Oleh : Gunawan Handoko
Pemerhati masalah sosial dan kepemudaan, tinggal di Bandar Lampung
MESTINYA memasuki bulan Agustus ini kita mulai sibuk untuk mempersiapkan pesta rakyat, dengan menghias pagar dan halaman rumah dan mengibarkan bendera merah putih.
Pemerhati masalah sosial dan kepemudaan, tinggal di Bandar Lampung
MESTINYA memasuki bulan Agustus ini kita mulai sibuk untuk mempersiapkan pesta rakyat, dengan menghias pagar dan halaman rumah dan mengibarkan bendera merah putih.
Lalu anak-anak muda dengan didukung para orang tua mengemas berbagai acara ’tujuh belasan’ demi tetap terpatrinya rasa nasionalisme dan semangat bela negara serta cinta tanah air.
Lagu-lagu perjuangan pun berkumandang di media radio dan televisi sebagai ujud rasa cinta tanah air tadi. Apa yang kita saksikan hari ini? Semua berjalan seperti biasa, tanpa greget. Bendera merah putih hanya nampak berkibar di jalan protokol, komplek pertokoan dan perkantoran, itupun tidak semua.
Sementara banyak warga masyarakat yang enggan untuk memasang bendera merah putih dengan berbagai alasan. Fenomena ini harus dilihat sebagai sebuah ancaman yang sangat serius dalam konteks perjalanan bangsa ke depan.
Jika hal ini terus dibiarkan, jangan salahkan apabila generasi di era 10 tahun kedepan tidak dapat menerima secara utuh saat disodorkan cerita tentang sejarah proklamasi kemerdekaan, tentang kebangkitan nasional, sumpah pemuda dan sejarah pergerakan nasional lainnya.
Inilah tantangan yang harus mendapat jawaban, khususnya oleh lembaga Pemerintah yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.
Jangan dulu bicara tentang nasionalisme dan cinta tanah air, jika untuk sekedar mengibarkan bendera merah putih saja tidak mau.
Omong kosong bicara tentang bela negara, jika dalam keseharian kita hanya sibuk mencari kesalahan orang lain. Bohong besar bicara tentang persatuan dan kesatuan, bila setiap saat selalu menebar bibit pertikaian sesama kita sendiri.
Sejak bergulirnya reformasi di negeri ini, kita telah kehilangan jati diri sebagai bangsa timur yang santun dan bermartabat. Dengan dalih demi kepentingan rakyat, para elite politik melampiaskan dendam politiknya dengan melakukan kritik dan hujatan terhadap lawan politiknya.
Jangan dulu bicara tentang nasionalisme dan cinta tanah air, jika untuk sekedar mengibarkan bendera merah putih saja tidak mau.
Omong kosong bicara tentang bela negara, jika dalam keseharian kita hanya sibuk mencari kesalahan orang lain. Bohong besar bicara tentang persatuan dan kesatuan, bila setiap saat selalu menebar bibit pertikaian sesama kita sendiri.
Sejak bergulirnya reformasi di negeri ini, kita telah kehilangan jati diri sebagai bangsa timur yang santun dan bermartabat. Dengan dalih demi kepentingan rakyat, para elite politik melampiaskan dendam politiknya dengan melakukan kritik dan hujatan terhadap lawan politiknya.
Dengan dalih demi untuk menunjukkan paradigma transparansi, demokratisasi dan keterbukaan, unjuk rasa (bayaran) marak dimana-mana. Rakyatpun menjadi bingung, sosok mana yang pantas menjadi figur pemimpin karena yang mengaku tokoh pun kerjanya cuma mengkritik dan menghujat.
Benar kata Cak Nun, kita seperti sedang berjalan di alam yang gelap gulita, satu sama lain saling bertabrakan atau sengaja untuk bertabrakan. Ironis dan menyedihkan. Mengapa semua ini bisa terjadi? Salah satu jawabnya adalah bahwa kita telah lupa sejarah.
Perjalanan sejarah bangsa yang seharusnya dapat menjadi pedoman dalam meneruskan perjuangan para pendahulu telah ditinggalkan.
Jika ada yang bertanya sedemikian pentingkah memasang bendera merah putih, jawabnya penting, bahkan sangat penting karena didalamnya terkandung sebuah proses yang luar biasa, proses yang dinamakan pembelajaran dan penanaman pemahaman akan nilai-nilai perjuangan dan pengorbanan, khususnya bagi kaum remaja dan generasi muda agar paham tentang sebuah perjalanan panjang dan juga melelahkan.
Proklamasi kemerdekaan tidak akan pernah lahir tanpa didahului dengan lahirnya Sumpah Pemuda 1928 dengan ikrar bertanah air satu, berbangsa satu dan berbahasa satu, Indonesia.
Ikrar tersebut tidak mungkin terwujud apabila masing-masing tokoh pemuda Indonesia waktu itu hanya membawa kepentingan kedaerahan dan kelompoknya. Sederet nama pejuang telah terukir dalam sejarah, salah satunya adalah gerakan Budi Utomo yang dimotori oleh sekelompok pemuda di tanah Jawa.
Kehadiran pergerakan Budi Utomo ini secara spontan mendapat sambutan dari para pemuda di luar Jawa, karena dinilai mampu mempersatukan berbagai perbedaan yang ada terutama dari sisi agama. Pergerakan Budi Utomo inilah sebagai kunci awal pergerakan pemuda dan sebagai embrio lahirnya Sumpah Pemuda 1928.
Dengan dilandasi semangat inilah kekuatan untuk merebut kemerdekaan semakin menggelora hingga mencapai klimak pada tahun 1945. Harus diakui, semangat Sumpah Pemuda inilah sebagai kekuatan yang maha dahsyat yang menyemangati semua gerakan sampai pada puncaknya, yakni kemerdekaan Republik Indonesia.
Sudah seharusnya semangat Sumpah Pemuda ini terus menerus digelorakan dalam rangka memberikan pemahaman bagi bangsa ini, khususnya kaum muda agar dapat menauladani semangat dan patriotisme para pendahulunya.
Dengan memahami sejarah masa lalu, diharapkan ke depan tidak akan terdengar lagi tuntutan sekelompok masyarakat atau golongan yang ingin memisahkan diri dari negara kesatuan republik Indonesia (NKRI).
Tidak akan muncul konflik atau ’perang’ antar suku, antar kampung, antar sekolah dan lainnya karena semua telah paham bahwa Indonesia adalah Satu, bahwa kita bersaudara.
Pasca bergulirnya reformasi, banyak agenda yang bertujuan untuk menanamkan kesadaran bagi masyarakat terhadap bela negara dan cinta tanah air semakin memudar, bahkan nyaris punah. Akibatnya, banyak para remaja usia sekolah di tingkat lanjutan menengah atas yang tidak mampu menjelaskan tentang sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia.
Sementara elemen kepemudaan lebih asyik bermain dengan ranah politik dan melupakan kewajiban yang mestinya dilakukan dalam rangka pembinaan dan pengembangan kaum muda. Rasanya tidak salah jika kita mengadopsi berbagai program yang pernah dilakukan pemerintahan Orde Baru.
Tidak semua peninggalan Orde baru haram untuk dilakukan, sepanjang hal tersebut bernilai positif bagi kebaikan dan keutuhan bangsa ini kedepan. Bila tidak, maka potret pemuda dari waktu ke waktu akan semakin buram dan tentu saja berdampak pada kualitas para calon pemimpin di masa datang.
Benar bahwa pemuda merupakan ahli waris pemimpin di masa depan, tapi perlu di ingat bahwa para pemuda pun punya kewajiban untuk membuat warisan bagi generasi berikutnya.
Apabila hari ini para tokoh pemuda hanya sibuk mengurusi diri sendiri untuk menjadi pemimpin karena merasa sudah pantas menjadi pemimpin, itu sah-sah saja.
Tapi ingat, jangan sampai pada saatnya nanti kita tidak mampu menjawab ketika disodori pertanyaan oleh generasi muda berikutnya : ”Apa yang akan Anda wariskan kepada kami?”. Karena pada kenyataannya hari ini kita tidak berbuat apa-apa, kecuali untuk diri sendiri.
Kita masih punya waktu untuk menggelorakan kembali semangat nasionalisme dan cinta tanah air bagi kaum muda khususnya, agar mereka benar-benar sadar bahwa Kemerdekaan negeri ini bukan jatuh dari langit, melainkan hasil perjuangan para pendahulu kita dengan cucuran keringat, darah dan nyawa.
Dirgahayu 71 Tahun Republik Indonesia, Jayalah Negeriku!!!
Gunawan Handoko
Mantan Sekretaris Karang Taruna Provinsi Lampung,
Ketua DPD AMPI Kota Bandarlampung dan Sekretaris DPD AMPI Provinsi Lampung
Gunawan Handoko
Mantan Sekretaris Karang Taruna Provinsi Lampung,
Ketua DPD AMPI Kota Bandarlampung dan Sekretaris DPD AMPI Provinsi Lampung
