SUMATERA BARAT - Anggota DPRD Kota Bukittinggi, Sumatera Barat akan mengumpulkan semua pihak, terkait penganiayaan terhadap salah seorang siswi SD Perwari. Ini dilakukan untuk mengungkap kebenaran kronologi kekerasan tersebut, karena anggota dewan menemukan sejumlah kejanggalan.
Saat melakukan kunjungan ke SD Perwari hari ini, sejumlah anggota dewan bertemu dengan kepala sekolah Evawani Sovia. Laporan kepala sekolah, saat DAN (12) dianiaya teman-temannya di dalam kelas, ada guru yang mengajar.
Keterangan itu berbeda dengan yang disampaikan oleh seorang siswa ketika ditanya oleh Nur Idris, salah seorang anggota dewan yang datang ke sekolah. Siswa tersebut mengaku guru yang mengajar sedang keluar ruangan karena dipanggil kepala sekolah.
“Kami belum dapat menyimpulkan, karena kami datang hari ini berdasarkan pemberitaan media massa. Hasil keterangan yang disampaikan kepala sekolah dan siswa berbeda,” ujar Nur Idris saat diwawancari wartawan, Senin (13/10/2014).
Menurutnya, kedatangan anggota dewan ke SD Perwari merupakan yang kedua kalinya. Sebelum berita penganiayaan jadi pemberitaan nasional, pihak sekolah mengaku kepada anggota dewan yang pertama datang bahwa kejadian itu hanya main-main.
“Sebelumnya DPRD sudah melakukan investigasi ke sekolah ini, namun penjelasannya berbeda dengan kejadian yang sudah terugkap di media massa sekarang. Berbedanya dulu kepada dewan yang datang, dikatakan bahwa itu hanya main-main saja,” ungkapnya, seperti dilansir okezone.com.
Dia pun menyangkan sikap sekolah yang terkesan menutupi penganiayaan tersebut. Pasalnya, kejadian yang menimpa DAN merupakan tindakan bully yang dapat mengganggu psikologis. Selain itu, bila tidak segera ditangani, kasus penganiayaan di sekolah akan terus terjadi.
“Tidak ada istilah anak nakal, yang ada itu kita salah mengasuh, salah membuat kebijakan atau belum tepat pemerintah daerah membuat kebijakan terutama soal pendidikan berkarakter. Kami akan tuntut pendidikan berkarakter yang didengung-dengungkan kan oleh dinas pendidikan,” pungkasnya. (*)
