LAMPUNG - Ekspor kopi dalam kemasan (instan) asal Provinsi Lampung pada Februari 2013 mencapai 73,24 ton atau meningkat 17,79% dibandingkan volume ekspor pada bulan sebelumnya (mtm) sekitar 62,177 ton.
Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian, dan Perdagangan Provinsi Lampung Ratna Dewi mengatakan peningkatan volume tersebut juga ikut mendongkrak nilai ekspor kopi lampung menjadi US$692.187 atau naik 16,7% dari Januari senilai US$593.134 dolar.
“Ekspor kopi instan bulan ini volumenya meningkat menjadi 73,24 ton dengan nilai ekspor mencapai US$692.187,” ucapnya, Jumat (22/3/2013).
Dia yakin bahwa ekspor kopi instan di Lampung akan terus meningkat seiring dengan minat pembeli dari luar negeri cukup tinggi. Didukung pula dengan pemasaran kopi dalam kemasan yang cukup bagus mengingat Lampung merupakan penghasil kopi robusta terbesar di Indonesia.
Prospek pasar komoditas kopi Lampung tetap cerah dan promosi ke beberapa negara terus dilakukan, katanya. Pangsa pasar kopi instan Lampung ke sejumlah negara seperti Singapura dan Vietnam serta sejumlah negara lain di dunia.
“Ekspor kopi dalam kemasan masih tetap berlangsung meski tidak sebanyak penjualan biji kopi di dalam negeri,” jelasnya.
Lebih lanjut dia mengatakan nilai maupun volume ekspor kopi Lampung, masih fluktuatif tergantung permintaan serta kontrak perjanjian yang telah dibuat antara pengekspor dengan pembeli. Sentra produksi industri komoditas kopi instan Lampung terdapat di Kota Bandarlampung. Daerah ini memiliki kapasitas produksi kopi instan rata-rata 6.000 hingga 10.000 ton pertahun.
Sementara itu, pedagang kopi bubuk di Bandarlampung, Provinsi Lampung, menyebutkan volume penjualan komoditas itu sejak pekan lalu hingga sekarang cenderung meningkat, mengingat mutunya tergolong baik.
Yanto, pedagang kopi bubuk di Pasar Tugu Bandarlampung mengatakan, dalam sehari mampu menjual 40 kg kopi bubuk, padahal sebelumnya hanya berkisar 30 kg. Luas areal tanaman kopi di Lampung mencapai 163.837 hektare dengan produksi kopi mencapai sekitar 140 ribu ton/tahun.
Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian, dan Perdagangan Provinsi Lampung Ratna Dewi mengatakan peningkatan volume tersebut juga ikut mendongkrak nilai ekspor kopi lampung menjadi US$692.187 atau naik 16,7% dari Januari senilai US$593.134 dolar.
“Ekspor kopi instan bulan ini volumenya meningkat menjadi 73,24 ton dengan nilai ekspor mencapai US$692.187,” ucapnya, Jumat (22/3/2013).
Dia yakin bahwa ekspor kopi instan di Lampung akan terus meningkat seiring dengan minat pembeli dari luar negeri cukup tinggi. Didukung pula dengan pemasaran kopi dalam kemasan yang cukup bagus mengingat Lampung merupakan penghasil kopi robusta terbesar di Indonesia.
Prospek pasar komoditas kopi Lampung tetap cerah dan promosi ke beberapa negara terus dilakukan, katanya. Pangsa pasar kopi instan Lampung ke sejumlah negara seperti Singapura dan Vietnam serta sejumlah negara lain di dunia.
“Ekspor kopi dalam kemasan masih tetap berlangsung meski tidak sebanyak penjualan biji kopi di dalam negeri,” jelasnya.
Lebih lanjut dia mengatakan nilai maupun volume ekspor kopi Lampung, masih fluktuatif tergantung permintaan serta kontrak perjanjian yang telah dibuat antara pengekspor dengan pembeli. Sentra produksi industri komoditas kopi instan Lampung terdapat di Kota Bandarlampung. Daerah ini memiliki kapasitas produksi kopi instan rata-rata 6.000 hingga 10.000 ton pertahun.
Sementara itu, pedagang kopi bubuk di Bandarlampung, Provinsi Lampung, menyebutkan volume penjualan komoditas itu sejak pekan lalu hingga sekarang cenderung meningkat, mengingat mutunya tergolong baik.
Yanto, pedagang kopi bubuk di Pasar Tugu Bandarlampung mengatakan, dalam sehari mampu menjual 40 kg kopi bubuk, padahal sebelumnya hanya berkisar 30 kg. Luas areal tanaman kopi di Lampung mencapai 163.837 hektare dengan produksi kopi mencapai sekitar 140 ribu ton/tahun.
