gembok. Mereka kemudian masuk dan melakukan penggeledahan.

Namun, pada penggerebekan kedua ini, Densus 88 juga tidak mendapati pemilik rumah yang diduga didiami Solihin dan istrinya. Tapi polisi berhasil mengamankan puluhan barang bukti berupa buku-buku jihad dan sebuah pelat nomor kendaraan.

Pelat nomor kendaraan itu diduga digunakan saat merampok sebuah Bank BRI di kawasan Pringsewu Lampung beberapa waktu lalu. Sekitar Rp400 juta raib saat perampokan tersebut. "Uangnya untuk membiayai aksi jaringan terorisme," kata Kapolresta Bandar Lampung Komisaris Besar Nurochman.

Aksi ini sempat menjadi pusat perhatian warga sekitar, karena lokasi penggerebekan kedua berada di sebuah gang sempit padat penduduk. Eka, yang merupakan tetangga terduga teroris mengaku mengenal penghuni rumah itu sebagai tukang sablon di daerah Gedong Tataan, Pesawaran, Lampung. "Tapi mereka juga kurang bersosialisasi dengan kami," kata Eka.

sumber