Notification

×

Panen Jagung, Petani Kabupaten se-Lampung Serbu Lamsel

14 October 2014 | 20:37 WIB Last Updated 2016-07-31T11:39:59Z

LAMPUNG SELATAN - Pada musim kemarau kali ini warga di Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan (Lamsel) justru melakukan panen raya jagung. Ratusan hektar lahan jagung milik petani di Desa Klaten, Kecamatan Penengahan itu mampu menghasilkan jagung dengan kualitas cukup bagus, dengan kadar air sedikit di musim kemarau ini.

Panen raya yang diadakan di Desa Klaten tersebut juga dihadiri oleh para petani dari berbagai kabupaten se-Lampung, diantaranya dari Kabupaten Pesawaran, Kabupaten Lampung Timur, dan Kabupaten Lampung Tengah yang rata rata merupakan petani jagung.

Menurut Kepala Unit Pelaksana Tekhnis  Dinas Pertanian  Kecamatan Penengahan Lampung Selatan Parmin, Kecamatan Penengahan merupakan salah satu daerah yang memiliki ladang jagung cukup luas. Bahkan disaat di daerah lain kekeringan dan sulit untuk menanam jagung, justru di daerah Kecamatan Penengahan masih bisa menanam jagung.

"Faktor sarana irigasi yang memadai menjadi kelebihan di Kecamatan Penengahan yang berada di kaki Gunung Rajabasa. Kita masih bisa menanam tanaman jagung dengan kualitas baik bahkan pada musim kemarau seperti sekarang ini," ungkap Parmin saat pelaksanaan panen raya jagung di Dusun Sidodadi Desa Klaten Kecamatan Penengahan, Selasa (14/10/2014).

Menurut Parmin, varietas tanaman jagung yang ditanam di lahan Desa Klaten, Gandri, Pasuruan rata rata menggunakan bibit jenis hibrida. Jenis jagung tersebut ungkap Parmin memiliki ketahanan terhadap cuaca panas, tahan hama, masa panen singkat , serta relatif tahan hama. Bahkan pada usia 90 hari atau maksimal 110 hari jagung tersebut sudah bisa dipanen.

"Jagung yang bagus memiliki kandungan rendemen  tinggi atau kadar air cukup sedikit dan memiliki bobot yang berat sehingga petani bisa merasakan hasilnya jika dijual jagung pitilan dengan ditimbang, " ujar Parmin.

Sementara itu salah satu petani jagung Hendrik mengungkapkan, lahan jagung miliknya hampir mencapai setengah hektar. Lahan seluas itu ditanaminya dengan bibit 8 kilogram jagung. Pada musim tanam sebelumnya ia mengaku mampu menghasilkan jagung sebanyak 80 karung. Sementara untuk panen kali ini di luasan lahan setengah hektar diperkirakan mampu menghasilkan sebanyak 100 karung.

"Bibit jenis hibrida yang saya tanam memiliki tongkol yang cukup besar. Beruntung rata rata tanaman jagung yang saya tanam tubuh semua dan bisa panen, " ujar Hendrik.

Selain Hendrik warga di Desa Klaten juga menanam jagung jenis Hibrida. Bahkan di ladang yang luasannya mencapai lebih dari 100 hektar untuk tanaman jagung saat ini dengan harga per kilogramnya mencapai Rp 2.800, bisa menutupi kebutuhan saat para petani tak bisa menanam padi. Jagung hasil panennya tersebut dijual setelah digiling dengan harga jual mencapai Rp 280 ribu per kuintalnya kepada pengepul jagung yang akan menjualnya ke pabrik pengolahan jagung.

"Kami kan tak bisa menanam padi karena debit air yang berkurang meski irigasi mencukupi sehingga kami beralih ke jagung. Tapi syukurlah hasil panen jagung bisa kami gunakan untuk kebutuhan kami sehar hari karena hasil tanaman padi kurang, " ujar Hendrik.

Sementara menurut salah satu marketing penjualan benih jagung dari PT Advanta Seeds Indonesia untuk wilayah Penengahan , Heri Kuswanto, bibit jagung jenis Hibrida yang ditanam oleh sebgaian besar petani lebih dipilih karena memiliki beberapa keunggulan diantaranya bertongkol besar, potensi hasil 13, 5 ton/ hektar, rendemen tinggi, batang kuat, umur panen lebih singkat. (Henk Widi)