![]() |
| Hendrik Tanuwijaya alias Hendrik Ceper (kiri) semasa hidup dan istri. (ist) |
LAMPUNG ONLINE - Komedian asal Kota Depok, Hendrik Tanuwijaya atau yang lebih dikenal dengan nama Hendrik Ceper (37) mengembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit Singaparna Medika Citrautama Kabupaten Tasikmalaya, Minggu (3/7/2016) sekitar pukul 02.25 dini hari.
Hendrik wafat setelah dirawat 12 hari di rumah sakit akibat kelainan gagal fungsi adrenalin atau Hypertiroid dan mengalami gangguan pernapasan akut.
Hendrik pun sempat mengalami koma akibat penyakit yang dideritanya. Paman istri Hendrik Ceper Nur Djalilah, Baehaki (50) menuturkan, Hendrik sempat sadar sekitar pukul 22.00 Sabtu, 1 Juli 2016. Namun, Kondisinya langsung menurun drastis sekitar pukul 01.00 WIB, Minggu dini hari.
"Sempat buka mata, dan menggerakkan tangan sekitar pukul 10. Namun, sekitar jam 1, dokter memanggil saya, dan meminta saya mendatangkan istri Hendrik, karena kondisinya semakin kritis," ucap Baehaki.
Sang istri Hendrik, Nur Djalilah, datang sekitar pukul 01.30 WIB. Namun, tak berselang lama setelah Nur kembali ke rumahnya, Hendrik mengembuskan nafas terakhir, sekitar pukul 2.25. Almarhum Hendrik pun langsung dibawa ke rumah istri Hendrik, di RT.19, RW.4. Kampung Bageur, Desa Sukarapih, Kecamatan Sukarame, Kabupaten Tasikmalaya.
"Hendrik langsung dibawa kerumah, dan akan dimakamkan di Tasikmalaya, namun kita masih menunggu keluarga Hendri dari Bekasi," ucap Baehaki, seperti dilansir Pikiran-rakyat.
Sementara itu, istri Hendrik Nur Djalilah saat dijumpai di rumahnya mengatakan, sebelum di bawa ke rumah sakit, pada Rabu, 22 Juni 2016 lalu, Hendrik sempat mengeluhkan sesak nafas. Keluarga Nur Djalilah pun langsung membawa Hendrik ke RS SMC Kabupaten Tasikmalaya.
"Semasa hidup, Kang Hendrik tidak pernah mengeluh sakit, tetapi saya tahu dia sakit asma, dan tidak tahu kalau sakit kelenjar Tiroid," ucap Nur Djalilah.
Nur mengatakan, Hendrik sempat begadang bersama warga Kampung Bageur setiba dari Jakarta, Minggu, 19 Juni 2016. Baru pada Rabu dini hari, Hendrik mengeluh sakit pada dadanya.
"Kang Hendrik pulang dari Jakarta naik bus sendiri. Dia juga sudah kecapean, ditambah begadang, sakitnya juga mendadak, " kata Nur.
Menurut Nur, selama 12 hari dirawat, kondisi Hendrik sempat membaik. Dorongan dari teman-teman artis seperti Daus Mini dan Ustads Zaky yang datang langsung ke RS SMC Kabupaten Tasikmalaya juga menjadi penyemangat bagi Hendrik untuk tetap bertahan.
"Teman artis ada yang jenguk, setelah dikabari wafat, manajemennya juga mau datang," kata Nur.
Di mata Nur, Hendrik dikenal sebagai pria bertanggung jawab dan sayang kepada anaknya. Dia pun sempat menitipkan pesan kepada Nur agar menjaga anaknya baik-baik sebelum terbaring di rumah sakit.
"Kang Hendrik pria yang bertanggung jawab dan tidak pernah mengeluh. Sebelum sakit, Hendrik berpesan kepada saya, yang sabar, rezeki sudah ada yang mengatur. Besarkan anak dengan baik," kata Nur.
Hendrik rencananya akan dimakamkan di tempat pemakaman umum Astana, Kampung Bageur, Desa Sukarapih, Kecamatan Sukarame. Dia meninggalkan istri dan anak semata wayangnya, Katrina Putri Ramadani, buah hasil perkawinannya dengan Nur selama tujuh tahun.
"Anak tepat satu tahun 24 Juni kemarin. Dia menangis terus karena biasanya kalau bapaknya pulang, suka diajak main," kata Nur.
Selamat jalan Hendrik Ceper... (*)
Hendrik pun sempat mengalami koma akibat penyakit yang dideritanya. Paman istri Hendrik Ceper Nur Djalilah, Baehaki (50) menuturkan, Hendrik sempat sadar sekitar pukul 22.00 Sabtu, 1 Juli 2016. Namun, Kondisinya langsung menurun drastis sekitar pukul 01.00 WIB, Minggu dini hari.
"Sempat buka mata, dan menggerakkan tangan sekitar pukul 10. Namun, sekitar jam 1, dokter memanggil saya, dan meminta saya mendatangkan istri Hendrik, karena kondisinya semakin kritis," ucap Baehaki.
Sang istri Hendrik, Nur Djalilah, datang sekitar pukul 01.30 WIB. Namun, tak berselang lama setelah Nur kembali ke rumahnya, Hendrik mengembuskan nafas terakhir, sekitar pukul 2.25. Almarhum Hendrik pun langsung dibawa ke rumah istri Hendrik, di RT.19, RW.4. Kampung Bageur, Desa Sukarapih, Kecamatan Sukarame, Kabupaten Tasikmalaya.
"Hendrik langsung dibawa kerumah, dan akan dimakamkan di Tasikmalaya, namun kita masih menunggu keluarga Hendri dari Bekasi," ucap Baehaki, seperti dilansir Pikiran-rakyat.
Sementara itu, istri Hendrik Nur Djalilah saat dijumpai di rumahnya mengatakan, sebelum di bawa ke rumah sakit, pada Rabu, 22 Juni 2016 lalu, Hendrik sempat mengeluhkan sesak nafas. Keluarga Nur Djalilah pun langsung membawa Hendrik ke RS SMC Kabupaten Tasikmalaya.
"Semasa hidup, Kang Hendrik tidak pernah mengeluh sakit, tetapi saya tahu dia sakit asma, dan tidak tahu kalau sakit kelenjar Tiroid," ucap Nur Djalilah.
Nur mengatakan, Hendrik sempat begadang bersama warga Kampung Bageur setiba dari Jakarta, Minggu, 19 Juni 2016. Baru pada Rabu dini hari, Hendrik mengeluh sakit pada dadanya.
"Kang Hendrik pulang dari Jakarta naik bus sendiri. Dia juga sudah kecapean, ditambah begadang, sakitnya juga mendadak, " kata Nur.
Menurut Nur, selama 12 hari dirawat, kondisi Hendrik sempat membaik. Dorongan dari teman-teman artis seperti Daus Mini dan Ustads Zaky yang datang langsung ke RS SMC Kabupaten Tasikmalaya juga menjadi penyemangat bagi Hendrik untuk tetap bertahan.
"Teman artis ada yang jenguk, setelah dikabari wafat, manajemennya juga mau datang," kata Nur.
Di mata Nur, Hendrik dikenal sebagai pria bertanggung jawab dan sayang kepada anaknya. Dia pun sempat menitipkan pesan kepada Nur agar menjaga anaknya baik-baik sebelum terbaring di rumah sakit.
"Kang Hendrik pria yang bertanggung jawab dan tidak pernah mengeluh. Sebelum sakit, Hendrik berpesan kepada saya, yang sabar, rezeki sudah ada yang mengatur. Besarkan anak dengan baik," kata Nur.
Hendrik rencananya akan dimakamkan di tempat pemakaman umum Astana, Kampung Bageur, Desa Sukarapih, Kecamatan Sukarame. Dia meninggalkan istri dan anak semata wayangnya, Katrina Putri Ramadani, buah hasil perkawinannya dengan Nur selama tujuh tahun.
"Anak tepat satu tahun 24 Juni kemarin. Dia menangis terus karena biasanya kalau bapaknya pulang, suka diajak main," kata Nur.
Selamat jalan Hendrik Ceper... (*)
