oleh: Adolf Ayatullah Indrajaya
![]() |
| HM Harun Muda Indrajaya. (alm/ist) |
Tabik pun, nabik tabik. Tabik di kuti rumpok punyimbang tuha raja seunyinni, Sikandua haga numpang cawa, cawa puuuuun.
Dalam konteks kewartawanan, HMI dan pers di Lampung ibarat senama, senafas bahkan sejiwa raganya.
HM Harun Muda Indrajaya menghembuskan nafas terakhir usai memimpin rapat tahunan LE Media Grup yang membawahi LAMPUNG EKSPRES plus, Harian Ekspres, OKU Raya Ekspres dan Banten Ekspres di kantor LE, Jl Urip Sumoharjo 88, Bandarlampung.
HMI adalah salah satu pendiri SKM Poesiban tahun 1968, Lampung Post tahun 1974, wartawan Harian Merdeka hingga 1979, mengelola Harian Tamtama sejak 1980, bekerjasama dengan Jawa Pos mentransformasi Tamtama menjadi LE dan mengelola beberapa penerbitan dari kawasan Sumbagsel hingga Jawa Barat dan akhirnya semenjak 1999 mengibarkan LE Media Grup yang membawahi LE, Harian Ekspres, OKU Raya Ekspres dan Banten Ekspres.
Pemegang Press Card Number One yang diserahkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat peringatan puncak HPN di Mataram, NTB 2009 ini adalah satu dari sedikit wartawan yang melenggang hingga empat dekade menggeluti dunia kewartawanan.
Untuk dunia olahraga, HMI menjadi Ketua PS Jaka Utama saat klub sepakbola itu didirikan oleh Hi Marzuli Warganegara yang kemudian sempat menjadi Kampiun Galatama dan pondasi utama Lampung meraih emas PON sepakbola tahun 1981. Dengan dukungan Marzuli dan Marjoeni Warganegara pula Harun bersama Pimred Bola Sumohadi Marsis menggagas even Sarung Tinju Emas usai mereka pulang dari studi banding keolahragaan di Amerika Serikat dan menyaksikan Golden Gloves.
Di pentas budaya, HMI juga memerankan tokoh Radin Inten yang dipentaskan maraton ke beberapa kampus di Indonesia di awal 1980-an. HMI sejaman dengan Motinggo Busye, seniman kondang dengan Malam Jahanam dan Tujuh Manusia Harimau. Dalam pementasan di Teater Gajah Mada, pementasan itu sempat diiringi oleh tokoh musikalisasi puisi yang belakangan jadi legenda musik Indonesia, Ebiet G Ade.
Inisial HMI yang melekat dengan nama lengkapnya tak lepas dari kiprahnya bagi organisasi mahasiswa terbesar di Indonesia itu. HMI karib dengan eks Ketum HMI Akbar Tanjung. Selain itu, HMI membuka kediamannya lebar-lebar untuk setiap acara kongkow anak-anak HMI, Kowati dan Kahmi. Isteri HMI, Hj Megawani juga merupakan aktivis HMI dari Unsri, Palembang.
Hal yang sangat menonjol dari HMI adalah dia tidak pernah segan untuk bicara keras soal nilai-nilai kelampungan. HMI mulai menulis kolom bertajuk "Kalangan" di Tamtama dengan gaya berbincang santai saling dialog dan kerap satir mengkritisi fenomena sosial update di jaman itu. Kalangan dalam bahasa Lampung berarti pasar tempat berkumpul dan jual-beli berniaga yang ditaja di hari-hari tertentu.
Tetapi, saat muncul kolom "Buras" oleh Bambang Eka Wijaya di Lampost, HMI mengganti gaya menulisnya lewat kolom yang diberi tajuk "Numpang Liyu". Kolomnya ini tidak lagi memilih bahasa satir meliuk-liuk tetapi lugas tanpa tedeng aling-aling. Biarlah BEW yang "stand" liwat Buras, biar kita yang Lampung asli ini mengkritik langsung tunjuk hidung tak perlu petatah-petitih.
Sangat khas, Numpang Liyu memulai tulisan dengan cuplik sastra lisan Warahan, Tabik pun, nabik tabik, tabik di kuti rumpok, Sikanduwa haga numpang cawa, cawa puuuuuun! Pemungkas kolomnya pun menggunakan sergah Tabik puuuuun.
Saat menjadi Ketua PWI Lampung, Harun menginisiasi Balai Wartawan Hi Solfian Akhmad, bos, guru, orangtua, abang dan tentu saja kita semua mengenal Bang Sol sebagai bidan dan pendiri Lampost. HMI adalah satu-satunya yang secara terbuka menyatakan keberatan kepada Bang Sol saat Lampost dijual kepada grup Media Indonesia dan menjadi salah satu pembakar motivasi pribadinya karena HMI tidak mau semua koran di Lampung dibabat habis kepemilikannya oleh pemodal pusat.
Hingga hari ini, LE adalah koran harian tertua yang terbit di Lampung dimana segenap kepemilikan dan pengelolaannya dilakukan secara swadaya oleh masyarakat Lampung.
Walau trend koran bergeser, HMI tetap kukuh menghidangkan LE sebagai koran yang menurut arahannya harus 100 persen berisi tentang Lampung. Biar koran lain saja yang bicara soal isu nasional apalagi internasional. LE harus "Mulang Tiyuh" tanpa kompromi. Belakangan konsep Mulang Tiyuh gagasannya sempat dipakai oleh Bupati Waykanan Bustami Zainudin dalam memimpin Bumi Ramik Ragom selama satu periode.
Logo LE di era awal berbentuk perahu Lampung, jung, dengan ornamentasi orang dan payung Lampung yang dirancang oleh seniman Andrian Sangadjie untuk kemudia secara pelan-pelan memperkaya khasanah bentuk khas Lampung dimana sebelumnya sangat lekat dengan bentuk Siger, mahkota pengantin perempuan khas Lampung. Kecintaannya dengan arsitektur Lampung diejawantahkan HMI dengan merekonstruksi rumah tua khas Kumoring yang dibongkar langsung dari Minanga.
Dalam pentas politik, HMI sempat menjadi Ketua Panwaslu pada salah satu pemilu paling krusial dalam jejak demokrasi negeri ini, 1999. Kemudian pada 2004 HMI didapuk menjadi Ketua PKB saat partai Nadhliyin itu diterpa konflik internal antara Gus Dur dengan Matori Abdul Jalil. Saat menjadi Ketua Lampung Sai menggantikan Sjachroedin ZP, pada 2009 HMI ditunjuk menjadi Ketua SZP Center, tim pemenangan Sjahcroedin-Joko Umar Said.
Kedekatan HMI dengan Kiay Oedin sudah berlangsung panjang semenjak menjadi karib di SMA Negeri 2 Tanjungkarang, 1969. Oedin dalam berbagai kesempatan menyebut nama Harun dan Sutan Syahrir Oelangan sebagai penyokong awal-awal pensiunan jenderal bintang tiga polisi itu maju dan terpilih jadi Gubernur Lampung kedua yang orang Lampung pasca Zainal Abidin Pagaralam yang dikenal sebagai bidan provinsi ini saat dimekarkan dari Sumatera Selatan.
Di era SZP lah Harun bersama tokoh-tokoh gigih ulun Lampung yang lain terus mendesakkan konsep Lampung dalam setiap program pemerintah dengan sekian banyak hasil seperti salam daerah Tabik pun, Menara Siger, Bandarnegara, penyebutan Balai Keratun dan Mahan Agung serta sekian banyak program untuk melampungkan nilai-nilai kedaerahan di Bumi Ruwa Jurai.
Sabtu, 26 Desember 2015 HMI tutup usia. Untuk kiprahnya yang jejak di bidang-bidang khas kelampungan, HMI meninggalkan torehan yang sedemikian dalam dan menginspirasi kolega, kerabat dan anak didik, kader serta murid-muridnya dalam sebuah perguruan hidup.
Tabik pun, nabik tabik. Tabik di kuti rumpok punyimbang tuha raja seunyinni. Sikanduwa kilu mahap puuuuun. (*)
*Penulis adalah Pemimpin Redaksi SKH Lampung Ekspres Plus
