Notification

×

'Petugas PLN' Tangkap Terduga Teroris di Lampung

03 February 2016 | 05:28 WIB Last Updated 2016-07-31T11:20:47Z

BANDAR LAMPUNG – Dengan cara menyamar sebagai petugas PLN, Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Regional Sumbagsel meliputi Palembang, Riau, Pekanbaru, Lampung, Bengkulu, menangkap Edi Santoso (40) terduga teroris di Lampung.

Pria itu diringkus di rumah orang tuanya di Jalan Selat Malaka V RT 08, Kampung Teluk Jaya, Kelurahan Panjang Selatan, Kecamatan Panjang, Kota Bandar Lampung, Provinsi Lampung, Selasa (2/2/2016).

Penangkapan berlangsung pada pukul 16.30 WIB. Sesaat setelah ditangkap, terduga dibawa ke Mapolda Lampung dengan tangan diborgol.

Kapolresta Bandar Lampung Kombes Hari Nugroho mengaku belum bisa memberikan keterangan apapun mengenai penangkapan terduga teroris tersebut. Sebab dirinya belum mendapatkan informasi resmi dari Densus 88 Antiteror.

“Saya belum bisa beri keterangan apapun. Mengenai siapa yang ditangkap, atau barang apa yang dibawa dari rumah tersebut, saya belum dapat informasinya karena saat ini masih dalam pengembangan,” ujarnya saat meninjau lokasi,

Menurut salah seorang warga setempat, Iche Crismiati, penggerebekan dilakukan oleh polisi yang semula melakukan penyamaran sebagai petugas PLN.

"Kejadian sekitar jam lima tadi, dan kata polisi ada bahan peledak di rumah pak Anwar (alm), orang tua yang ditangkap polisi itu," kata dia.

Ia menyebutkan, terduga teroris itu sedang menginap di rumah orang tuanya. "Infonya kasusnya sudah dari 2014 lalu, jadi sudah buron," katanya.

Terkait keberadaan terduga teroris, ia menyebutkan, rumah tersebut sering dijadikan tempat pengajian yang dihadiri jemaah jubah panjang.

"Keluarga yang jadi tersangka teroris tergolong tertutup, bahkan sering ada pengajian yang dihadiri orang berjubah panjang," kata dia.

Senada diungkapkan warga lainnya, Lasmi Sri Wahyuni (40). Menurutnya, sebelum peristiwa penggerebekan dia melihat ada sejumlah petugas PLN yang juga membawa mobil PLN, mendatangi rumah milik Ibu Anwar, yang merupakan orang tua dari terduga teroris Edi Santoso.

“Petugas PLN itu menanyakan rumah Sukri sambil menunjukkan foto, ternyata itu fotonya Edi Santoso,” jelasnya di sekitar TKP.

Setelah petugas PLN itu masuk ke rumah Ibu Anwar, lanjut dia. tak lama kemudian mereka keluar lagi dengan membawa Edi dengan kondisi tangan diborgol.

“Ternyata petugas PLN itu adalah Densus 88 yang menyamar jadi petugas PLN,” ujar Lasmi.

Dia menambahkan, nama pemilik rumah adalah Anwar (80), dan anaknya bernama Kartini serta suaminya bernama Azis merupakan PNS di Depag Mesuji.

“Saya tidak mengetahui persis mengenai pekerjaan Edi selama ini. Setahu saya Edi ini orangnya tertutup, karena jarang ngobrol sama tetangga,” tambahnya. 

Sementara, Sekretaris Lurah Panjang Selatan Heri Abdul Khair (50) menuturkan, dirinya pernah dihubungi anggota Densus 88 Anti teror sekitar dua hingga tiga bulan lalu.

“Anggota densus itu mengaku bernama Supri. Saat itu kami ketemu di rumah saya,” kata dia.

Heri menjelaskan, anggota densus itu mencari seseorang yang pernah berdagang ayam dengan orang tuanya.

“Katanya, orang yang dicarinya itu adalah jaringan teroris Santoso di Poso. Katanya dia itu ahli merakit bom dan jaringan teroris Santoso,” papar Heri.

Setelah mendapatkan kejelasan mengenai kediaman terduga teroris tersebut, kemudian anggota Densus 88 itu mengontrak rumah tak jauh dari kediaman terduga teroris itu.

“Katanya juga, orang yang dicari itu bahkan pernah terlibat perampokan bank di daerah Gading Rejo, Pringsewu,” kata Heri. (dbs)