![]() |
| (youtube) |
LAMPUNG ONLINE – Olahraga tinju mungkin dilihat sebagian orang sebagai olahraga yang penuh dengan kekerasan, di mana dua orang petinju mencoba menjatuhkan lawan dengan hantaman pukulan. Namun percaya atau tidak, kemenangan di dalam ring tinju membutuhkan lebih dari sekadar jago memukul.
‘Sweet science’ adalah cara yang digunakan para petinju untuk ‘memukul cerdas’ sang lawan. Muhammad Ali yang mendapatkan julukan sebagai ‘The Greatest’ telah menggunakan cara ini untuk menaklukkan lawannya, bahkan sebelum memasuki ring.
Ali menjelekkan lawan atau sesumbar bahkan sebelum Floyd Mayweather Sr. melangkah di atas ring. Sebelum pertarungan pertama melawan Liston pada 1964, Ali memanggilnya ‘beruang jelek besar’ dan mengatakan "Liston bahkan bau seperti beruang".
Sebelum ia berjuang keras memukul dan mengalahkan Foreman pada 1974, Ali berseru, "Saya telah melakukan sesuatu yang baru untuk pertarungan ini, saya bergumul dengan buaya, saya lakukan bergelut dengan ikan paus; memborgol petir, melempar guntur ke penjara, hanya minggu lalu, saya membunuh batu gunung, melukai batu, memasukkan batu bata ke rumah sakit; saya begitu jahat; saya membuat obat sakit".
Ucapan Ali ini barangkali hanya dinilai ucapan buruk atau omong kosong sang petinju, mungkin juga gayanya. Namun faktanya, Joe Frazier yang dikalahkannya tak pernah memaafkan Ali untuk itu. Dia telah membuat lawannya terbakar amarah atau gentar sebelum memasuki ring.
Sama dengan permainan catur, tinju juga memerlukan strategi dan eksekusi yang baik. Ali punya kecepatan dan pukulan yang baik dengan tangan kanannya. Di laga pertama melawan Floyd Patterson, Ali bahkan tidak melempar satu pun pukulan dan hanya menggunakan kecepatan untuk membuat Patterson kalah dan Anda dapat mengatakan Ali adalah petinju pertama yang pernah memenangkan ronde tanpa pukulan.
Ali juga pernah menggunakan taktik ‘Rope a Dope’ di mana ia berpura-pura kelelahan di pinggir tali ring untuk membiarkan lawannya memberikan pukulan. Namun pada akhirnya, Ali justru menjadi pemenang dan mendapatkan gelarnya untuk kedua kalinya.
Tinju adalah pertandingan individual, di mana tidak ada orang yang akan bisa membantu para atlet untuk bertarung melawan. Seseorang harus memiliki kepercayaan diri yang sangat tinggi untuk menjadi petinju tangguh. Demikian dilansir dari Sporting News dan Okezone, Selasa (7/6/2016). (*)
‘Sweet science’ adalah cara yang digunakan para petinju untuk ‘memukul cerdas’ sang lawan. Muhammad Ali yang mendapatkan julukan sebagai ‘The Greatest’ telah menggunakan cara ini untuk menaklukkan lawannya, bahkan sebelum memasuki ring.
Ali menjelekkan lawan atau sesumbar bahkan sebelum Floyd Mayweather Sr. melangkah di atas ring. Sebelum pertarungan pertama melawan Liston pada 1964, Ali memanggilnya ‘beruang jelek besar’ dan mengatakan "Liston bahkan bau seperti beruang".
Sebelum ia berjuang keras memukul dan mengalahkan Foreman pada 1974, Ali berseru, "Saya telah melakukan sesuatu yang baru untuk pertarungan ini, saya bergumul dengan buaya, saya lakukan bergelut dengan ikan paus; memborgol petir, melempar guntur ke penjara, hanya minggu lalu, saya membunuh batu gunung, melukai batu, memasukkan batu bata ke rumah sakit; saya begitu jahat; saya membuat obat sakit".
Ucapan Ali ini barangkali hanya dinilai ucapan buruk atau omong kosong sang petinju, mungkin juga gayanya. Namun faktanya, Joe Frazier yang dikalahkannya tak pernah memaafkan Ali untuk itu. Dia telah membuat lawannya terbakar amarah atau gentar sebelum memasuki ring.
Sama dengan permainan catur, tinju juga memerlukan strategi dan eksekusi yang baik. Ali punya kecepatan dan pukulan yang baik dengan tangan kanannya. Di laga pertama melawan Floyd Patterson, Ali bahkan tidak melempar satu pun pukulan dan hanya menggunakan kecepatan untuk membuat Patterson kalah dan Anda dapat mengatakan Ali adalah petinju pertama yang pernah memenangkan ronde tanpa pukulan.
Ali juga pernah menggunakan taktik ‘Rope a Dope’ di mana ia berpura-pura kelelahan di pinggir tali ring untuk membiarkan lawannya memberikan pukulan. Namun pada akhirnya, Ali justru menjadi pemenang dan mendapatkan gelarnya untuk kedua kalinya.
Tinju adalah pertandingan individual, di mana tidak ada orang yang akan bisa membantu para atlet untuk bertarung melawan. Seseorang harus memiliki kepercayaan diri yang sangat tinggi untuk menjadi petinju tangguh. Demikian dilansir dari Sporting News dan Okezone, Selasa (7/6/2016). (*)
