Notification

×

Lampung Selatan Ingin Gunung Anak Krakatau Jadi Objek Wisata

22 December 2014 | 15:00 WIB Last Updated 2016-07-31T11:39:59Z
(istimewa)

LAMPUNG SELATAN -
Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda yang secara geografis masuk wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Lampung, telah dikenal dunia internasional. Gunung Anak Krakatau merupakan kawasan cagar alam laut, sisa dari letusan Gunung Krakatau (induknya) pada 1883 silam.

Namun, anak gunung api di dalam laut itu, menurut para ahli geologi dan para peneliti, ternyata terus saja tumbuh ke atas dan ke samping sehingga makin besar dan tinggi. Aktivitas kegunungapiannya pun terus berlangsung, termasuk suksesi alam berupa flora dan fauna di lingkungan sekitarnya.

Rombongan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Lampung Selatan bersama agen biro perjalanan dan pengusaha pariwisata dari Jakarta serta kelompok sadar wisata daerah setempat, berkunjung dan sampai di Pulau Sebesi, setelah melakukan perjalanan laut selama kurang lebih 1,5 jam dari Dermaga Canti Kalianda, pada Rabu (17/12/2014), seperti dilansir bisnis.com, Minggu (21/12/2014).

Tujuan mereka ingin melihat langsung pesona GAK serta potensi wisata lainnya di wilayah itu.

Gunung Anak Krakatau sebenarnya bukan sekadar kawasan wisata biasa, melainkan juga menyandang fungsi sebagai cagar alam. Anak Krakatau sangat berharga bagi ilmu pengetahuan karena kemunculan gejala gunung berapi dari dalam laut merupakan fenomena sangat langka di dunia.

Namun, untuk mencapai GAK, apalagi melakukan aktivitas di lereng dan lingkungan sekitarnya, pengunjung harus memiliki surat izin masuk kawasan konservasi (Simaksi) dari Balai Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) setempat.

Hanya empat tujuan seseorang diperbolehkan menginjakkan kaki di kawasan Gunung Anak Krakatau, yaitu melakukan penelitian, pendidikan, pengembangan pengetahuan dan penunjang budi daya.

Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan mengusulkan kepada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk mengubah status sebagian kawasan cagar alam laut gugusan GAK di Selat Sunda ini menjadi taman wisata.

Kepala Dinas Kehutanan Lampung Selatan (Lamsel) Priyanto Putro mengatakan, rancangan usulan segera dikirimkan kepada Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya. Tujuannya untuk meningkatkan fungsi sebagian kawasan cagar alam laut gugusan Gunung Anak Krakatau tersebut.

Menurutnya, perlu legalisasi bagi pengunjung yang bersifat khusus, lokal, asing atau untuk tujuan penelitian yang memasuki kawasan GAK.

"Artinya, dalam observasi dan wisata, tidak ada tujuan lain," ujarnya.

Ia menyebutkan, kawasan tersebut memiliki potensi dan daya tarik wisata yang besar. Seperti Pulau Sertung yang mememiliki potensi air laut yang bersih dan tempat berkembang biak penyu langka. Serta Pulau Rakata yang memiliki terumbu karang, goa bawah laut, dan Pulau Panjang yang terdapat goa peninggalan Jepang.

"Titik kawasan cagar alam laut gugusan Gunung Anak Krakatau memiliki potensi wisata goa bawah laut, terumbu karang serta dapat dijadikan lokasi diving dan snorkeling bagi para wisatawan," tuturnya.
(istimewa)

Priyanto menambahkan, kawasan cagar alam laut gugusan Gunung Anak Krakatau yang masuk dalam kawasan kepulauan di Provinsi Lampung itu, selama ini sebagian besar hanya dinikmati oleh wisatawan yang berkunjung melalui Pulau Jawa khususnya dari Provinsi Banten.

Banyak wisatawan yang datang ke GAK saat ini, dengan alasan akses dan rute untuk mencapainya cukup mudah, melalui Pelabuhan Canti di Kalianda Lampung Selatan. Dari Pelabuhan Bakauheni hanya perlu waktu satu jam untuk mencapai Pelabuhan Canti Kalianda, pelabuhan nelayan yang terdekat dengan kawasan Anak Krakatau.

Wisatawan dari Canti menyeberang ke Pulau Sebesi, pulau berpenghuni terdekat dengan Krakatau, menggunakan perahu sewaan, Anak Krakatau dapat ditempuh selama kurang lebih dua jam dari Pulau Sebesi.

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Lampung Herlina Warganegara menyebutkan, pihaknya akan membentuk tim teknis untuk merumuskan upaya mempercepat pembangunan serta meningkatkan kunjungan wisata ke setiap destinasi wisata di Provinsi Lampung.

"Rumusan ini akan melibatkan seluruh sektor baik instansi pemerintah maupun holding wisata di Lampung, untuk memaksimalkan perkembangan dunia ini," kata dia.

Diharapkan, dengan berbagai langkah dijalankan jajaran pemerintah pusat, pemerintah daerah di Lampung maupun Kabupaten Lampung Selatan, didukung sektor swastanya, kawasan Anak Gunung Krakatau akan makin mendunia dan membuat Provinsi Lampung terkenal sebagai destinasi wisata andalan dunia. (*)