Pertemuan Jaringan Sumatra untuk Pelestarian Pusaka (Pan-Sumatera Network for Hetitage Conservation- Pansumnet) bakal dilaksanakan di Sawahlunto, Sumatera Barat, 21 -24 Oktober 2015 mendatang.
Ketua Badan Warisan Sumatra (BWS) Hendra Arbie, SE mengatakan Pertemuan Jaringan Sumatra untuk Pelestarian Pusaka 2015 ini mengusung tema Pusaka Industri (Industrial Heritage).
Lebih lanjut, Hendra mengatakan Pansumnet ini akan diikuti pemerhati pemerhati pelestarian, praktisi, insitusi pemerintah terkait dan anggota organisasi pelestarian baik dari tingkat lokal, nasional dan internasional. Sedangkan sehari sebelumnya pada tanggal 20 Oktober 2015 akan diadakan Pertemuan Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI).
Hasti Tarekat dari Heritage Hands On, Expertise and Entrepreneurship menambahkan, masing-masing peserta utusan dari daerah akan menyampaikan paper tentang gagasan atau pun pengalamannya tentang pengelolaan pusaka industri di daerahnya.
"Selain itu, peserta juga akan memberikan kontribusi menampilkan informasi baik berupa brosur, video, poster atau pun cendera mata khas daerahnya sekaitan dengan topik pusaka industri," papar Hendra.
Dalam pertemuan Pansumnet 2015 di Sawahlunto diundang dan akan hadir penggiat heritage Direktur Eksekutif Jung Foundation Lampung Heritage Christian Heru Cahyo Saputro dan Sekretaris Eksekutif Jung Foundation M.Hari W Jayaningrat dan mewakili Pemprov Lampung Staf Ahli Gubernur Lampung bidang Kebudayaan Zulkarnain Zubairi.
Dalam pertemuan Pansumnet 2015 di Sawahlunto diundang dan akan hadir penggiat heritage Direktur Eksekutif Jung Foundation Lampung Heritage Christian Heru Cahyo Saputro dan Sekretaris Eksekutif Jung Foundation M.Hari W Jayaningrat dan mewakili Pemprov Lampung Staf Ahli Gubernur Lampung bidang Kebudayaan Zulkarnain Zubairi.
Menurut Christian Heru, dalam forum ini Lampung akan menyampaikan gagasannya tentang pengelolaan wisata pusaka industry di Lampung.
“Lampung memiliki banyak potensi peninggalan pusaka industry. Ini perlu dibincangkan, disentuh dan dikembangkan destinasi wisata,” ujar Christian Heru.
Lampung, lanjut Heru, sejak sebelum era kemerdekaan di kenal sebagai daerah penghasil kopi dan lada sampai-sampai menyita perhatian kompeni untuk menguasainya. Pemerintah Hindia Belanda setelah berhasil dengan pilot proyek kolonisasi pertama di Indonesia yang dimulai tahun 1905 di Bagelen,Tataan, Belanda membuka perkebunan karet (afdeling) di sejumlah lokasi di Lampung. Untuk mendukung infrastruktur Belanda membangun jaringan kereta api dan pelabuhan. “Sejak dulu Lampung merupakan salah satu provinsi yang memiliki kegiatan industri yang beragam diantaranya; berupa perkebunan, pabrik dan industri pengolahan hasil pertanian,” imbuh Heru
Kepala Seksi PKP Bidang Kebudayaan Dinas P dan K Provinsi Lampung yang juga Sekretaris Eksekutif Jung Foundation Hari W Jayaningrat menambahkan, pusaka industri bentuk tangible di Lampung antaralain, berupa, gedung kuno di perumahan PTPN VII Kedaton, gedung-gedung tua di Way Galih, Pabrik Pematang Kiwah (Pewa) Natar, dan sejumlah area perkebunan karet dan sawit peninggalan Belanda yang kini di kelola PTPN VII, Gedung kantor Musin Dasaad Concern di jalan Kotaraja yang kini dimiliki Gereja Kristus Raja. Gedung ini merupakan tengaran dan bukti kalau Lampung sudah punya konglomerat sebelum era kemerdekaan pengusaha berdarah Menggala Agus Musin Dasaad.
Kemudian deretan gudang-gudang CV Bakrie Brothers yang berlokasi sepanjang jalan Yos Sudarso. Tentunya bisa juga dilacak dimana kantor pengusaha asal Kalianda Achmad Bakrie mengawali membangun perusahaan Bakrie Group yang kini menjadi salah satu raksasa industri di Indonesia.
Ada juga bekas Gedung Pabrik Parwitayasa Sari Petojo yang dibangun tahun 1927--- kini jadi kantor PD Wahana Raharja--. Di seputaran jalan Malahayati ada pabrik pengolahan lada dan kopi milik CV .Sumberjaya Group. Bisa jadi kalau dilacak masih banyak pabrik di kawasan Telukbetung yang direlokasi ke kawasan industri Lampung (KAIL) Tanjungbintang.
Kemudian di jalan Yos Sudarso ada pabrik milik Sungai Budi Group yang muasalnya dari CV Bumi Waras yang didirikan Inteng pada tahun 1947 dan kini berkembang PT Tunas Baru Tbk yang menambah jajaran taipan dari Lampung.
Dan perusahaan ini dikenal sebagai pelopor hasil- hasil pertanian di Indonesia. Di Kawasan Seliri, Panjang juga ada bekas pabrik sepeda PT Daya Sakti milih Gajah Tunggal Group milik Samsul Nursalim yang diresmikan Presiden Soeharto pada 9 Oktober 1975. “Pabrik sepeda ini kini mangkrak dan konon masih jadi obyek sengketa. Tentunya kalau dilacak masih banyak obyek-obyek yang bisa dijadikan destinasi wisata pusaka di Lampung,” ujar Hari.
Sementara itu,Staf Ahli Bidang Kebudayaan Gubernur Lampung Zulkarnain Zubairi, mengatakan, pertemuan Pansumnet ini sangat strategis, untuk saling tukar informasi, pengalaman dan saling belajar dari mengelola warisan budaya di daerah. “Saya juga akan hadir dalam pertemuan Jaringan Kota untuk Pelestarian Indonesia (JKPI). Ini sebuah networking yang bagus. Jadi sekembalinya dari Sawahlunto nanti akan saya sosialisasikan kepada kabupaten dan kota yang punya potensi warisan budaya untuk bergabung dalam organisasi JKPI ini biar nantinya punya jejaring untuk pengembangan pelestarian di daerah masing-masing,” ujar Udo Z Karzi panggilan karib Zulkarnain Zubairi. (*)
Kepala Seksi PKP Bidang Kebudayaan Dinas P dan K Provinsi Lampung yang juga Sekretaris Eksekutif Jung Foundation Hari W Jayaningrat menambahkan, pusaka industri bentuk tangible di Lampung antaralain, berupa, gedung kuno di perumahan PTPN VII Kedaton, gedung-gedung tua di Way Galih, Pabrik Pematang Kiwah (Pewa) Natar, dan sejumlah area perkebunan karet dan sawit peninggalan Belanda yang kini di kelola PTPN VII, Gedung kantor Musin Dasaad Concern di jalan Kotaraja yang kini dimiliki Gereja Kristus Raja. Gedung ini merupakan tengaran dan bukti kalau Lampung sudah punya konglomerat sebelum era kemerdekaan pengusaha berdarah Menggala Agus Musin Dasaad.
Kemudian deretan gudang-gudang CV Bakrie Brothers yang berlokasi sepanjang jalan Yos Sudarso. Tentunya bisa juga dilacak dimana kantor pengusaha asal Kalianda Achmad Bakrie mengawali membangun perusahaan Bakrie Group yang kini menjadi salah satu raksasa industri di Indonesia.
Ada juga bekas Gedung Pabrik Parwitayasa Sari Petojo yang dibangun tahun 1927--- kini jadi kantor PD Wahana Raharja--. Di seputaran jalan Malahayati ada pabrik pengolahan lada dan kopi milik CV .Sumberjaya Group. Bisa jadi kalau dilacak masih banyak pabrik di kawasan Telukbetung yang direlokasi ke kawasan industri Lampung (KAIL) Tanjungbintang.
Kemudian di jalan Yos Sudarso ada pabrik milik Sungai Budi Group yang muasalnya dari CV Bumi Waras yang didirikan Inteng pada tahun 1947 dan kini berkembang PT Tunas Baru Tbk yang menambah jajaran taipan dari Lampung.
Dan perusahaan ini dikenal sebagai pelopor hasil- hasil pertanian di Indonesia. Di Kawasan Seliri, Panjang juga ada bekas pabrik sepeda PT Daya Sakti milih Gajah Tunggal Group milik Samsul Nursalim yang diresmikan Presiden Soeharto pada 9 Oktober 1975. “Pabrik sepeda ini kini mangkrak dan konon masih jadi obyek sengketa. Tentunya kalau dilacak masih banyak obyek-obyek yang bisa dijadikan destinasi wisata pusaka di Lampung,” ujar Hari.
Sementara itu,Staf Ahli Bidang Kebudayaan Gubernur Lampung Zulkarnain Zubairi, mengatakan, pertemuan Pansumnet ini sangat strategis, untuk saling tukar informasi, pengalaman dan saling belajar dari mengelola warisan budaya di daerah. “Saya juga akan hadir dalam pertemuan Jaringan Kota untuk Pelestarian Indonesia (JKPI). Ini sebuah networking yang bagus. Jadi sekembalinya dari Sawahlunto nanti akan saya sosialisasikan kepada kabupaten dan kota yang punya potensi warisan budaya untuk bergabung dalam organisasi JKPI ini biar nantinya punya jejaring untuk pengembangan pelestarian di daerah masing-masing,” ujar Udo Z Karzi panggilan karib Zulkarnain Zubairi. (*)