Notification

×

Salahkan Bawahan, Ahok Ingin Terlihat Bersih Tanpa Dosa

27 April 2016 | 07:39 WIB Last Updated 2016-04-27T00:39:04Z
Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)

LAMPUNG ONLINE - Wakil Sekjen DPP PAN Ahmad Yohan menuding Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sedang paranoid alias ketakutan dengan kondisi politik sekarang yang lebih banyak menurunkan elektabilitasnya.

Ketakutan itu membuat mantan Bupati Belitung Timur itu panik dan menyalahkan banyak pihak, mulai dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) terkait audit investigasi soal Rumah Sakit Sumber Waras, Menteri KKP Susi Pudjiastuti terkait kewenangan reklamasi 17 Pulau di Teluk Jakarta.

Selanjutnya menyalahkan Kemendagri terkait serapan APBD DKI 0 persen pada kuartal I 2016, hingga termutakhir, Ahok menyalahkan Wali Kota Jakarta Utara Rustam Effendi terkait terendamnya Jakarta Utara akibat banjir beberapa waktu lalu.

"Ini sikap kekanak-kanakan yang ditunjukkan Ahok," tuding Yohan kepada wartawan, di Jakarta, Selasa (26/4/2016).

Ahok dinilainya tak tepat menyalahkan Rustam karena Jakarta Utara bukanlah daerah otonom, sebagaimana daerah-daerah lain di luar DKI Jakarta. Wilayah tersebut secara administratif berada langsung di bawah perintah Gubernur Jakarta.

Sebagai pejabat administratif, salah jika Ahok serta-merta menyalahkan Rustam terkait banjir yang terjadi beberapa waktu lalu. Terlebih, Ahok juga mengeluarkan tudingan politik yang tidak berdasar kepada bawahannya, seperti dilansir Okezone.

"Ahok terkesan ingin dilihat bersih tanpa dosa, lantas menyalahkan bawahan. Hal hal itu acapkali dipertontonkan Ahok di ruang publik. Ini menunjukkan Ahok tidak beradab dalam praktek pemerintahan dan politik," geramnya.

Idealnya menurut Yohan, di tengah melunjaknya temperatur politik Pilkada DKI Jakarta ini, Ahok semestinya menunjukkan sikap politik yang cerdas, bermartabat dan mendidik publik. Sebaliknya Ahok tidak menunjukkan sikap gelisah, panik dan grasak-grusuk dalam menyikapi keadaan.

"Sebaiknya Ahok banyak belajar tentang adab politik dan berpemerintah. Atau sebaiknya lempar handuk saja deh dari kontestasi politik Jakarta saat ini. Lebih baik mundur dari pada menjadi destroyer yang tiap harinya menampilkan gaya politik dan pemerintahan yang tak beradab," tutupnya. (*)