![]() |
| Prabowo Subianto (foto: ist) |
LAMPUNGONLINE.CO.ID - Calon Presiden (Capres) nomor urut 02, Prabowo Subianto, menunjukkan sikap ksatria sebagai tokoh bangsa. Prabowo secara gentle meminta maaf atas candaannya soal 'tampang Boyolali'.
Melalui sebuah video yang di-posting Koordinator Jubir Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga, Dahnil Anzar Simanjuntak, Selasa (6/11/2018), Prabowo yang mengenakan kemeja cokelat tulus memohon maaf.
"Jadi, dan ya. Tapi kalau saya, maksud saya tidak negatif. Tapi kalau ada yang merasa tersinggung, ya saya minta maaf, maksud saya tidak seperti itu," kata Prabowo.
Prabowo menjelaskan maksud dia menyebut 'tampang Boyolali' karena berempati atas kondisi rakyat Indonesia. Ketum Gerindra itu menyebut kesenjangan dan ketimpangan ekonomi makin terasa di Tanah Air.
"Maksudnya bukan menghina, justru empati. Jadi kalau saya bicara tampang, tampang di Boyolali, tampang Boyolali, kalau di Brebes tampang Brebes. Itu kan selorohnya dalam arti empati saya, solidaritas saya dengan orang," ujarnya.
"Saya tahu kondisi kalian. Justru yang saya permasalahkan adalah ketidakadilan, kesenjangan, ketimpangan. Semua orang tahu di Indonesia ini makin lebar, makin tidak adil, yang menikmati kekayaan Indonesia hanya segelintir orang. Jadi maksud saya itu," sambung Prabowo.
Dia menceritakan, saat 'tampang Boyolali' itu dilontarkan, dirinya sedang berpidato di depan ratusan kader partai-partai yang mendukungnya di Pilpres 2019. 'Tampang Boyolali' merupakan candaan karena dia berpidato cukup lama.
"Itu cara saya kalau bicara familiar. Mungkin istilah bahasa-bahasa sebagai seorang teman. Audiens waktu itu juga nggak terlalu besar, mungkin paling hanya 400-500 orang kader dari partai-partai koalisi kita (di) peresmian kantor pemenangan. Ya saya seloroh dan itu kira-kira sambutan saya satu jam, mungkin 40 menit lebih, itu (soal 'tampang Boyolali') mungkin hanya dua menit itu," papar Prabowo.
Dia menuturkan, dalam berdemokrasi tidak melulu harus serius, sedikit kelakar juga diperlukan. Namun, jika ada yang masih tidak terima dengan pernyataan 'tampang Boyolali' itu, Prabowo bersedia untuk berdialog.
"Saya siap kalau mungkin diminta dialog langsung atau apa, nggak ada masalah. Kita baik-baik saja, kita bicara ini demokrasi, demokrasi harus dinamis, ideologis," ucap Prabowo.
"Kalau kita nggak boleh melucu, nggak boleh seloroh, nggak boleh joking, nggak boleh bercanda, ya bosan, tidurlah nanti semua, capek mereka, kasihan. Jadi saya kira begitu maksud saya," pungkasnya.
Pernyataan 'tampang Boyolali' Prabowo disampaikan saat meresmikan Posko Badan Pemenangan Prabowo-Sandiaga Uno Kabupaten Boyolali, Selasa (30/10/2018).
Saat itu ia didampingi oleh Ketum PAN Zulkifli Hasan dan mantan Pangkostrad yang juga mantan Gubernur Jateng, Letjen (Purn) Bibit Waluyo.
Posko itu berada di Ruko Galaxy, Jalan Solo-Semarang, Winong, Boyolali Kota. Dalam acara tersebut hadir sejumlah emak-emak relawan pendukung Prabowo-Sandi. Selain itu ada pula beberapa purnawirawan TNI.
Dalam salah satu bagian dalam pidato itu, Prabowo berbicara mengenai belum sejahteranya masyarakat saat ini. Ia memberi perumpamaan wajah Boyolali yang belum pernah masuk hotel-hotel mahal.
"Kalian kalau masuk, mungkin kalian diusir. Tampang kalian tidak tampang orang kaya, tampang-tampang kalian ya tampang orang Boyolali ini. Betul?" kata Prabowo kepada para pendukungnya. Prabowo
