| Arinal saat menggoreng tempe di lapak dagangnya, kawasan Kemiling, Bandar Lampung. (Lampost.co) |
Lampungonline, Bandar Lampung -- Pedagang gorengan di Jalan Raden Imba Kesuma, Kemiling, Arinal, mengaku tak sanggup lagi membuka lapak dagangannya, jika harga minyak goreng terus merangkak naik.
Meski lapak gorengannya telah berdiri selama 20 tahun, Arinal tak segan berhenti berdagang, karena kenaikan harga minyak goreng sangat berimbas terhadap pendapatannya.
"Sebab harga minyak naik jadi Rp 25 ribu per liter, omset kami jauh menurun, ditambah dengan kenaikan bahan yang lain seperti tepung terigu naik," katanya, Sabtu, 19 Maret 2022.
Arinal mengatakan imbas kenaikan minyak goreng sangat signifikan. Jika biasanya dia bersama istri mampu menjual 1.000 buah gorengan, saat ini hanya dapat setengahnya saja.
"Kami dapat untungnya sedikit, jadi mampunya hanya segitu. Kalau lebih dari itu tak bisa menutupi. Sekarang bisa jual 300-500 buah saja," ujarnya, dilansir Lampost.
Selain itu, untuk menaikkan harga gorengan, Arinal mengaku tak mungkin melakukannya lagi.
Itu karena sebelumnya dia pernah menaikkan harga dan konsumen sudah terbiasa dengan harga jual yang sudah pernah naik satu kali itu.
"Harganya pernah naik, sudah agak lama sebelum ditetapkan HET (minyak goreng), dari Rp1.000 sekarang menjadi Rp5.000 untuk 4 buah. Sekarang harga minyak naik, tapi kami tidak mungkin naikkan lagi harga gorengannya, nanti konsumen lari," kata Arinal.
Sadini, pedagang gorengan lainnya yang biasa mangkal di Jalan Ikan Bawal, Teluk Betung Selatan, Bandar Lampung, mengungkapkan keluh kesah yang sama.
"Mahal sekarang minyak goreng, tapi bagaimana. Kalau ditutup nanti anak istri tidak bisa makan. Jadi harga gorengannya dinaikkan," ujarnya.
Sadini mengatakan, dalam keadaan harga normal, sehari membutuhkan 6 liter minyak goreng untuk menggoreng dagangannya. Tapi saat ini hanya kisaran 4 liter saja.
"Selain mahal, susah juga barangnya. Jadi ya seadanya saja, dari pada tidak jualan sama sekali," kata dia. (*)