Notification

×

Warga Lampung Pelaku Penembakan di Kantor MUI Hendak Hajatan Pengangkatan Dirinya sebagai Nabi

03 May 2023 | 19:33 WIB Last Updated 2023-05-05T13:31:08Z
Pelaku penembakan di Kantor MUI Pusat tengkurap saat ditangkap (Foto: Istimewa)


BANDAR LAMPUNG - Publik digegerkan dengan penembakan Kantor MUI Pusat di Menteng, Jakarta Pusat pada Selasa (2/5/2023). 


Pelaku, Mustopa NR (60) langsung dibekuk petugas keamanan kantor usai melakukan aksinya. 


Sebelum dibekuk, pelaku sempat menembakkan senjata berupa airsoft gun hingga menyebabkan satu korban tertembak di bagian punggung. 


Sementara korban lain terluka terkena sepihan kaca yang pecah akibat peluru. 


Usai dibekuk, Mustopa sempat pingsan ketika akan dibawa ke Polsek Menteng. Ia pun langsung dibawa ke puskesmas dan dinyatakan meninggal dunia. 


Petugas menemukan KTP pelaku di lokasi. Berdasarkan data di KTP, Mustopa lahir di Sukajaya, 9 April 1963 dan berprofesi sebagai petani. 


Mustopa berdomisili di Desa Suka Jaya, Kecamatan Kedondong, Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung. 


Sementara itu polisi menyebut Mustopa tiba di Kantor MUI Jakarta menggunakan taksi online. 


Dua hari sebelum melakukan penembakan, tetangga sempat melihat Mustopa di rumahnya, Desa Sukajaya, Pesawaran, Lampung. 


Kendati demikian, tetangga yang enggan disebutkan namanya tidak mengetahui pastinya kapan Mustopa pergi ke Jakarta. 


Lebih detail, tetangga Mustopa itu mengungkapkan yang bersangkutan masih sempat makan malam bersama keluarganya. 


“Waktu itu saya lihat malam, masih ada di depan rumah,” ucap dia. 


Selain itu, Mustopa pun disebut sempat memomong cucunya saat terlihat di rumahnya. 


Fakta ini pun membuat tetangga Mustopa terkejut dengan berita penembakan di Kantor MUI Pusat yang dilakukan Mustopa. 


Bahkan ia sempat tidak percaya bahwa pelaku penembakan tersebut adalah tetangganya sendiri. 


Tetangga menyebut Mustopa kerap ikut kegiatan sosial di desanya dan sering bercengkrama dengan para tetangga. 


“Namun, pelaku ini punya topik kalau ngobrol, kalau nggak nyambung dia pergi,” katanya, dilansir Kompas.com


Tetangga Mustopa lainnya, Gustam mengatakan kehidupan sehari-hari Mustopa seperti warga lainnya. 


Menurutnya pelaku bekerja sebagai petani dan memiliki usaha menjual minyak eceran. 


"Kalo kehidupannya itu normal, dia petani, pernah juga jual minyak eceran. Dia punya kebun coklat," kata Gustam. 


Tak pelak, Gustam mengaku kaget jika Mustopa melakukan penembakan di Kantor MUI Pusat. 


Gelar hajatan pengangkatan dirinya sebagai nabi 


Jauh sebelum melakukan penembakan, Mustopa pernah mendatangi rumah warga di desanya untuk menggelar hajatan. 


Saat ini ia mengaku hajatan dilakukan untuk pengangkatannya dirinya sebagai nabi. 


Namun, mendengar maksud hajatan tersebut, warga pun menolak mentah-mentah ajakan Mustopa. 


"Dulu memang pernah dia mendatangi warga door to door mau ngadain hajatan. Tapi ya gak ada yang mau mengakui, bahkan sudah banyak juga dinasehati oleh warga sejak saat itu," kata Gustam.


Gustam juga mengungkapkan pengakuan Mustopa sebagai nabi didapat ketika bermimpi bertemu Nabi Muhammad SAW. 


Mustopa juga sempat menceritakan mimpinya yang disebut diminta Nabi Muhammad SAW untuk memperjuangkan risalah kenabian. 


"Sejak saat itu memang dia selalu minta diakui bahwa dia yang melanjutkan perjuangan Nabi Muahmmad SAW," pungkasnya. 


Sementara itu tahun 2016, pelaku sempat ditangkap oleh Polsek Telukbetung Selatan atas dugaan perusakan kantor DPRD Lampung dan dipidana selama lima bulan. 


Motif Mustopa menyerang gedung DPRD Lampung untuk meminta pengakuan atas statusnya sebagai wakil Nabi Muhammad. 


"Pelaku ingin pemerintah mengakui dia menjadi wakil nabi. Tapi nggak ada yang percaya hal itu," kata Kapolres Pesawaran AKBP Pratomo Widodo, Selasa. 


Ternyata Mustopa beberapa kali mengirimkan surat berisi ancaman ke Kantor MUI secara langsung, bukan melalui jasa kirim. 


Dalam suratnya, Mustopa mengaku sebagai wakil nabi.


Pada surat pertamanya, Mustopa meminta bertemu dengan pimpinan MUI. Namun, tidak ada pernyataan yang secara gamblang menjelaskan tujuan pertemuan itu. 


Permintaan tersebut kemudian dibahas di Komisi Pengkajian. 


Pada surat berikutnya, Mustofa menyampaikan ancaman. 


“Karena kami lembaga keagamaan tentu tidak perlu kemudian kami membuat laporan segala macam, sudah biasa kami menerima surat-surat seperti itu,” ujar Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) MUI bidang Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM), Ikhsan Abdullah, Selasa. 


Ikhsan mengungkapkan, surat terakhir Mustopa berisi ancaman, diterima MUI pada periode Juli 2022. 


“Antisipasinya sudah koordinasi dengan lingkungan dan RT di sini bahwa ada orang yang datang seperti ini sudah cukup saya kira,” kata Ikhsan. 


Terpisah, Ketua MUI bidang Fatwa, Asrorun Niam Sholeh menunjukkan surat yang dikirimkan Mustofa. 


Dalam surat itu tertulis keterangan 'surat yang ke 6'. Dalam surat itu, Mustofa mengaku sebagai wakil nabi dan meminta bertemu dengan Ketua MUI untuk mempersatukan umat. 


“Merepresentasi pewaris nabi begitu ya, untuk mempersatukan umat. Intinya sih begitu,” kata Asrorun. 


Sementara itu hingga Rabu (3/5/2023) pagi, belum ada pihak keluarga yang mengakui dan berencana menjemput jenazah Mustopa. 


Saat ini jasad Mustopa masih di RS Polri Kramatjati, Jakarta. (*)