![]() |
| Para anggota veteran. (foto: ilustrasi/ist) |
LAMPUNG - Miris. Kendati telah berkorban saat berjuang demi meraih kemerdekaan negara ini, namun nasib para pejuang 45 Indonesia di Lampung, yang tergabung dalam Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) seolah tak dihargai.
Pasalnya, karena tidak memiliki dana untuk melunasi tunggakan listrik kantor LVRI ke pihak PT. PLN (Persero) Distribusi Lampung, aliran listrik organisasi para pejuang kemerdekaan itu harus berurusan dengan hukum.
Itu karena kantor LVRI Provinsi Lampung yang beralamat di Jalan Sriwijaya, Bandar Lampung, menunggak tagihan rekening listrik sejak Januari 2015-2016 sebesar Rp 31,956,548.
Akibatnya, Manager PT PLN Distribusi Lampung Area Tanjung Karang Singgih Dudiaji membongkar rampung sambungan listrik di Kantor LVRI Lampung. Parahnya lagi, pihak LVRI dilaporkan ke Kejaksaan Negeri Bandar Lampung.
Dalam hal ini, PT PLN Lampung memberi kuasa kepada Kasidatun Kejari Bandar Lampung, Rita Susanti selaku pengacara negara, guna membantu permasalahan tunggakan listrik tersebut.
Atas nama Kepala Kejari Bandar Lampung, Rita Susanti melayangkan surat bernomor B-01/N.8.10/Gph.1/05/2016 yang isinya meminta pihak LVRI Provinsi Lampung hadir ke kantor Kejari untuk menyelesaikan persoalan tersebut.
GM PT PLN Lampung Irwansyah ketika dikonfirmasi apakah tidak ada solusi lain sehingga harus menempuh jalur hukum, untuk menagih tunggakan listrik kantor para pejuang tersebut, mengatakan, akan terlebih dahulu dikoordinasikan. Namun dia tidak menyebutkan akan berkoordinasi dengan siapa.
“Mohon ijin, akan saya koordinasikan,” kata Irwansyah melalui pesan singkat.
Terpisah, Ketua Legiun Veteran Provinsi Lampung, Letnan Kolonel (Purn) HM Joesoef menyesalkan langkah yang ditempuh PLN Lampung. Menurutnya, cara yang ditempuh oleh PLN seolah-olah menghadapi kelompok atau organisasi kriminal. Padahal, Legiun Veteran adalah organisasi para pejuang kemerdekaan RI yang dibentuk pemerintah.
Menurut dia, petugas pencatat rekening PLN juga tidak melaksanakan tugas sebagaimana mestinya. Mereka main catat semaunya tanpa mengkroscek langsung ke meteren yang ada di kantor LVRI di seputaran lapangan Enggal.
“Kami ini bukan kelompok maling. Kenapa PLN berlaku seperti itu. PLN pernah mengakui kalau mereka hanya main catat-catat saja, makanya tau-tau tagihan kami membengkak,” ujar Joesoef.
Dia mengaku jika saat ini LVRI Lampung sedang mengalami kesulitan anggaran untuk menunjang operasional oragnisasi. Meski begitu, ia bersama anggota veteran lainnya akan menyelesaikan tunggakan listrik tersebut.
“Kami akan mengirimkan surat untuk meminta keringanan ke PLN. Kami akan bayar tapi mungkin dengan cara dicicil,” ujar Joesoef. (wan/fik)
