![]() |
| Duta besar Andy Rachmianto bersama isteri saat menjenguk Sarisih (hijab pink) di penampungan sementara KBRI Amman (Dok. KBRI/gatra) |
LAMPUNGONLINE.CO.ID - Sarisih (42), TKW Indonesia asal Lampung yang bekerja di Yordania sejak tahun 2003, akhirnya ditemukan Tim Perlindungan WNI KBRI Amman.
Sarisih kemudian dibawa dan diamankan di KBRI Amman, Jumat (27/7/2018), setelah selama 15 tahun tak ada kabar.
Baca: Warga Lampung Ini Butuh Bantuan Pemerintah-Presiden Pulangkan Ibunya
Upaya pencarian Sarisih bermula dari laporan yang diterima Presiden Jokowi dan sejumlah instansi di tanah air dari Ferdina Nur Fitria (21), mahasiswa semester 7 UIN Raden Intan Lampung, Januari lalu.
Dalam curhatnya ke presiden, Ferdina meminta bantuan pemerintah untuk memulangkan ibunya yang tidak pernah lagi dilihatnya selama 15 tahun.
“Saya mohon, bantu Ibu saya. Bantu saya Pak Jokowi untuk memulangkan Ibu saya, bukankah Ibu saya warga Indonesia? Saya mohon bantuan Bapak Jokowi”, ujar Ferdina, yang sudah ditinggal wafat oleh ayahnya saat berusia 6 tahun, dalam suratnya tersebut.
Berdasarkan pengaduan tersebut, KBRI Amman langsung melakukan upaya pencarian berbekal informasi yang sangat minimal.
Laporan disampaikan kepada kepolisian Yordania, simpul-simpul masyarakat Indonesia dihubungi, data-data milik KBRI serta milik berbagai instansi di Indonesia yang mungkin menyimpan informasi mengenai keberadaan Sarisih ditelusuri.
Diakui oleh Dubes RI di Amman, Yordania, Andy Rachmianto jika keluarga tidak sempat menyimpan dokumen apapun yang dapat dijadikan petunjuk.
Namun demikian, lanjutnya, Tim Perlindungan WNI KBRI Amman melakukan semua upaya yang bisa dilakukan untuk menelusuri keberadaan Sarisih.
“Kami akan hadir dengan cara apapun,” ujar Andy saat memperoleh laporan tersebut beberapa bulan lalu dari Kementerian Luar Negeri, dilansir Gatra.
Sesuai informasi awal, semula KBRI melakukan penelusuran ke kota Aqaba, sekitar 450 km dari ibu kota Amman.
Namun setelah penelusuran panjang akhirnya pada minggu ketiga bulan Juli 2018 lalu KBRI Amman berhasil menemukan keberadaan Sarisih di daerah Swefieh, masih sekitaran Amman.
KBRI juga berhasil melakukan komunikasi dengan Sarisih dan majikannya.
Meski sempat bersitegang dengan majikan karena majikan tidak mau memberikan akses kepada Sarisih, namun Tim Perlindungan WNI KBRI Amman akhirnya berhasil memaksa majikan untuk membawa Sarisih ke KBRI Amman.
Saat ditemui langsung oleh Duta Besar RI dan Tim Perlindungan WNI di KBRI Amman, Sarisih menuturkan bahwa dirinya bekerja kepada majikan yang sama sejak tiba di Yodania pada tahun 2003.
“Di awal bekerja Sarisih hanya mendapatkan gaji sebesar 100 dollar Amerika setiap bulannya,” ujar Andy.
Sarisih mengaku bahwa dirinya tidak pernah dibuatkan ijin tinggal dan sejak masa berlaku paspornya berakhir (2008), majikan tidak pernah mengajukan pembuatan paspor baru.
Sarisih juga mengaku bahwa majikan selalu menakut-nakuti dan mengancam dirinya setiap kali menyampaikan keinginan untuk ke KBRI.
Sebab itu, sejak tiba di Yordania, Sarisih tidak pernah melakukan kontak maupun berkunjung ke KBRI.
“Sejak dulu saya ingin pulang tapi ditahan majikan. Terima kasih KBRI sudah bantu saya”, ujar Sarisih dengan mata sembab kepada Andy bersama istri yang menemui di penampungan KBRI Amman.
“Kita akan segera pulangkan Ibu Sarisih kepada keluarganya. Tapi sebelum dipulangkan, kita akan pastikan terlebih dahulu semua hak-haknya terpenuhi,” terang Andy menjelaskan kelanjutan penanganan kasus Sarisih ini. (*)
