Notification

×

Pilgub Lampung 2018: Tarung Ulang Ridho Vs Herman HN, Siapa Menang?

23 January 2018 | 18:19 WIB Last Updated 2018-01-23T11:35:11Z
(ilustrasi/ist)

LAMPUNGONLINE - Seperti Jawa Tengah dan Papua, Gubernur Lampung petahana Ridho Ficardo juga maju kembali di Pemilihan Gubernur (Pilgub) Lampung, yang akan digelar pada 27 Juni 2018 mendatang.

Majunya Ridho akan membuat perhatian publik banyak tersedot kepada dirinya dan sang penantang Herman HN, meski ada empat pasangan calon (paslon) yang akan bertarung.

Pasalnya, keduanya akan melakukan 'tanding ulang', setelah pada Pilgub Lampung 2014 lalu keduanya saling berhadapan, dengan jumlah pemilih sekitar enam juta mata pilih itu.

Akankah Ridho yang kembali berpasangan dengan Bachtiar Basri bisa mempertahankan posisinya dari serangan Herman HN yang berpasangan dengan Sutono?

Bisa saja pasangan calon (Paslon) Mustafa-Ahmad Jajuli yang jadi pemenang, atau Arinal-Chusnunia yang keluar sebagai peraih suara terbanyak.

Hal itu mengingat sang calon wakil gubernur bisa meraup suara perempuan. Bupati Lampung Timur Chusnunia yang akrab disapa Nunik itu merupakan satu-satunya kandidat perempuan, yang maju pada Pilgub Lampung 2018.

Inilah peta kekuatan keempat paslon, seperti dilansir dari Kabar24 pada Selasa (23/1/2018).

1 Arinal-Chusnunia Siap Rebut Pemilih Perempuan

Diusung Partai Golkar, PKB, dan PAN, paslon ini memiliki kekuatan 25 kursi di DPRD Lampung.

Dengan jumlah kursi yang cukup besar tersebut, Arinal-Chusnunia harusnya bisa lebih memanfaatkan mesin politiknya. Apalagi, didukung oleh Golkar, partai yang sangat berpengalaman dalam setiap pilkada.

Meski Arinal Djunaidi termasuk pendatang baru di dunia politik, namun namanya cukup populer sebagai pejabat daerah, PNS yang berkarier hingga puncak menjadi Sekda Provinsi Lampung sebelum pensiun.

Arinal adalah Ketua DPD Partai Golkar yang membuatnya punya pasar pemilih tersendiri. Sedangkan Chusnunia merupakan Bupati Bupati Lampung Timur hasil Pilkada 2015.

Dia sebelumnya lolos ke Senayan jadi Anggota DPR setelah memperoleh 56.752 suara pada Pileg 2014.

Meski bisa merebut suara perempuan, karena Chusnunia menjadi satu-satunya kandidat perempuan, namun pasangan ini tetap harus bekerja keras melawan para kandidat yang sudah jauh populer, dengan kekuatan logistik yang besar pula.


2 Ridho Ficardo-Bachtiar Basri Siap Bertahan

Diusung Partai Demokrat, Gerindra, dan PPP paslon ini menjadi yang terkuat dari sisi perolehan kursi di DPRD.

Dari 85 kursi, paslon ini diusung oleh koalisi parpol berkekuatan 25 kusi di DPRD. Kekuatan ini membuat mereka tidak sulit untuk menjangkau masyarakat hingga ke tingkat desa.

Sebagai petahana Ridho tentu lebih menguasai medan ketimbang lawan-lawannya. Sebagaimana pada pilgub lima tahun lalu, Ridho tidak terlalu sulit untuk menggerakkan mesin partai dan tim kampanyenya karena kemampuan logistik yang lebih baik.

Sebagi figur muda, Ridho juga bisa mencuri perhatian pemilih kalangan muda. Apalagi didampingi birokrat senior maka pasangan ini memiliki segmen pasar pemilih yang semakin luas.

Tetapi, berbagai temuan dugaan pelanggaran sempat  dilaporkan ke pengawas pemilu, sehingga Bawaslu pusat akhirnya menggelar sidang.

Meski hal itu kemudian tidak membatalkan hasil Pilgub Lampung 2014, namun kalau isu itu kembali diungkit-ungkit pihak lawan, maka Ridho akan cukup kerepotan.

Pihak petahana biasanya juga sering menjadi sasaran tembak, sehingga bisa saja terjadi blunder di menti-menit terakhir menjelang pemilihan berlangsung.


3 Mustafa-Jajuli Paslon Bupati-Senator

Diusung Partai Nasdem, PKS, dan Hanura paslon Mustafa-Jajuli dengan jumlah kursi di DPRD 18 memiliki potensi yang cukup untuk menang.

Pasalnya, pada Pemilihan Bupati Lampung Tengah 2015, Mustafa menang mutlak dengan perolehan 393130 suara (63,54%).

Sedangkan, Jajuli dua kali lolos menjadi Senator alias Anggota DPD dengan suara cukup besar. Pada Pemilu 2014, Ahmad Jajuli meraup suara sebanyak 338.596.

Perpaduan kekuatan dukungan parpol untuk kedua figur ini agaknya menjadi kekuatan tersendiri selain kuatnya militansi mesin partai, terutama PKS.

Berdasarkan pengalaman di banyak pilkada, kader PKS adalah kader yang paling militan. Mereka gigih menjaring dukungan hingga rela ‘door to door.’

Hanya saja paslon ini harus bekerja keras karena tidak memiliki logistik yang kuat. Apalagi melihat pengalaman lima tahun lalu yang menunjukkan pentingnya kekuatan dana kampanye karena luasnya cakupan wilayah.


4 Herman-Sutono Paslon Satu Parpol

Mirip di Jawa Barat, pada Pilgub Lampung, PDIP juga percaya diri tanpa koalisi mengusung paslon. Partai ini memiliki 17 dari 85 kursi di DPRD Lampung sehingga memenuhi syarat untuk memajukan calonnya sendiri.

Meski memiliki dukungan parpol minimalis, paslon ini tidak bisa dipandamg sebelah mata. Militansi kader PDIP di lapangan hampir menyamai yang dimiliki kader PKS, sehingga mesin partai bisa menjadi kekuatan tersendiri paslon ini selain ketokohannya.

Nama Wali Kota Bandar Lampung itu juga sangat populer di kalangan masyarakat, karena memiliki banyak program sosial. Apalagi, dia pernah maju sebagai cagub sebelumnya saat menantang Ridho.

Didampingi Sutono yang berdarah Jawa tentu akan menjadi kekuatan tersendiri bagi paslon ini karena kuatnya posisi etnis Jawa di wilayah Lampung.

Sutono yang merupakan pejabat Sekdaprov Lampung tentu memiliki pengalaman yang mumpuni di bidang pemerintahan.

Akan tetapi, dengan minimnya parpol pendukung akan membuat paslon ini keteteran dalam hal pendanaan kampanye.

Sulit untuk dibantah kalau pilkada tidak butuh logistik yang kuat, mengingat tingkat persebaran calon pemilih yang luas di wilayah tersebut.

Artinya, Herman HN harus bekerja keras menjangkau pemilih dari wilayah pelosok, karena untuk daerah perkotaan namanya cukup populer. (*)