![]() |
| Wali Kota Bandar Lampung Herman HN (peci hitam) ikut merayakan pesta Ogoh-ogoh di Tugu Adipura Bandar Lampung, Senin (11/3/2013). (foto: adolf ayatullah indrajaya) |
BANDAR LAMPUNG – Pesta Ogoh-ogoh (atraksi raksasa buatan) memperingati tahun baru Saka bagi warga Bali beragama Hindu di Bandar Lampung, Senin (11/3/2013), tercemar oleh aksi tukang copet.
Aksi tradisi umat Hindu keturunan Bali di bundaran Tugu Adipura, pusat kota Bandar Lampung ini, menjadi tidak khidmat, setelah seorang tukang copet diketahui bernama Dandi, beraksi di keramaian orang yang mengarak Ogoh-ogoh.
Setelah diciduk warga, beberapa polisi terpaksa mengamankan Dandi dari amukan massa. Ia dibawa ke pos polisi setempat. Kapolresta Bandar Lampung, AKBP Nurrochman, mengatakan pihaknya terpaksa mengamankan tersangka untuk dimintai keterangan lebih lanjut.
Kepada polisi, Dandi mengatakan dirinya orang baik, dan tidak berniat mencuri. Setelah diperiksa dalam sakunya, polisi tidak menemukan dompet atau sejumlah uang. “Saya ini orang baik-baik, Pak,” kata Dandi kepada polisi.
Sebelumnya, ratusan umat Hindu keturunan Bali melakukan upacara mengarak ogoh-ogoh di Tugu Adipura. Empat ogoh-ogoh raksasa sebagai simbol melawan kebatilan dibuat khusus warga keturunan Bali yang tinggal di Lampung.
Ogoh-ogoh ini diarak keliling tugu yang menjadi landmark kota ini oleh puluhan anak-anak muda yang mengenakan berbagai atribut khas Hindu Bali. Kaum perempuan yang hadir juga membawa sesajen untuk upacara menyambut Nyepi.
Menurut I Putu Soertha Adnyana, Ketua Parisade Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bandar Lampung, esensi upacara arak-arakan ogoh-ogoh adalah intropeksi diri untuk memohon maaf kepada alam dan lingkungan.
"Kami sengaja melakukan ini di Perempatan Tugu Adipura yang merupakan titik nol Lampung. Kami, warga Hindu, siap memulai hidup baru menyambut tahun baru Saka, kembali dari nol dan berpasrah kepada alam Bumi Lampung," tuturnya.
Menurut I Putu Soertha Adnyana, Ketua Parisade Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bandar Lampung, esensi upacara arak-arakan ogoh-ogoh adalah intropeksi diri untuk memohon maaf kepada alam dan lingkungan.
"Kami sengaja melakukan ini di Perempatan Tugu Adipura yang merupakan titik nol Lampung. Kami, warga Hindu, siap memulai hidup baru menyambut tahun baru Saka, kembali dari nol dan berpasrah kepada alam Bumi Lampung," tuturnya.
Rangkaian perayaan Nyepi tahun ini mengambil tema "Dengan Persaudaraan, Kita Bangun Kebersamaan". Tema ini secara tidak langsung merupakan refleksi pentingnya hidup kebersamaan antar-umat beragama, menyusul rangkaian konflik antar-etnis yang sempat terjadi setahun terakhir, khususnya di Lampung.
