![]() |
| Sjachroedin ZP |
LAMPUNG - Gubernur Lampung Sjachroedin ZP mengaku prihatin atas masih rendahnya minat baca masyarakat. Ia juga mengkhawatirkan, kondisi seperti itu akan terus berlanjut jika pemerintah daerah tidak segera mengambil kebijakan yang bersifat terobosan baru.
"Seperti di tingkat provinsi, yang akan terus menambah jumlah buku di perpustakaan, pemerintah kabupaten/kota juga harus melakukan terobosan, misalnya membangun perpustakaan daerahnya sendiri," kata Sjachroedin, Sabtu (11/5/2013).
Ia mengatakan, pihak perpustakaan daerah akan terus diminta untuk mengaktifkan fasilitas perpustakaan keliling. Terutama di daerah perdesaan yang notabene jauh dari toko buku atau perpustakaan.
Selain itu, gubernur juga meminta pemkab dan pemkot berinisiatif mengajak pengusaha lokal bekerja sama untuk membuka toko buku. "Bisa juga pemkab/pemkot mengajak perusahaan toko buku besar agar mau membuka cabang di daerahnya," imbuhnya.
Sekretaris Jenderal Front Mahasiswa Nasional (FMN) Cabang Bandar Lampung Rajahot Sinterklaus mengatakan, penyebab utama rendahnya minat baca masyarakat juga disebabkan minimnya kepedulian pemerintah daerah.
"Kondisi perekonomian mayoritas masyarakat yang masih berkesusahan, menyebabkan mereka sulit untuk membeli buku. Hal ini seharusnya bisa ditanggulangi pemprov maupun pemkot/pemkab dengan membangun taman-taman bacaan gratis," jelasnya.
Menurut Raja, pembangunan taman-taman bacaan gratis tersebut bisa menjadi alternatif di tengah sedikitnya toko buku dan masih banyaknya masyarakat miskin di Lampung.
"Selama ini, pembangunan taman bacaan seperti itu masih dilakukan secara mandiri oleh masyarakat atau organisasi massa. Alangkah baiknya, jika pemda juga ikut melakukan hal serupa," tandasnya.
"Seperti di tingkat provinsi, yang akan terus menambah jumlah buku di perpustakaan, pemerintah kabupaten/kota juga harus melakukan terobosan, misalnya membangun perpustakaan daerahnya sendiri," kata Sjachroedin, Sabtu (11/5/2013).
Ia mengatakan, pihak perpustakaan daerah akan terus diminta untuk mengaktifkan fasilitas perpustakaan keliling. Terutama di daerah perdesaan yang notabene jauh dari toko buku atau perpustakaan.
Selain itu, gubernur juga meminta pemkab dan pemkot berinisiatif mengajak pengusaha lokal bekerja sama untuk membuka toko buku. "Bisa juga pemkab/pemkot mengajak perusahaan toko buku besar agar mau membuka cabang di daerahnya," imbuhnya.
Sekretaris Jenderal Front Mahasiswa Nasional (FMN) Cabang Bandar Lampung Rajahot Sinterklaus mengatakan, penyebab utama rendahnya minat baca masyarakat juga disebabkan minimnya kepedulian pemerintah daerah.
"Kondisi perekonomian mayoritas masyarakat yang masih berkesusahan, menyebabkan mereka sulit untuk membeli buku. Hal ini seharusnya bisa ditanggulangi pemprov maupun pemkot/pemkab dengan membangun taman-taman bacaan gratis," jelasnya.
Menurut Raja, pembangunan taman-taman bacaan gratis tersebut bisa menjadi alternatif di tengah sedikitnya toko buku dan masih banyaknya masyarakat miskin di Lampung.
"Selama ini, pembangunan taman bacaan seperti itu masih dilakukan secara mandiri oleh masyarakat atau organisasi massa. Alangkah baiknya, jika pemda juga ikut melakukan hal serupa," tandasnya.
