![]() |
| M Ridho Ficardo (ist) |
LAMPUNG - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung beberapa waktu belakangan sedang dililit kesulitan anggaran. Pemasukan yang diharapkan antara lain dari pendapatan asli daerah (PAD) tidak sepenuhnya lancar.
Sedangkan pemerintah
pusat pun melakukan pemangkasan anggaran di beberapa sektor, yang turut
berdampak ke Lampung.
Sebab itu, pasca Lebaran nanti Pemprov Lampung berencana akan melakukan efisiensi anggaran secara besar-besaran. Sejumlah pos anggaran yang tidak urgen akan dipangkas.
"Banyak biaya yang tidak perlu kita pangkas. Seperti biaya makan-minum, biaya penyewaan alat, termasuk biaya untuk alat tulis kantor," kata Gubernur Lampung, M Ridho Ficardo, saat jumpa pers dengan para pemimpin redaksi di Mahan Agung, Minggu (3/7/2016) malam.
Ridho mengaku menggelar rapat sampai dinihari dengan instansi terkait, termasuk Biro Keuangan, untuk membahas masalah ini. Dari situ terlihat, untuk APBD-P nanti nilainya tidak signifikan, hanya sekitar Rp 2 miliar.
"Angka itu tidak berarti apa-apa untuk pembangunan," ujarnya.
Ridho lalu melakukan analisa dan evaluasi anggaran. Ia menemukan sebenarnya banyak pos anggaran yang masih bisa diefisienkan. Berangkat dari hasil telaah tersebut, ia memutuskan untuk memangkas anggaran yang tidak terlalu urgen, seperti dilansir Tribunlampung.
"Kas keuangan kita memang sedang seret. Selain adanya efisiensi anggaran dari pemerintah pusat, dari sisi pendapatan daerah juga mengalami penurunan. Penjualan motor, misalnya, tahun ini anjlok sampai 30 persen. Itu tentu mempengaruhi pemasukan ke kas daerah,"terang dia. (*)
"Banyak biaya yang tidak perlu kita pangkas. Seperti biaya makan-minum, biaya penyewaan alat, termasuk biaya untuk alat tulis kantor," kata Gubernur Lampung, M Ridho Ficardo, saat jumpa pers dengan para pemimpin redaksi di Mahan Agung, Minggu (3/7/2016) malam.
Ridho mengaku menggelar rapat sampai dinihari dengan instansi terkait, termasuk Biro Keuangan, untuk membahas masalah ini. Dari situ terlihat, untuk APBD-P nanti nilainya tidak signifikan, hanya sekitar Rp 2 miliar.
"Angka itu tidak berarti apa-apa untuk pembangunan," ujarnya.
Ridho lalu melakukan analisa dan evaluasi anggaran. Ia menemukan sebenarnya banyak pos anggaran yang masih bisa diefisienkan. Berangkat dari hasil telaah tersebut, ia memutuskan untuk memangkas anggaran yang tidak terlalu urgen, seperti dilansir Tribunlampung.
"Kas keuangan kita memang sedang seret. Selain adanya efisiensi anggaran dari pemerintah pusat, dari sisi pendapatan daerah juga mengalami penurunan. Penjualan motor, misalnya, tahun ini anjlok sampai 30 persen. Itu tentu mempengaruhi pemasukan ke kas daerah,"terang dia. (*)
