Notification

×

Zakir Naik: Makna Aulia di Surah Al-Maidah 51 Adalah Pemimpin

02 April 2017 | 13:02 WIB Last Updated 2017-04-02T06:02:27Z
(foto: istimewa)

LAMPUNG-ONLINE.COM - Dr Zakir Naik memulai serangkaian kegiatannya di Indonesia. Diawali dengan bertemu Ketua MPR dan pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI) akhir pekan lalu.

Usai bertemu pimpinan MUI di gedung MUI, Jakarta, dokter asal India yang kemudian memilih jalan hidup sebagai pendakwah ini memberikan kesempatan untuk bertanya jawab dengan wartawan. 

Salah satu hal yang ditanyakan kepada Zakir Naik mengenai tafsir surah Al-Maidah ayat 51 dan pengertian 'aulia' sebagaimana disebut dalam surah itu.

Surah al-Maidah 51 ramai dibicarakan dalam konteks Pilkada Jakarta dalam waktu belakangan ini. 

"Yang dilarang oleh surah Al-Maidah ayat 51 adalah menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai aulia," ujar Zakir Naik menjelaskan tafsir surah itu, baru-baru ini.

Zakir Naik lalu mengungkapkan, kata 'aulia' pada ayat itu bermakna teman setia, pelindung, dan juga pemimpin. 

Pesan yang ingin disampaikan surah Al-Maidah bukan hanya melarang menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin umat Islam. 

Tetapi, juga larangan menjadikan mereka sebagai teman setia dan pelindung.

"Jadi, aulia bisa diartikan sebagai pemimpin, tapi bukan satu-satunya makna dari kata itu," kata Zakir.

Jika umat Islam dihadapkan pada dua pilihan, antara memilih pemimpin Muslim atau pemimpin non-Muslim, Zakir Naik menegaskan pilihan yang lebih baik, tentu saja adalah memilih pemimpin yang seiman. 

Namun, ia mengingatkan kepada umat Islam agar selalu berlaku adil terhadap orang-orang non-Muslim.

"Selama mereka (orang-orang non-Muslim) tidak mengusir kita (umat Islam) dari rumah, maka kita harus berbuat adil kepada mereka. Itu perintah Allah SWT yang disebutkan dalam Al Qur'an," kata Zakir.

Dia mengatakan, Allah SWT juga memerintahkan kepada kaum Muslim untuk berbuat baik dengan sesama manusia, termasuk non-Muslim. 

"Bahkan, di negara saya, India, sebagian besar masyarakat non-Muslim mencintai saya. Yang membenci saya justru para pemimpin politik di sana," ungkap Zakir. (*)