LAMPUNG ONLINE - Indonesia tidak hanya bisa mengandalkan energi fosil saja untuk mencukupi kebutuhan listrik yang idealnya adalah 200 gigawatt. Dibutuhkan energi tambahan dalam hal ini nuklir untuk memenuhinya.
"Yang bisa dihasilkan oleh sumber daya alam sekarang yang dimiliki Indonesia baru seperempatnya atau sekira 50 gigawatt. Itu merupakan gabungan dari energi batubara, geothermal, dan hidro," ucap Anggota Dewan Energi Nasional, Tumiran, di kantor pusdiklat ESDM, Jakarta Selatan, seperti dilansir Okezone, Kamis (19/3/2014).
Padahal, menurutnya, kita tidak bisa terus mengandalkan pasokan energi tersebut terus. Karena selain cost-nya tinggi, batubara juga memiliki dampak buruk bagi lingkungan.
"Jika kita terus menggunakan batubara, dampaknya adalah penggerusan lahan dan emisi gas buang yang mencemari lingkungan," kata Tumiran.
Hal senada juga disampaikan oleh Kepala Biro Hukum Humas dan Kerjasama Batan, Totti Tjiptosumirat. Menurutnya energi nuklir dapat menyumbang sekira 40 hingga 60 gigawatt untuk memenuhi energi listrik nasional. Artinya dengan membangun tiga PLTN saja Indonesia bisa memenuhi kebutuhan listrik secara optimal untuk masyarakat dan industri.
"Ditambah lagi PLTN memiliki kelebihan yakni biaya atau cost pembangunannya yang tidak terlalu besar dibandingkan energi fosil seperti batubara dan lainnya," ucap Totti lagi. Ditambah lagi, menurutnya masa pakai PLTN yang mencapai usia 60 tahun
"PLTN bisa beroperasi selama 13 bulan nonstop. Setelah itu rehat 3 bulan untuk penggantian bahan bakar, kemudian bisa jalan lagi," lanjutnya. Terlebih lagi, Indonesia sudah sangat membutuhkan energi listrik tersebut untuk mendorong kemajuan industri dan perekonomian.
"Yang menghambat pembangunan PLTN sekarang ini bukan lagi ketakutan akibat bocornya pembangkit tersebut, melainkan political will pemerintah," beber Tumiran. (*)
