![]() |
| Sanggar Angon Saka Lampung. (ist) |
LAMPUNG - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia akan menaja kegiatan Temu Zapin Nusantara 2015 di Gedung A Kemendikbud, Jalan Jendral Sudirman, Jakarta, 28 – 29 November 2015 mendatang. Kegiatan bertaraf nasional ini akan diikuti oleh perwakilan dari seluruh provinsi di Indonesia.
Selain menampilkan tarian masing-masing peserta, panitia Temu Zapin Nusantara 2015 juga akan menggelar sarasehan dan workshop bagi peserta Temu Zapin Nusantara dari berbagai daerah.
"Dalam pergelaran Temu Zapin Nusantara ini Lampung akan mengirim Sanggar Angon Saka dari Kelurahan Negeri Olok Gading, Kecamatan Telukbetung Barat, Bandar Lampung," ujar Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung Drs. Heri Suliyanto didampingi Kasi Kebudayaan dan Film Hari W Jayaningrat S.Sos, MM, Rabu (24/11/2015).
Lebih lanjut Heri Suliyanto menambahkan, Sanggar Angon Saka yang didirikan Mansjur Thoib pada tahun 1968 ini layak tampil mewakili Lampung karena eksistensinya.
"Tari Bedana Tradisi dari SanggarAngon Saka gerakannya sangat khas, sehingga menarik pakar tari Zapin dari Universitas Malaya Prof.Dr. Mohd. Anis Noor melakukan penelitian Tari Bedana di Kelurahan Olok Gading beberapa tahun lalu. Bahkan karena sangat terkesan, Mohd Anis mengundang Sanggar Tari Angon Saka untuk mementaskan repertoar tari Bedana di Johor, Malaysia pada tahun 2008 lalu," jelasnya.
Pada event Temu Zapin ini, lanjut Heri, sanggar pimpinan Syarifuddin ini akan mengusung Tari Bedana Tradisi dengan didukung para penari, Hanafiah, Selamat, Hazanul, Andi Wijaya, Wahyudi dan Jauhari Saputra.
"Sedangkan pengrawit musik, untuk gambus dimainkan Syahroni sekaligus vokalis, biola dimainkan Ibrohim, dan penabuh ketipung dipandegani oleh Syarifuddin, Chandra Adhitya, Yudha Adhitya dan Bangkit Sudrajat. Sedangkan untuk olah artistik pementasan digarap oleh Syapril 'Rajo Cetik' Yamin," terang dia.
Sementara itu, Kepala Seksi Kebudayaan dan Film Dinas P dan K Provinsi Lampung R. Hari W Jayaningrat S.Sos, MM mengatakan, Sanggar Angon Saka akan menampilkan Tari Bedana Tradisi, Bedana Arab 1, Bedana Arab 2, Bedana Surabaya 1, Bedana Surabaya 2 dan Bedana Sara.
"Tari Bedana ini merupakan salah satu tari tradisional masyarakat Lampung. Tarian Bedana ini ialah tarian rakyat yang usianya sudah berabad lamanya, yang merupakan tarian asli dikembangkan dan dilestarikan oleh masyarakat Lampung. Tarian ini sangat digemari dan disenangi oleh semua kalangan, baik kalangan muda maupun tua pada masyarakat Lampung,” paparnya.
Menurut sejarahnya, lanjut Hari, pada mulanya seiring perkembangan Agama Islam di Lampung yang dibawa oleh para saudagar dan ulama Gujarat pada masa itu. Tarian ini merupakan salah satu alat untuk mengumpulkan dan mendekati rakyat dalam usaha dan upaya mendakwahkan Agama Islam.
“Tarian ini memiliki simbol-simbol dan berjenjang, ditopang dengan langkah-langkah yang lincah dan tarian yang elok dan gemulai,” ujar Hari W Jayaningrat yang juga koreografer.
![]() |
| Sanggar Angon Saka Lampung. (ist) |
Sarasehan dan Workshop
Tarian Zapin merupakan salah satu dari berbagai jenis tarian Melayu yang masih ada hingga sekarang. Tarian dengan gerak kaki ini diilhamkan oleh peranakan Arab dan diketahui berasal dari Yaman, terus berkembang ke daerah-daerah sekitar Sumatera, seperti Riau.
Menurut salah satu penggagas acara koreografer Tom Ibnur dalam rilisnya mengatakan, tari Zapin telah memberi kontribusi terhadap karya baru dunia tari di Indonesia.
“Kendati pengaruh itu hanya pada gerak atau musiknya, tapi di daerah diminati dan sampai sekarang tetap bertahan,” bebernya.
Tari Zapin, imbuh, Tom Ibnur, dikenal sebagai tari pergaulan.
“Jadi, pada saat tampil tidak akan ada jarak antara penampil dan penonton. Zapin juga dapat dijadikan sarana pergaulan untuk saling mengikat secara emosi antara pulau dan provinsi di Indonesia,“ imbuh Tom.
Sedangkan sebutan Zapin umumnya dikenal di Sumatera Utara dan Riau, untuk di Jambi, Sumatera Selatan, dan Bengkulu, dengan menyebutnya Satu diambil dari Alif. Di Lampung, tarian ini diberi julukan tari Bedana. sedangkan di Jawa umumnya menyebut Zafin seperti di Malaysia.
“Gelaran Temu Zapin Nusantara ini merupakan bentuk kepedulian dan apresiasi Mendikbud dan Kemendikbud terhadap perkembangan tari Zapin yang bertumbuhkembang di Nuantara,” ujar Tom Ibnur didampingi Eri Mefri dan panitia lainnya. (desi)

