LAMPUNG SELATAN - Masyarakat Hindu Bali di Desa Balinuraga, Kecamatan Way Panji, Lampung Selatan akan mengadakan upacara pembakaran mayat (ngaben) secara massal, Jumat (8/8/2014).
Sebanyak 112 kerangka jenazah orang dewasa dan 238 anak-anak akan dikremasi pada acara Pitra Yadnya di Pura Dalam di desa tersebut.
Upacara ini bertujuan menyucikan diri roh yang telah meninggal untuk menuju ke tempat peristirahatan yang terakhir.
Pande Wayan Gambar atau Mangku Bumi Raksa (60), selaku koordinator kegiatan Pitra Yadnya mengatakan, ngaben massal ini bertujuan menolong masyarakat hindu untuk melakukan prosesi dengan biaya murah.
Upacara ini bertujuan menyucikan diri roh yang telah meninggal untuk menuju ke tempat peristirahatan yang terakhir.
Pande Wayan Gambar atau Mangku Bumi Raksa (60), selaku koordinator kegiatan Pitra Yadnya mengatakan, ngaben massal ini bertujuan menolong masyarakat hindu untuk melakukan prosesi dengan biaya murah.
Karena dengan mengadakan ngaben secara massal, lanjut dia, biayanya akan ditanggung bersama-sama. Masyakat Hindu Bali yang mengikuti kegiatan ini tidak hanya berasal dari Lampung, tetapi ada yang dari Bengkulu, Sumatera Selatan dan Jambi.
"Dengan ngaben massal, biaya ditanggung bersama," kata Mangku Bumi Raksa kepada Lampungonline.com, Kamis (7/8/2014).
Dikatakannya, upacara Ngaben ini dianggap sangat penting bagi umat Hindu Bali, karena merupakan perwujudan dari rasa hormat dan sayang dari orang yang ditinggalkan, juga menyangkut status sosial dari keluarga dan orang yang meninggal.
"Ada tiga tingkatan Niste, Madye dan Utame, yang masing-masing ada tiga tingkatan lagi, jadi seluruhnya ada sembilan," ujarnya.
Dengan Ngaben, sambung Mangku Bumi Raksa, keluarga yang ditinggalkan dapat membebaskan roh atau arwah dari perbuatan yang pernah dilakukan di dunia dan menghantarkannya menuju surga abadi dan kembali bereinkarnasi lagi dalam wujud yang berbeda.
"Ada beberapa prosesi upacara, terdiri dari berbagai macam sesajen yang dibubuhi simbol-simbol dan diberi mantera," jelasnya.
Sementara itu, Made Tarsona (36) seorang peserta ngaben asal Kabupaten Tulangbawang mengatakan, dia sengaja datang ke desa Balinuraga karena ingin mengabenkan kerangka jenazah ibunya yang meninggal empat bulan lalu.
"Dengan ngaben massal, biaya ditanggung bersama," kata Mangku Bumi Raksa kepada Lampungonline.com, Kamis (7/8/2014).
Dikatakannya, upacara Ngaben ini dianggap sangat penting bagi umat Hindu Bali, karena merupakan perwujudan dari rasa hormat dan sayang dari orang yang ditinggalkan, juga menyangkut status sosial dari keluarga dan orang yang meninggal.
"Ada tiga tingkatan Niste, Madye dan Utame, yang masing-masing ada tiga tingkatan lagi, jadi seluruhnya ada sembilan," ujarnya.
Dengan Ngaben, sambung Mangku Bumi Raksa, keluarga yang ditinggalkan dapat membebaskan roh atau arwah dari perbuatan yang pernah dilakukan di dunia dan menghantarkannya menuju surga abadi dan kembali bereinkarnasi lagi dalam wujud yang berbeda.
"Ada beberapa prosesi upacara, terdiri dari berbagai macam sesajen yang dibubuhi simbol-simbol dan diberi mantera," jelasnya.
Sementara itu, Made Tarsona (36) seorang peserta ngaben asal Kabupaten Tulangbawang mengatakan, dia sengaja datang ke desa Balinuraga karena ingin mengabenkan kerangka jenazah ibunya yang meninggal empat bulan lalu.
Untuk biaya ngaben secara massal, lanjut dia, peserta hanya cukup membayar uang Rp 5 juta ke panitia dengan semua perlengkapan termasuk sesajen sudah disiapkan.
"Saya sengaja datang mau mengabenkan jenazah ibu. Dengan ngaben massal lebih hemat biaya," katanya. (Henk Widi)
"Saya sengaja datang mau mengabenkan jenazah ibu. Dengan ngaben massal lebih hemat biaya," katanya. (Henk Widi)
