JAKARTA - Jumlah orang yang melintasi Selat Sunda pada musim mudik pekan lalu dipastikan meningkat dibanding tahun lalu dan diprediksi akan terus meningkat di masa mendatang, sehingga keberadaan selat yang menghubungkan Pulau Jawa dan Sumatera itu semakin penting.
Berdasarkan data dari PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP) Cabang Bakauheni, sebanyak 631.917 orang menyeberang ke Sumatera saat arus mudik menjelang Lebaran 2014. Sedangkan kendaraan roda dua yang digunakan untuk mudik sebanyak 63.546 unit dan untuk kendaraan roda empat 61.686 unit.
Sedangkan data yang dipublikasi PT ASDP Cabang Merak (Banten) menyebutkan bahwa saat ini penumpang yang sudah kembali ke Pulau Jawa sekitar 70 persen atau 829.740 orang. Jumlah itu meningkat 12.094 orang dibanding tahun 2013 mencapai 817.646 orang. Sedangkan, jumlah kendaraan roda empat tercatat 83.786 unit atau meningkat 5.236 unit dari lebaran tahun lalu mencapai 78.550 unit.
PT ASDP Merak mengoperasikan 28 kapal roll of roll on (roro) dengan target perjalanan dan penyeberangan sebanyak 94 trip. Selain itu kegiatan bongkar muat kapal yang bersandar di dermaga pelabuhan dipercepat dari sebelumnya 60 menit menjadi 30 menit. Kapal feri memuat dan membongkar angkutan di lima dermaga.
Pelabuhan Penyeberangan Merak-Bakauheni yang dibangun sejak 1980 dan mulai beroperasi tahun 1983 itu dalam kesehariannya juga merupakan salah satu jalur penyeberangan tersibuk di Indonesia. Selain orang dan kendaraan, jalur pelayaran sepanjang 10 mil laut ini pun menjadi urat nadi arus pengiriman barang antardua pulau.
Satu saja dermaga rusak, terjadi antrean panjang kendaraan. Kalau terjadi hal ini, truk pengangkut barang yang harus "dikalahkan", kecuali angkutan sembako. Antrean truk juga mudah memanjang ketika ada cuaca buruk di perairan itu.
Berbagai langkah pemerintah telah dilakukan untuk mengantisipasi perkembangan ekonomi dan mobilitas penduduk di kedua pulau. Antara lain, penambahan jumlah dermaga, jumlah kapal dan pembangunan sarana, seperti lapangan parkir untuk kendaraan yang masuk areal pelabuhan.
Karena itu, jika mengamati kedua pelabuhan saat arus mudik dan arus balik, selalu saja tampak ada penambahan bangunan dan sarana lainnya di sana. Sepertinya penambahan sarana tidak "habis-habisnya" dibangun.
Beberapa tahun lalu di masing-masing pelabuhan yang berada di ujung dua pulau ini dibuka pelayanan penumpang (orang) dengan kapal cepat. Dengan kapal cepat, perjalanan mengarungi Selat Sunda hanya 30-45 menit. namun pengoperasian kapal cepat dihentikan dengan berbagai alasan.
Mungkin saja kapal cepat mengganggu "load factor" kapal feri karena semakin banyak penumpangnya dibanding harus naik kapal besar yang rata-rata tiga jam. Naik kapal cepat memenag lebih mahal tiketnya, tetapi perjalanan begitu cepat.
Selain pembangunan sarana dan infrastruktur dilakukan, ada beberapa wacana dan rencana pemerintah terkait masa depan pendayagunaan potensi ekonomi Selat Sunda. salah satunya pembangunan Jembatan Selat Sunda (JSS) . Pernah pula muncul wacana dibangun terowongan bawah laut, tetapi tampaknya pembangunan jembatan lebih menguat.
Wacana dan rencana pemerintah seolah silih berganti, antara penguatan infrastruktur untuk pelayanan dengan JSS. Belakangan muncul lagi wacana tol laut yang berbeda sama sekali dengan sebuah jembatan beton, seperti JSS.
Semakin Lama
Wacana dan rencana pembenahan atau pembangunan infrastrutur apapun di Selat Sunda hingga kini terus berlangsung dan tidak mempengaruhi keadaan. Yang ada adalah adanya jangka waktu penumpang yang lama di kapal.
KMP Menggala beranjak dari Pelabuhan Merak pada 28 Juli 2014 pukul 11.00 WIB dan tiba di Bakauheni langsung menurunkan muatan pukul 13.00 WIB. kendaraan dan penumpang pun penuh.
Tetapi KMP Felisia berlayar dari Bakauheni pada Sabtu (2/8) pukul 12.15 WIB dengan memuat penuh kendaraan pribadi dan penumpang berjubel di semua sisi kapal. Kapal tampak "ngebut" hingga dalam satu jam saja sudah mendekati Melabuhan Merak.
Tetapi kapal berhenti dan terapung-apung menunggu giliran merapat di dermaga 1 Merak.Kapal baru bisa merapat dan membongkar muatan pukul 15.15 WIB. Petugas kapal memberitahu kapal kapal mereka harus menunggu kapal di depannya memuat dan membongkar muatan.
Hal-hal seperti itu (perbedaan rentang waktu penumpang harus di kapal) sering terjadi. Bahkan ada yang sampai empat jam baru bisa turun dari kapal. Pada 1992-1996, persoalan tersebut sudah didengungkan dan pemerintah pun merespons dengan berbagai langkah.
Sebut saja upaya Menteri Perhubungan Kabinet Pembangunan VI (1993-1998) Haryanto Dhanutirto (alm). Dalam suatu kunjungan kerja ke Pelabuhan Bakauheni mengemukakan bahwa pemerintah akan meningkatkan pelayanan bagi masyarakat (penumpang) dengan meremajakan kapal. Kapal-kapal yang ada (waktu itu) dinilai banyak yang sudah tua dan harus diremajakan.
Jumlah kapal yang ada waktu itu sekitar 20-an dengan kecepatan rata-rata 7-8 knot. Untuk mengantisipasi meningkatnya arus barang dan orang di kedua pulau, pemerintah minta kecepatan ditingkatkan menjadi 12 knot.
Tujuan dari peremajaan adalah menjamin keselamatan pelayanan. Sedangkan peningkatan kecepatan dilakukan untuk mempercepat pelayanan. Namun hingga kini pelayaran di selat itu tetap saja dikeluhkan karena tidak semakin cepat, tetapi justru semakin terasa lebih lama karena kapal harus "ngetem" menunggu giliran sandar di pelabuhan.
Keadaan seperti itu menumbuhkan pemikiran dan keinginan dari kalangan penumpang dan pengguna jasa penyeberangan mengenai perlunya segera dibangun jembatan. Tetapi tampaknya harapan untuk mewujudkan jembatan masih belum jelas kapan akan terwujud, meski kajian (kabarnya) telah dilakukan.
Menteri BUMN Dahlan Iskan meminta segera dibangun Jembatan Selat Sunda (JSS) dan BUMN siap. Namun keinginan itu belum terwujud hingga kini karena--mungkin--alokasi anggaran. Terakhir justru Menko Perekonomian Chairul Tandjung menyampaikan bahwa pemerintah akan memindahkan Pelabuhan Merak ke lokasi lain yang lebih luas sehingga bisa dibangun 10 dermaga. Sedangkan Pelabuhan Bakauheni tetap tidak dipindah, hanya perlu penambahan dermaga hingga 10 buah.
Menurut Menko ketika meninjau Pelabuhan Merak saat arus mudik, pemerintah mampu membangun pelabuhan itu menjadi bertarap internasional. Bahkan rencana pemindahan itu sudah dirancang dalam APBN 2015 melalui studi kelayakan. Dengan demikian sekitar 2-3 tahun mendatang rencana pemindahan Pelabuhan Merak bisa dilakukan.
Rencana pemindahan Pelabuhan Merak ini merupakan kabar terbaru mengingat selama ini yang terdengung lebih banyak JSS. Begitu juga peremjaaan kapal dan peningkatan kecepatan laju kapal seolah tenggelam di tengah menyeruaknya informasi terkait JSS.
Infomasi soal JSS yang membahana tampaknya lebih menarik perhatian ketimbang hal lain yang terkait Selat Sunda. Apalagi informasi mengenai JSS berseliweran dengan informasi pembangunan tol Sumatera. Semakin sering diberitakan di media, semakin menggetarkan harga tanah di Lampung dan Banten.
Informasinya berseliweran antara jadi atau tidak JSS dibangun. Isunya timbul-tenggelam, kadang muncul kemudian tidak terlihat karena terhalang gelombang, seperti Merak dan Bakauheni yang terlihat dari KMP Felisia dan KMP Menggala saat di tengah Selat Sunda.
Karena itu, pemerintah perlu memperjelas informasi kepada publik mengenai "grand design" pemanfaatan dan pengembangan Selat Sunda; pilihan mana yang akan lebih diutamakan apakah pemindahan Pelabuhan Merak, peningkatan kapasitas yang ada atau pembangunan Jembatan Selat Sunda (JSS).
Dengan demikian, publik akan melihat adanya kemajuan dan keseriusan, bukan hanya wacana-wacana dan rencana-rencana.
sumber