LAMPUNG
SELATAN - Pada musim kemarau kali ini warga di Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan (Lamsel)
justru melakukan panen raya jagung. Ratusan hektar
lahan jagung milik petani di Desa Klaten, Kecamatan Penengahan itu mampu menghasilkan jagung dengan kualitas cukup bagus, dengan kadar air
sedikit di musim kemarau ini.
Panen raya yang diadakan
di Desa Klaten tersebut juga dihadiri oleh para petani dari berbagai kabupaten se-Lampung, diantaranya dari Kabupaten Pesawaran, Kabupaten Lampung Timur, dan
Kabupaten Lampung Tengah yang rata rata merupakan petani jagung.
Menurut
Kepala Unit Pelaksana Tekhnis Dinas Pertanian Kecamatan Penengahan
Lampung Selatan Parmin, Kecamatan Penengahan merupakan salah satu daerah
yang memiliki ladang jagung cukup luas. Bahkan disaat di daerah lain
kekeringan dan sulit untuk menanam jagung, justru di daerah Kecamatan
Penengahan masih bisa menanam jagung.
"Faktor sarana
irigasi yang memadai menjadi kelebihan di Kecamatan Penengahan yang
berada di kaki Gunung Rajabasa. Kita masih bisa menanam tanaman jagung
dengan kualitas baik bahkan pada musim kemarau seperti sekarang ini,"
ungkap Parmin saat pelaksanaan panen raya jagung di Dusun Sidodadi Desa
Klaten Kecamatan Penengahan, Selasa (14/10/2014).
Menurut
Parmin, varietas tanaman jagung yang ditanam di lahan Desa Klaten,
Gandri, Pasuruan rata rata menggunakan bibit jenis hibrida. Jenis jagung
tersebut ungkap Parmin memiliki ketahanan terhadap cuaca panas, tahan
hama, masa panen singkat , serta relatif tahan hama. Bahkan pada usia 90
hari atau maksimal 110 hari jagung tersebut sudah bisa dipanen.
"Jagung
yang bagus memiliki kandungan rendemen tinggi atau kadar air cukup
sedikit dan memiliki bobot yang berat sehingga petani bisa merasakan
hasilnya jika dijual jagung pitilan dengan ditimbang, " ujar Parmin.
Sementara
itu salah satu petani jagung Hendrik mengungkapkan, lahan jagung
miliknya hampir mencapai setengah hektar. Lahan seluas itu ditanaminya
dengan bibit 8 kilogram jagung. Pada musim tanam sebelumnya ia mengaku
mampu menghasilkan jagung sebanyak 80 karung. Sementara untuk panen kali
ini di luasan lahan setengah hektar diperkirakan mampu menghasilkan
sebanyak 100 karung.
"Bibit jenis hibrida yang saya
tanam memiliki tongkol yang cukup besar. Beruntung rata rata tanaman
jagung yang saya tanam tubuh semua dan bisa panen, " ujar Hendrik.
Selain
Hendrik warga di Desa Klaten juga menanam jagung jenis Hibrida. Bahkan
di ladang yang luasannya mencapai lebih dari 100 hektar untuk tanaman
jagung saat ini dengan harga per kilogramnya mencapai Rp 2.800, bisa
menutupi kebutuhan saat para petani tak bisa menanam padi. Jagung hasil
panennya tersebut dijual setelah digiling dengan harga jual mencapai Rp
280 ribu per kuintalnya kepada pengepul jagung yang akan menjualnya ke
pabrik pengolahan jagung.
"Kami kan tak bisa menanam
padi karena debit air yang berkurang meski irigasi mencukupi sehingga
kami beralih ke jagung. Tapi syukurlah hasil panen jagung bisa kami
gunakan untuk kebutuhan kami sehar hari karena hasil tanaman padi
kurang, " ujar Hendrik.
Sementara menurut salah satu
marketing penjualan benih jagung dari PT Advanta Seeds Indonesia untuk
wilayah Penengahan , Heri Kuswanto, bibit jagung jenis Hibrida yang
ditanam oleh sebgaian besar petani lebih dipilih karena memiliki
beberapa keunggulan diantaranya bertongkol besar, potensi hasil 13, 5
ton/ hektar, rendemen tinggi, batang kuat, umur panen lebih singkat. (Henk Widi)
