![]() |
| (foto: ist) |
LAMPUNG ONLINE -
Tiga ledakan bom yang terjadi hampir bersamaan menghantam ibu kota
Suriah, Damaksus, pada Minggu (31/1/2016). Tindakan barbar itu
menewaskan lebih dari 60 orang dan melukai setidaknya 40 orang.
Menurut pemerhati hak asasi manusia yang berbasis di London, Syrian Observatory for Human Rights, lokasi ledakan tidak jauh dari tempat suci kaum Syiah, Sayyidah Zeinab.
"Di antara korban tewas itu, terdapat sejumlah pejuang Syiah. Kemungkinan jumlah korban bakal bertambah akibat ledakan yang bersumber dari mobil," ucap Observatory, sebagaimana dikutip Al Jazeera dan Tempo, Senin (1/2).
Televisi pemerintah dalam siarannya menunjukkan gambar sejumlah gedung yang hangus terbakar dan bangkai mobil berserakan di sekitar lokasi ledakan. Tak lama setelah peristiwa mengerikan itu, kantor berita Amaq menyiarkan kabar bahwa Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) mengaku bertanggung jawab.
"Serangan itu sengaja ditujukan kepada basis milisi Syiah di Damaskus," tulis Amaq, lembaga penyiaran pendukung ISIS.
Lokasi yang menjadi sasaran serangan bom mobil ini terletak di Damaskus selatan. Di sini terdapat tempat suci bagi kaum Syiah dari Iran, Libanon, dan berbagai belahan dunia lain.
Di tempat suci ini juga terdapat makam putri Ali bin Abi Thalib, yang diyakini kaum Syiah sebagai pengganti Nabi Muhammad.
Sebelumnya, pada 2012 dan 2015, tempat suci ini pernah menjadi sasaran serangan bom. Ketika itu, dua bom bunuh diri menewaskan empat orang dan mencederai 13 korban lain yang berada di pos penjagaan.
Saat yang sama, serangan bom menghantam sebuah bus pengangkut jemaah kaum Syiah yang sedang dalam perjalanan menuju Sayyidah Zeinab, menewaskan sedikitnya sembilan orang. Serangan itu diakui dilakukan kelompok Front al-Nusra. (*/rus)
Menurut pemerhati hak asasi manusia yang berbasis di London, Syrian Observatory for Human Rights, lokasi ledakan tidak jauh dari tempat suci kaum Syiah, Sayyidah Zeinab.
"Di antara korban tewas itu, terdapat sejumlah pejuang Syiah. Kemungkinan jumlah korban bakal bertambah akibat ledakan yang bersumber dari mobil," ucap Observatory, sebagaimana dikutip Al Jazeera dan Tempo, Senin (1/2).
Televisi pemerintah dalam siarannya menunjukkan gambar sejumlah gedung yang hangus terbakar dan bangkai mobil berserakan di sekitar lokasi ledakan. Tak lama setelah peristiwa mengerikan itu, kantor berita Amaq menyiarkan kabar bahwa Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) mengaku bertanggung jawab.
"Serangan itu sengaja ditujukan kepada basis milisi Syiah di Damaskus," tulis Amaq, lembaga penyiaran pendukung ISIS.
Lokasi yang menjadi sasaran serangan bom mobil ini terletak di Damaskus selatan. Di sini terdapat tempat suci bagi kaum Syiah dari Iran, Libanon, dan berbagai belahan dunia lain.
Di tempat suci ini juga terdapat makam putri Ali bin Abi Thalib, yang diyakini kaum Syiah sebagai pengganti Nabi Muhammad.
Sebelumnya, pada 2012 dan 2015, tempat suci ini pernah menjadi sasaran serangan bom. Ketika itu, dua bom bunuh diri menewaskan empat orang dan mencederai 13 korban lain yang berada di pos penjagaan.
Saat yang sama, serangan bom menghantam sebuah bus pengangkut jemaah kaum Syiah yang sedang dalam perjalanan menuju Sayyidah Zeinab, menewaskan sedikitnya sembilan orang. Serangan itu diakui dilakukan kelompok Front al-Nusra. (*/rus)
