Notification

×

Keluarga Pelaku Tantang Dipenjara, Mata Kanan Siswa SMP di Lampung Rusak Dikeroyok Kakak Kelas

07 March 2023 | 09:48 WIB Last Updated 2023-03-20T09:51:14Z
Mata kanan Dio Dwi Mahendra (14) rusak akibat dipukuli kakak kelasnya di SMP Al Huda, Jati Agung, Lampung Selatan, Lampung. (Foto: Istimewa)


LAMPUNG SELATAN - Dikeroyok kakak kelas, mata siswa SMP di Lampung rusak. 


Mata kanan Dio Dwi Mahendra (14) rusak akibat dipukuli kakak kelasnya di SMP Al Huda, Jati Agung, Lampung Selatan, Lampung. 


Pihak keluarga Dio tak terima dan akan melaporkan insiden itu ke polisi.


Orang tua korban, Nuraini, menjelaskan peristiwa yang menimpa anaknya itu terjadi pada akhir Februaru lalu. 


Penganiayaan itu berawal dari 'perang dasi' antara anaknya dan pelaku pengeroyokan.


"Di situ (perang dasi) anak saya menang. Mungkin kakak tingkatnya ini nggak terima, kemudian terjadi dorong-dorongan lalu anak saya jatuh kemudian baru dikeroyok," ujar Nuraini, Senin (6/3/2023).


Akibatnya, siswa kelas 2 SMP itu harus dilarikan ke rumah sakit karena sejumlah luka penganiayaan yang dialaminya.


"Setelah pengeroyokan itu, anak kami dilarikan ke Rumah Sakit Airan terus dirujuk lagi ke Rumah Sakit Bintang Amin. Harus menjalani operasi mata, karena katanya ada bagian di matanya itu yang geser," terang Nur, dilansir detikcom.


Demi mencari keadilan untuk anaknya, Nuraini terus berkomunikasi dengan pihak sekolah. 


Dia ingin mencari jalan keluar dari kasus ini dengan cara kekeluargaan. Namun diakuinya pihak sekolah terkesan enggan menangani secara serius kasus tersebut.


"Ini anak saya jadi korban, tapi kenapa pihak sekolah ini kaya ogah-ogah dan nggak serius menangani kasusnya. Saya pernah minta CCTV, tapi kata mereka CCTV-nya sudah kehapus. Saya minta solusi," ujar Nur.


Lalu dia bertemu dengan keluarga pelaku. Tapi Nur disuruh sokongan juga, padahal keluarganya yang jadi korban.


"Ada bahasa dari keluarga pelaku. 'kalau begini nggak apa-apa mending penjara aja'," jelas Nur.


Tidak menemukan titik terang atas penanganan kasus tersebut, keluarga akan melaporkan ke Polsek Jati Agung, Lampung Selatan.


Hingga saat ini, Dio yang merupakan putra dari Waris Purwanto, buruh bangunan, harus menjalani perawatan di rumahnya.


Mata kanan Dio harus dipasang pelindung untuk menghindari iritasi setelah operasi.


Pihak sekolah sudah berupaya memediasi korban dan pelaku pengeroyokan, namun mediasi itu menemui jalan buntu.


Guru Bimbingan Konseling dan Kesiswaan SMP Al Huda Lampung Selatan, Tri Samsuri, membenarkan peristiwa tersebut. 


Menurut dia, peristiwa itu terjadi pada saat jam istirahat siswa. Di mana awalnya ada permainan perang dasi antara siswa yang terlibat dalam keributan itu.


"Jadi awalnya mereka ini main 'perang dasi' di jam istirahat sekolah. Lalu terjadi olok-olokan (ejekan) hingga akhirnya terjadi keributan. Ada upaya pertolongan dari masing-masing siswa, namun terjadi perkelahian," ujar Tri.


Menurutnya, upaya mediasi sudah dilakukan terhadap permasalahan tersebut. 


"Iya benar, kasus itu sebenarnya sudah dilakukan mediasi dari wali murid yang bersangkutan dengan pihak dewan guru. Tapi belum ada kesepakatan," kata Tri.


Dia menyerahkan sepenuhnya upaya hukum yang ditempuh keluarga korban. Pihak sekolah akan selalu terbuka kepada pihak manapun.


"Iya, kami serahkan ke pihak keluarga dan pihak yang berwajib ya. Kami sifatnya akan selalu terbuka, kami pihak sekolah juga selalu memberikan pelayanan yang terbaik untuk siswa-siswi," ujar Tri.


Wakil Gubernur Lampung, Chusnunia Chalim angkat bicara mengenai insiden pengeroyokan terhadap Dio Dwi Mahendra (14) siswa SMP di Lampung Selatan.


"Stop bullying, memang kita masih harus memberi perhatian lebih untuk perlindungan anak. Sekolah itu seharusnya menjadi tempat yang ramah anak, itu diharuskan terlaksana secara konkrit," ujarnya.


Untuk itu, pihaknya akan berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan guna mengetahui peristiwa sebenarnya pengeroyokan ini.


"Kami akan koordinasikan dengan Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan, sesegera mungkin," kata Nunik, sapaan akrabnya. (*)