Notification

×

Tsunami di Banten dan Lampung, BMKG: Jangan Kembali Dulu

23 December 2018 | 05:43 WIB Last Updated 2018-12-22T23:17:10Z
Air laut naik di Hotel Krakatoa (ist)

LAMPUNGONLINE.CO.ID - Diduga longsoran akibat erupsi Gunung Anak Krakatau mengakibatkan tsunami di Banten dan Lampung, Sabtu (22/12/2018).

Sebab itu, BMKG menghimbau warga tidak mendekat ke Pantai Anyer maupun pantai di Lampung yang posisinya berada di Selat Sunda. Sebab pemicu tsunami masih dalam penyelidikan.

"Masyarakat diharapkan tetap tenang, tapi mohon jangan berada di pantai Selat Sunda, baik di wilayah Lampung, Banten, Serang. Jangan kembali dulu karena pemicunya (tsunami) ini masih diduga," ujar Kepala BMKG Dwikorita Karnawati di Kantor BMKG, Kemayoran, Jakarta Pusat.

BMKG masih melakukan pengecekan terkait terjadinya gelombang tsunami di kawasan Anyer dan Lampung. Dalam hal ini BMKG menduga tsunami terjadi akibat air pasang bersamaan dengan gelombang tinggi.

Dwikorita mengatakan, tsunami yang terjadi di dua wilayah tersebut terjadi bukan diakibatkan karena gempa tektonik. Hasil koordinasi dengan Badan Geologi, BKMG menduga tsunami terjadi akibat longsor erupsi anak Gunung Krakatau.

"Biasanya ada gempa lebih dahulu baru terjadi tsunami. Tadi kami cek tak ada gelaja sesmisitas, Jadi tak ada gejala tektoknik yang memicu tsunami, sehinggga kami butuh waktu koordinasi dengan badan geologi bahwa diduga erupsi tersebut, kemungkinan bisa langusng atau tidak langsung memicu terjadinya tsunami," ujarnya. dilansir Detik.

"Jadi sehingga kalau sudah terang apakah benar eruspi tadi mengakibatkan longsor. kami mencurigai longsor, karena pola grafik tsunaminya ini periodenya pendek seperti yang terjadi di Palu, akibat dipicu oleh longsor," lanjut Dwikorita.

Sampai saat ini, korban tewas tercatat sudah 13 orang. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, sementara ada 3 korban tewas di Lampung Selatan dan BPBD Pandeglang menemukan 10 jenazah di Tanjung Lesung, Banten.

Detik-detik Tsunami

BMKG menduga tsunami di Selat Sunda yang menerjang sejumlah lokasi di Banten dan Lampung disebabkan letusan atau longsoran Gunung Anak Krakatau. Menurut BMKG, ada kemiripan antara pola tsunami tersebut dengan yang terjadi di Palu.

"Tanggal 22 Desember pukul 21.03 WIB menit, Badan Geoglogi mengumumkan terjadi erupsi lagi Gunung Anak Krakatau. Kemudian pukul 21.27 WIB tidegauge (pengamatan sementara) Badan Informasi Geospasial yang terekam oleh BMKG menunjukkan adanya tiba-tiba ada kenaikan muka air pantai. Jadi ada kenaikan air, dan kami analisis kami merekam waktu untuk menganalisis, apakah kenaikan air itu air pasang akibat fenomena atmosfer, ada gelombang tinggi kemudian bulan purnama, jadi saat ini itu memang pada fase seperti itu. Namun setelah kami analisis lanjut gelombang itu merupakan gelombang tsunami, jadi tipe polanya sangat mirip gelombang tsunami yang terjadi di Palu," kata Dwikorita.

Dia mengatakan BMKG telah memberikan peringatan soal gelombang tinggi sejak 21 Desember 2018, dan berlaku hingga 25 Desember 2018 karena faktor cuaca. Tsunami hari ini diduga oleh BMKG terjadi karena longsor. Berikut detik-detik terjadinya tsunami versi BMKG:

21 Desember 2018

- Pukul 07.00 WIB

BMKG mulai kemarin pukul 07.00 WIB memberikan peringatan dini potensi gelombang tinggi di perairan Selat Sunda. Diperkirakan gelombang tinggi terjadi mulai 21 hingga 25 Desember 2018.

"Mulai kemarin pukul 07.00 WIB memberikan peringatan dini, karena kami menganalisis dan mendeteksi adanya potensi gelombang tinggi di perairan Selat Sunda, diperkirakan mulai kemarin tanggal 21 hingga 25 Desember 2018," ujar Dwikorita.

- Pukul 13.51 WIB

Badan Geologi telah mengumumkan terjadinya erupsi Gunung Anak Krakatau dan statusnya level waspada.

"Ini dua peristiwa yang beda tapi terjadi di waktu yang sama dan lokasi sama, sama-sama di perairan Selat Sunda, pertama potensi Anak Krakatau dan potensi gelombang tinggi," ucapnya.

22 Desember 2018

- Pukul 09.00 WIB sampai 11.00 WIB

Tim BMKG berada di perairan Selat Sunda untuk melakukan uji coba. Saat itu, menurutnya, terverifikasi hujan lebat dan gelombang serta angin kencang.

"Oleh karena itu tim kami kembali ke darat," ujarnya.

- Pukul 21.03 WIB

Badan Geologi mengumumkan kembali terjadi erupsi Gunung Anak Krakatau.

- Pukul 21.27 WIB

Berdasarkan pengamatan sementara atau tidegauge badan informasi geospasial yang terekam oleh BMKG, terjadi kenaikan muka air pantai. Hal itu diduga sebagai tsunami yang disebabkan oleh longsor akibat erupsi Anak Krakatau.

BMKG memastikan tak ada gempa yang menjadi pemicu tsunami. Namun, BMKG bakal melakukan penelitian lebih lanjut esok hari untuk memastikan penyebab terjadinya peristiwa ini.

"Besok pagi kami berupaya mengumpulkan data lagi apakah benar itu karena longsor tebing dan tsunami yang terdeteksi cukup jauh sampai ke Bandar Lampung kemudian Cilegon di Banten, Serang. Jadi artinya energinya cukup tinggi sehingga yang penting bagi masyarakat diharapkan tetap tenang. Tapi mohon jangan berada di pantai yang pantai Selat Sunda," jelasnya. (*/SB-01)