Notification

×

Masjid Tolak Shalatkan Muslim Pemilih Ahok: Dilarang Menshalati Orang Munafik

25 February 2017 | 12:45 WIB Last Updated 2017-04-23T03:37:40Z
(foto: tempo)

LAMPUNG-ONLINE.COM -
Para pengurus Dewan Keluarga Masjid (DKM) Masjid Al-Jihad, Kelurahan Karet, Kecamatan Setiabudi, Jakarta Pusat mengaku mendapat tekanan dari sejumlah pihak.  

Itu setelah keputusan mereka melarang menshalati jenazah orang yang mendukung terdakwa penista agama, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. 

"Kami didatangi polisi dan petugas dari kelurahan," ujar Sekretaris DKM Masjid Al-Jihad, Yayat Supriatno saat ditemui pada Jumat (24/2/2017).

Dia menceritakan, pihaknya memasang spanduk di depan masjid pada Selasa (21/2) lalu. Spanduk itu bertuliskan 'Masjid Ini Tidak Mensholatkan Jenazah Pendukung & Pembela Penista Agama'. Sehari setelahnya, ada yang mengirim foto spanduk itu ke media sosial dan menjadi viral.

Karena viral di media sosial, Kepolisian Sektor Setiabudi dan kelurahan setempat mendatangi masjid itu. Mereka meminta penjelasan dari pengurus masjid. 

"Intinya mereka (polisi) tidak mempersoalkan isi spanduk, tapi karena viral di media sosial," kata Yayat.

Dia menjelaskan, tujuan mereka memasang spanduk tersebut hanya ingin mengingatkan tentang pentingnya menjaga syariat Islam. 

Itu karena di dalam Al-Quran disebutkan tentang larangan menshalati seorang yang munafik. Orang munafik yang disebut mereka adalah umat Islam yang memilih pemimpin non-Muslim, khususnya terdakwa penista agama seperti Gubernur Ahok.

Selain itu, Yayat juga mengaku mendapat tekanan dari masyarakat yang kontra. Bahkan ia mendengar isu, masjid mereka akan digeruduk massa dan akan dibakar. Namun pihaknya mengaku tak gentar.

Di antara yang kontra, Yayat mengatakan keputusan DKM juga mendapat dukungan dari sebagian warga setempat. 

Bahkan, menurut dia, banyak warga di luar kampungnya yang datang meminta spanduk yang sama. Menurut dia, sejauh ini sudah ada 8 masjid yang sepakat memberlakukan larangan itu, seperti dilansir Tempo.

Ketua RT 06 RW 05, Kelurahan Karet, Yatim (50) membenarkan bahwa ada pro-kontra di tengah masyarakat akibat larangan mensalati jenazah pendukung Ahok. 

Tapi ia sudah menghimbau kepada masyarakat bahwa hal itu sekadar peringatan bagi umat Muslim. 

"Kalaupun nanti ada warga saya yang meninggal, saya akan antarkan ke masjid tetangga," kata Yatim. (*)