![]() |
| Pasar Smep Bandar Lampung (foto: ist) |
BANDAR LAMPUNG - Pemerintahan Presiden Joko Widodo-Wapres Jusuf Kalla menjanjikan revitalisasi pasar tradisional sejak awal pemerintahan. Namun di sejumlah daerah, pasar-pasar tradisional masih tergerus dan terbengkalai.
Salah satunya Pasar Smep di Kota Bandar Lampung, ProvinsiLampung. Saat ini, lokasi pasar itu menyisakan lahan yang diisi tumbuhan liar. Pasar tradisional bersejarah tersebut sudah tiga tahun terbengkalai setelah dirobohkan sejak 2013. Renovasi yang dijanjikan sejauh ini belum berjalan.
Seperti pada Minggu (31/1/2016), area pasar yang dulunya dua lantai itu tampak sepi. Aktivitas pedagang yang biasa bercokol di sana terpencar ke berbagai pasar lainnya, seperti Pasar Pasir Gintung, Pasar Bambu Kuning, dan pinggir jalan.
Galian ekskavator bekas bangunan lama sedalam lima meter di bawah permukaan jalan hanya menyisakan air kotor yang berisi gulma. Bau tak sedap menyengat saat melintas kawasan bekas pasar itu.
Lusiani, salah seorang pedagang, menyesalkan pihak pengembang lari dari tanggung jawab membangun Pasar Smep.
"Uang sudah disetor Rp 85 juta, tapi mana kiosnya tidak jadi-jadi, uang saya tidak bisa dikembalikan," katanya.
Menurut Lusiani, uang tersebut hasil dari pinjaman di bank yang setiap bulannya harus diangsur ditambah dengan bunga bank, seperti dilansir Republika.
Suandi, pedagang kain di pasar itu juga mengalami kesulitan mencari tempat berdagang setelah digusur dari Pasar SMEP. Ia terpaksa hengkang dari kawasan pasar terkenal di pusat kota Bandar Lampung tersebut.
"Saya sudah capek memikirkan Pasar Smep tidak pernah jadi-jadi," ujarnya.
Sebelumnya, Penjabat (Pj.) Wali Kota Bandar Lampung, Sulpakar, menyatakan akan berfokus pada pembangunan di tiga pasar tradisional, yakni Pasar Tugu, Pasar Bambu Kuning, dan Pasar Panjang. Namun, tidak sama halnya dengan pembangunan Pasar Smep yang hingga kini terbengkalai.
"Jangan bicara soal (pasar) SMEP dulu," kata Sulpakar, pekan lalu. (*)
Salah satunya Pasar Smep di Kota Bandar Lampung, ProvinsiLampung. Saat ini, lokasi pasar itu menyisakan lahan yang diisi tumbuhan liar. Pasar tradisional bersejarah tersebut sudah tiga tahun terbengkalai setelah dirobohkan sejak 2013. Renovasi yang dijanjikan sejauh ini belum berjalan.
Seperti pada Minggu (31/1/2016), area pasar yang dulunya dua lantai itu tampak sepi. Aktivitas pedagang yang biasa bercokol di sana terpencar ke berbagai pasar lainnya, seperti Pasar Pasir Gintung, Pasar Bambu Kuning, dan pinggir jalan.
Galian ekskavator bekas bangunan lama sedalam lima meter di bawah permukaan jalan hanya menyisakan air kotor yang berisi gulma. Bau tak sedap menyengat saat melintas kawasan bekas pasar itu.
Lusiani, salah seorang pedagang, menyesalkan pihak pengembang lari dari tanggung jawab membangun Pasar Smep.
"Uang sudah disetor Rp 85 juta, tapi mana kiosnya tidak jadi-jadi, uang saya tidak bisa dikembalikan," katanya.
Menurut Lusiani, uang tersebut hasil dari pinjaman di bank yang setiap bulannya harus diangsur ditambah dengan bunga bank, seperti dilansir Republika.
Suandi, pedagang kain di pasar itu juga mengalami kesulitan mencari tempat berdagang setelah digusur dari Pasar SMEP. Ia terpaksa hengkang dari kawasan pasar terkenal di pusat kota Bandar Lampung tersebut.
"Saya sudah capek memikirkan Pasar Smep tidak pernah jadi-jadi," ujarnya.
Sebelumnya, Penjabat (Pj.) Wali Kota Bandar Lampung, Sulpakar, menyatakan akan berfokus pada pembangunan di tiga pasar tradisional, yakni Pasar Tugu, Pasar Bambu Kuning, dan Pasar Panjang. Namun, tidak sama halnya dengan pembangunan Pasar Smep yang hingga kini terbengkalai.
"Jangan bicara soal (pasar) SMEP dulu," kata Sulpakar, pekan lalu. (*)
