Notification

×

Sulit Diprediksi, Masyarakat Diminta Jauhi Gunung Anak Krakatau

04 August 2018 | 20:16 WIB Last Updated 2018-08-04T13:39:26Z
 Gunung Anak Krakatau (ist)

LAMPUNGONLINE.CO.ID - Pos Pemantau Gunung Anak Krakatau Lampung mencatat aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda masih normal.

Namun, gunung tersebut berstatus waspada atau level dua, sehingga para nelayan dan wisatawan dilarang mendekat dalam radius dua kilometer dari gunung api tersebut. 

"Agak sering terjadi tremor. Kemarin terjadi letusan 227 kali, tapi kondisinya masih level dua atau waspada," ujar Kepala Pos Pemantau Gunung Anak Krakatau di Desa Hargopancuran, Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, Andi Suardi, Sabtu (4/8/2018).

Dia mengingatkan kepada masyarakat, terutama nelayan dan wisatawan, bahwa Gunung Anak Krakatau adalah gunung api aktif dan aktivitasnya fluktuatif.

Sejak pekan lalu telah dikeluarkan peringatan agar Gunung Anak Krakatau tidak didekati dalam radius dua kilometer, yang sebelumnya hanya dalam satu kilometer.

Meski aktivitas Gunung Anak Krakatau tercatat normal, Andi kembali mengingatkan bahwa kondisi gunung api aktif itu sulit diprediksi.

"Sehubungan itu, para nelayan dan wisatawan diminta untuk tetap mematuhi larangan, yakni tidak mendekati gunung api aktif di Selat Sunda itu," imbau Andi.

Terasa di Pos Banten

Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda, Lampung dan Banten kembali erupsi dan memuntahkan material vulkanik mencapai radius 1 kilometer dari puncak kawah.

"Material pijar hasil erupsi jatuh melebihi radius satu kilometer dan diperburuk dengan kenyataan, beberapa wisatawan masih mendarat di Pulau Anak Krakatau," kata Deni Mardiono, petugas pos pantau GAK Pasauran, Kabupaten Serang, Banten, Sabtu (4/8/2018).

Dengan kondisi ini, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi merekomendasikan perluasan zona merah dengan jarak aman radius satu kilometer, menjadi dua kilometer dari puncak.

Meski begitu, untuk penerbangan dan pelayaran masih dalam batas aman.

"Rekomendasi ini sesuai dengan radius kawasan rawan bencana III, untuk bahaya lontaran dalam Peta Kawasan Rawan Bencana Gunung api Krakatau," ujar Deni.  (dbs)