MADURA - Sumur bor di Dusun Bujugan Desa Pamoroh, Kecamatan Kadur, Kabupaten Pamekasan, Madura, bukannya mengeluarkan air seperti lazimnya sumur bor lainnya. Sumur bor berkedalaman 110 meter milik Zuhri, warga setempat, malah menyemburkan api layaknya kompor gas LPG.
Walhasil, Zuhri mengalihkan pemanfaatan sumur bor itu. Tidak lagi dijadikan sumber air, melainkan dimanfaatkan sebagai kompor untuk memasak makanan dan merebus air.
"Jika pemerintah meminta untuk menutup sumur api ini, saya akan tegas menolaknya. Sumur api ini bukan bencana, tapi sebaliknya membagi keberuntungan bagi saya dan tetangga," papar Zuhri saat ditemui di lokasi, Kamis (24/12/2014).
Sumur api itu sendiri ditemukan Zuhri secara tidak sengaja. Sebelum menggali sumur bor, Zuhri mendapat pesan dari Toha dan Mahmudah, anak dan menantunya yang bekerja di Malaysia sebagai TKI (Tenaga Kerja Indonesia).
"Rumah pesanan anak mantu saya hampir selesai tinggal finishing. Itu sebabnya, saya memanggil tukang sumur bor untuk membuat sumur sebagai sumber air rumah anak saya itu. Bukannya air yang didapati, malah api jinak yang menyembur," terang Zuhri.
Sebenarnya sumur bor itu berhasil memuncratkan air. Namun, kata Zuhri, air sumur bor itu mengeluarkan aroma tak sedap. Akrhinya Zuhri memutuskan memperdalam dasar sumur dan dibor hingga berkedalaman 110 meter.
"Setelah diperdalam itulah sumur malah menyemburkan api. Anehnya lagi, air yangsempat muncrat malah berhenti berganti lidah api. Karena tidak berbahaya, lidah api di mulut sumur itu saya manfaatkan sebagai bahan bakar memasak," ucapnya.
Zahri kemudian mencari akal untuk menampung lidah api atau semburan gas alam itu kedalam tabung besi besar dan akan disalurkan kepada tetangga yang berminat dengan gas alam yang keluar dari sumur milik Zuhri itu.
"Saya akan membeli tabung besi bekas tukang las dan akan saya tanam di mulut sumur untuk menampung gas alam itu. Jika ada tetangga yang berminat, saya akan slaurkan lewat selang regulator kompor gas," paparnya, seperti dilansir skalanews.com.
Ide memasang tabung besi itu didapat Zuhri dari pengalamannya berkunjung ke Desa Kertagenah Tengah, Kecamatan Kadur yang berjarak 4 Km dari rumah Zuhri. Di Desa Kertagenah Tengah itulah, ada seorang warga yang juga memiliki sumur gas alam yang tetap menyembur hingga sekarang dan dimanfaatkan untuk bahan bakar kompor gas.
"Sumur gas alam di Kertagenah Tengah itu dimanfaatkan oleh delapan keluarga dan satu warung kopi. Saya akan bikin sumur gas alam milik saya itu untuk dijadikan bahan bakar serupa," pungkasnya. (*)
