Notification

×

Perut Ibu Hamil 8 Bulan Diinjak Suami

10 May 2013 | 23:33 WIB Last Updated 2016-07-31T11:55:28Z
Eka terbaring lemah di ranjang tempat pelayanan kesehatan Bidan Yoyoh Atmaja, Kelurahan Pringsewu Selatan, Kecamatan Pringsewu, Kabupaten Pringsewu, Jumat (10/5/2013). (robertus didik/tribunlampung)

PRINGSEWU -
Eka, seorang ibu satu anak yang tengah hamil delapan bulan, terbaring lemah di ranjang tempat pelayanan kesehatan Bidan Yoyoh Atmaja, Kelurahan Pringsewu Selatan, Kecamatan Pringsewu, Kabupaten Pringsewu, Jumat (10/5/2013).

Wanita yang sejak empat bulan tinggal di Pasar Baru, Kelurahan Fajaresuk, Kecamatan Pringsewu, ini dianiaya suaminya sendiri, Tusiran, Kamis (9/5/2013) malam di Tempat Pemakaman Umum Mares. Beruntung dia bisa menyelamatkan diri sehingga selamat.

Namun, kekerasan yang dilakukan suaminya tersebut menyisakan bekas. Matanya terlihat membengkak dan bola matanya memerah. Eka merasa pinggang hingga ke lehernya sakit. Berbicaranya pun lemah, serasa menahan sakit di sekujur tubuhnya.

Perlahan dia menceritakan bahwa peristiwa itu bermula saat Tusiran mengajaknya ke Pekon Waluyojati, melalui rute kuburan Mares. Mereka berangkat bertiga, bersama Ami (2), putrinya. Tapi, saat melintas di kuburan, Tusiran menghentikan motornya. Padahal hujan deras turun di malam itu. "Aku nggak mau dikejer, diseret-seret, dicekek-cekek ," tukasnya.

Eka mengaku, perutnya yang berisi jabang bayi berusia delapan bulan turut diinjak-injak. Tidak hanya Eka, Tusiran juga mencekik Ami. Eka pun tidak berdaya dengan perbuatan suaminya itu. Lantas, dia berdiam diri dan berpura-pura meninggal. Kemudian, Tusiran menyeret Eka dan membawanya ke gubuk yang ada di dekat pemakaman tersebut.

Sesekali, Tusiran memeriksa pergelangan kaki istrinya untuk memastikan apakah sudah meninggal atau belum. Selanjutnya meninggalkan Eka begitu saja di lokasi tersebut. Saat Tusiran pergi, Eka berusaha mencari pertolongan ke rumah warga terdekat. "Saya kedinginan, hujan deras, sampai menggigil," katanya.

Namun, Eka masih bungkam ketika ditanya apa yang menjadi sebab suaminya gelap mata. Menurutnya, yang jelas Tusiran malam itu berupaya membunuhnya. Informasi beredar di sekitar tetangganya, Tusiran marah karena Eka akan memberikan bayi yang dikandung ke orang lain. Tapi ada juga yang mengatakan, Tusiran pernah curhat kehilangan uang. Tapi yang jelas, tetangga sering mendengar, keluarga itu ribut.

Ami Hilang
Eka tak kuasa menitikan air mata begitu teringat putrinya, Ami (2). Sebab, hingga dia dirawat di Bidan Yoyoh Atmaja, Kelurahan Pringsewu Selatan, Kecamatan Pringsewu, belum juga mendapat kabar soal Ami.

Bahkan keberadaan Ami pun Eka juga tidak tahu. Seingatnya, malam itu Tusiran juga menganiaya dan mencekik Ami. Oleh karena itu, dia mengkhawatirkan keselamatan Ami. Apa lagi sepengetahuan Eka, malam itu Tusiran membawa karung."Tolong pak temukan dulu anak saya, kalau sudah meninggal tolong bawa ke sini," pintanya.

Selama berada di tempat perawatan bidan itu, Eka lebih sering seorang diri. Terkadang ada tetangganya yang berkunjung. Eka selama berada di Lampung tidak memiliki sanak saudara. Dia berasal dari Temanggung, Jawa Tengah, dan berada di Pringsewu karena turut suami. Sementara Tusiran, berasal dari Wonosobo, Kabupaten Tanggamus.

Kepala Polsek Pringsewu Kompol Hepi Hasasi mengatakan, korban belum melapor. Akan tetapi, lanjut dia, pihaknya sudah melakukan pencarian putrinya Eka di tempat kejadian perkara. "Kami sudah melakukan pencarian lagi ke TKP tadi, namun belum ada keterangan yang pasti karena korban belum bisa diwawancara," katanya.

Bupati Pringsewu Sujadi Saddat yang mengetahui peristiwa itu langsung meminta kepada Dinas Sosial, Tenagakerja dan Transmigrasi Pringsewu mengecek kondisi Eka. Mengingat, korban tidak memiliki sanak saudara. Sujadi pun sempat memberi tali asih untuk Eka guna membantu biaya pengobatan selama dirawat.