Peparnas XV di Jawat Barat
LAMPUNG – Miris, setelah kontingen Lampung di PON 2016 gagal total, kini pada Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) XV di Jawat Barat, atlet Sai Bumi Ruwa Jurai hanya membawa pulang satu medali perunggu dari cabang tenis meja.
Itu setelah pecatur Lampung, Ahmad Suwito, hanya mampu finis di peringkat ke-13 dengan raihan empat poin.
Dengan perolehan poin minim dari nomor catur cepat tersebut, Suwito pun gagal mempersembahkan medali untuk kota Lampung.
Medali emas jatuh ke atlet asal Jawa Tengah, Sukitno, setelah mengemas nilai tertinggi, 5,5 poin. Sedangkan medali perak jatuh ke tangan atlet asal Sumatera Utara, Azhar Panjaitan dengan koleksi 5 poin.
Perunggu direbut Bayu Ekwanto (Jawa Timur) yang juga mengantongi 5 poin. Bedanya, solkoff milik Azhar 23,5, sementara Bayu 19.
”Suwito gagal meraih medali. Dengan demikian pada Peparnas kali ini, kontingen Lampung hanya membawa pulang satu perunggu dari cabang tenis meja. Tak lagi atlet kita yang bertanding,” ujar Ketua NPC (National Paralympic Committee) Lampung, Parmono, Sabtu (22/10/2016).
Dijelaskannya, sepulang dari Bandung, pihaknya akan segera melakukan evaluasi. Menurut Parmono, salah satu penyebab kegagalan meraih medali karena persiapan yang tidak matang.
”Di cabang bulutangkis misalnya. Atlet kita tidak dilatih pelatih yang mengerti soal bulutangkis untuk difabel. Bulutangkis untuk orang normal dan difabel kan berbeda. Bulutangkis untuk difabel hanya menggunakan setengah lapangan. Otomatis berimbas pada permainan. Hal itu tidak didapat saat latihan,” jelas dia, seperti dilansir Jpnn.
Terpisah, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Lampung Hannibal mengapresiasi pencapaian Lampung pada even multicabang untuk atlet penyadang disabilitas ini.
”Orang berkebutuhan khusus juga punya hak untuk menunjukan prestasi. Nah wadahnya adalah Peparnas. Pada Peparnas XV, kontingen Lampung memperoleh satu perunggu. Pencapaian ini patut diapresiasi mengingat persiapan mereka bisa dibilang tidak maksimal,” kata dia. (*)
Medali emas jatuh ke atlet asal Jawa Tengah, Sukitno, setelah mengemas nilai tertinggi, 5,5 poin. Sedangkan medali perak jatuh ke tangan atlet asal Sumatera Utara, Azhar Panjaitan dengan koleksi 5 poin.
Perunggu direbut Bayu Ekwanto (Jawa Timur) yang juga mengantongi 5 poin. Bedanya, solkoff milik Azhar 23,5, sementara Bayu 19.
”Suwito gagal meraih medali. Dengan demikian pada Peparnas kali ini, kontingen Lampung hanya membawa pulang satu perunggu dari cabang tenis meja. Tak lagi atlet kita yang bertanding,” ujar Ketua NPC (National Paralympic Committee) Lampung, Parmono, Sabtu (22/10/2016).
Dijelaskannya, sepulang dari Bandung, pihaknya akan segera melakukan evaluasi. Menurut Parmono, salah satu penyebab kegagalan meraih medali karena persiapan yang tidak matang.
”Di cabang bulutangkis misalnya. Atlet kita tidak dilatih pelatih yang mengerti soal bulutangkis untuk difabel. Bulutangkis untuk orang normal dan difabel kan berbeda. Bulutangkis untuk difabel hanya menggunakan setengah lapangan. Otomatis berimbas pada permainan. Hal itu tidak didapat saat latihan,” jelas dia, seperti dilansir Jpnn.
Terpisah, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Lampung Hannibal mengapresiasi pencapaian Lampung pada even multicabang untuk atlet penyadang disabilitas ini.
”Orang berkebutuhan khusus juga punya hak untuk menunjukan prestasi. Nah wadahnya adalah Peparnas. Pada Peparnas XV, kontingen Lampung memperoleh satu perunggu. Pencapaian ini patut diapresiasi mengingat persiapan mereka bisa dibilang tidak maksimal,” kata dia. (*)
